Langsung ke konten utama

Opini

Lemahnya Budaya Menulis Mahasiswa
Oleh : Sugeng Fitri Aji
Mahasiswa adalah kaum intelektual yang menjadi aset penting generasi penerus bangsa dan Negara. Peran mahasiswa sangatlah tinggi, seperti halnya dalam perjuangan kemerdekaan, sejak dahulu pada masa penjajahan perjuangan gerakan mahasiswa memberi arti penting dan positif terhadap kemerdekaan RI, melalui berbagai aksi lewat tulisan atau pun tindakannya. Menyandang peran kaum intelektual adalah sebuah beban berat yang dipikul oleh mahasiswa. Karena kita dituntut untuk memberikan kontribusi pikiran, ide, dan gagasan demi kemajuan Indonesia. Menilik sejarah kebelakang, dulu banyak tokoh mahasiswa yang aktif dan produktif dalam dunia penulis, jurnalistik bahkan sastra, contohnya seperti W.S Rendra, Ki Hajar Dewantara, dan Moh.Hatta. Mereka semua adalah mahasiswa yang dulunya pandai menuangkan kritikan, ide dan gagasannya lewat menulis. Banyak karya dari mereka yang sekarang bisa kita jumpai dan pelajari bersama.
Tapi mengapa, pada era sekarang kehidupan mahasiswa hanya sebagai konsumen dan selalu menginginkan “instan” dalam mencapai sesuatu. Malahan lebih menyedihkan lagi, kita sekarang jarang menjumpai mahasiswa yang budayanya senang membaca dan menulis. Perlu diketahui bahwa fase degradasi budaya menulis dan membaca mahasiswa bukanlah datang dengan sendiri, melainkan ada faktor-faktor luar yang mempengaruhinya. Di antaranya adalah Pertama, budaya di perguruan tinggi tidak mampu membentuk mahasiswa yang kritis dan produktif, hal ini dikarenakan budaya perguruan tinggi hanya menitikberatkan pada dunia kognitif dan pengetahuan teori-teori belaka. Jarang mahasiswa dituntut untuk melakukan peneltian dan analisis sosial yang terjadi disekitarnya. Sehingga, sedikit demi sedikit budaya membaca dan menulis mulai usang dalam realitas kehidupan mahasiswa.
Kedua, kurangnya fasilitas buat mahasiswa untuk menunjang budaya membaca dan menulis, semisal contonya di setiap Fakultas atau Jurusan jarang perguruan tinggi yang menyediakan ruang perpustakaan, sehingga kebanyakan mahasiswa lebih asyik nongkrong dikantin sambil menggosip. Ketiga, karena kurangnya minat dan ketertarikan para mahasiswa untuk menulis sehingga tidak menutup kemungkinan kalau mahasiswa lebih suka bermain dan melakukan aktifitas lain. Keempat, kurangnya wadah tersendiri bagi mahasiswa untuk menampung tulisan-tulisan para mahasiswa, seperti halnya buletin jurusan yang memang dikelola dan dikontrol langsung dari pihak jurusan. Hal ini bisa dijalankan dengan memberikan rangsangan hadiah tambahan dan nilai plus bagi mahasiswa jika ada mahasiswa yang produktif dalam menulis. Kelima adalah karena kurangnya pemahaman pengetahuan para mahasiswa terkait dengan pedoman tata cara penulisan karya ilmiah yang bagus dan benar.
Hemat penulis, melihat realita demikian seharusnya pihak perguruan tinggi menyadarinya, seharusnya bukan hanya menjadi lembaga yang mencetak “intelektual” tanpa dibarengi keahlian apa pun, namun harus mampu menjadi lembaga intelektual yang mencetak mahasiswa unggul dengan dibarengi “soft skill” dalam bidang menulis dan ketrampilan-ketrampilan yang lainnya. Sehingga nantinya out put yang di hasilkan oleh perguruan tinggi bukan lagi para penganguran-penganguran yang binggung untuk berbuat apa setelah lulus, namun para generasi muda yang berkompeten, kritis, unggul, dan pastinya produktif dalam segala bidang.
Penulis adalah: Alumnus PAI, 2013 Ftk UIN Suka
*Buletin Edisi April

Komentar

Postingan populer dari blog ini

karikatur

puisi- Di Gubuk Itu

Di Gubuk itu Oleh : Lembaran Hitam* Di gubuk itu Aku melihatmu Duduk menatap sebuah buku dalam genggaman Jika ku lihat, Sangat sederhana sekali gubuk itu berdinding bilik yang di anyam berlapis karpet merah terbentang Dengan lampu-lampu hiasan tergantung Tapi aku tidak melihat dari bentuk Ataupun hiasan Aku melihat dari kesungguhan pikiran Aku melihat dari coretan yang kau tuliskan Dan aku melihat dari gagasan yang kau sampaikan Di gubuk itu, Pejuang visi dan misi mengotak-atik lampiran Manjadi penentu yang berpatokan Buku merah kau jadikan pelajaran Cerminan tanggung jawabmu di akhir jabatan Di gubuk itu Kau rumuskan rancangan kegiatan Menuliskannya dalam sebuah buku sederhana tapi menentukan Tidak bisa disepelekan Juga tak bisa diabaikan Sekali lagi Di gubuk itu . . . *) Penulis adalah mahasiswa PBA 2012 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta