Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

Sastra di Penghujung Tahun #3

Guru Terbaik  Oleh: Corazon*     clipartoons.com       Kalau hanya sebuah seragam necis sebagai identitas Pengajaran dengan menyalurkan ilmu sebagai rutinitas Menghidupkan peradaban yang manusia Disebuat sebagai guru? Lemabaga pendidikan yang identik Memberi nilai sebagai evaluasi Sebagai tanda kemajuan zaman Apakah itu guru? Mengertilah pada setiap peserta didik Segala aspek kehidupannya Bantulah kesusahannya Pergilah pada setiap mimpinya Hadirlah sebagai sosok orangtua keduanya Jadilah guru Yang meniadakan lambaian tangan padanya Akan selalu terkenang sebabagai guru hebat Gurunya orang hebat Tanpamu tidak akan mengerti apa itu manusia?       *Crew LPM Paradigma

Sastra di Penghujung Tahun #2

Guru   Oleh: Mayasari*   bobbyvoicu.com   Mungkin semua orang bisa menjadi dirimu Mungkin semua orang bisa berpenampilan sepertimu Dan mungkin semua orang bisa dengan mudah diberi gelar dengan namamu Tapi...itu dulu sebelum aku tahu Dan kini aku aku mengerti Menjadi dirimu bukanlah hal mudah Perlu sebuah ilmu-ilmu untuk menjadi dirimu yang baik Sungguh..kesusahpayahan telah kau lalui Kini pengabdian yang kau jalani Dan semoga kelak keabadian yang kau dapatkan Serta balasan kebahagiaan di surga-Nya nanti         *Crew LPM Paradigma  

Sastra di Penghujung Tahun #1

Diskrepansi Oleh : Savika Pulung Iswari*       deapratini.files.wordpress.com   Kota Gudeg, 29 November 2017         Aku rindu Rasa sesak karna goresan dari setiap kapur Penghapus berbulu beralas kayu Yang kau ketuk sebagai tanda kami harus diam Dahulu sepeda ontel kau kayuh, tak peduli jarak yang ditempuh Kau menyapa kami, dan mengajak kami bersama Kini kepulan asap dari kendaraan roda dua melewati kami Kini kendaraan roda empat berbalut merek dan kaca jendela Membuatmu tak melihat kami Dahulu setiap pagi aku takut ketika kau menyusuri setiap meja dan memeriksa tugas kami Kini kau tak perlu lagi? Ada email,   flashdisk yang mengurangi rasa takut kami Dahulu kau selalu tersenyum bercanda dan bergerak silih berganti Namun sekarang cukup dengan laptop, lcd, kabel, proyektor Kau awasi kami dibalik benda mati itu Bukannya naif ini hanyalah realita Yang kami benturkan karna rasa prihatin ka...