Judul : Garis Waktu
Jenis : Kumpulan Cerita
Penulis : Fiersa Besari
Penerbit : Media Kita
Cetakan : VII, 2017
ISBN : 978-979-794-525-1
Fiersa
Besari merupakan sosok pemuda kelahiran Bandung yang akrab dipanggil
"bung" dan ternyata lulusan Sastra Ingris tapi lebih suka mengaku
lulusan sastra mesin. Bung ini dikenal sebagai Penulis, Penggiat Musik,
Pengelana, dan Penangkap Jejak. Sekembalinya dari perjalanan mengelilingi
Indonesia dalam rangka mencari jati diri, Bung mulai mengumpulkan tulisannya
menjadi sebuah buku yang kemudian diberi judul "Garis Waktu" karena
dirasa mewakili setiap cerita di dalamnya.
Sebuah
buku yang bisa dikatakan sebuah catatan peristiwa, namun dikemas dalam
kata-kata yang puitis. Kalau kau seorang pecinta puisi maka kau bisa membaca
setiap judul cerita dalam buku ini layaknya sedang membaca puisi. Coba sajalah
dan itu akan terdengar syahdu. Pada awalnya buku ini memang sebuah kumpulan
jurnal yang dibuat oleh penulis -Fiersa Besari- dalam blog miliknya juga media
sosial lainnya. Jurnal itu bernama "Junal 366 hari". Namun cerita
dalam buku merupakan sebagian kisah perjalanan penulis selama tiga sampai empat
tahun terakhir sebelum buku terbit. Kembali ke " Jurnal 366 hari. Jadi,
dalam jurnal tersebut penulis wajib memposting
tulisan apapun setiap harinya. Setiap postingan
itu mencangkup tantangan-tantangan yang harus ia capai setiap harinya. Apabila
dalam setahun itu, ia gagal minimal tiga hal, ia harus menggundul rambutnya.
Dan akhirnya sukses. Kini penulis sepertinya tengah memililh misi baru. Kau bisa
cek IG dan twitternya jika penarasan, karena Line dan blognya telah dinonaktifkan. Entah, mengapa.
Kembali
ke buku "Garis Waktu". Pada awalnya kukira "Garis Waktu"
hanyalah berisi catatan-catatan curhat seorang yang patah hati dengan cerita melownya. Namun ternyata tidak. Di dalamnya,
jika mau menghayati dengan cermat, kau akan merasakan dengan benar, "Apa
itu cinta sebenarnya?" dan "Apa itu tantangan?”. Kau akan belajar
bahwa hidup ini bukan tentang kebetulan saja. Tapi harus ada perencanaan yang
tepat. Kau takkan bisa menjalin suatu hubungan yang serius ketika pada
perjumpaan yang pertama kali hanya kebetulan dan tidak ada kelanjutan rencana
untuk pertemuan berikutnya. Walau kemudian kau harus mengakui setiap "perbedaan"
dan harus nyaman dalam "zona pertemanan" saja. Karena "makhluk
pecicilan yang bernama hati" itu tak mampu membaca "serangkaian
kode". Namun ada "dimensi setelah kedatanganmu" yaitu "saat
hati kita melebur". Dan "ketika duniamu hancur
berkeping-keping", "pelarian" bukan "rencana yang
indah". Karena "masa depan diciptakan hari ini", maka
"pulang" lah. "Apakah hidupku sudah cukup berarti?"
"Sejauh apa cita-cita membawaku pergi?". Bersabar, meski tak
mudah". Garis waktu akan menjawabnya.
Kutipan
di atas merupakan sebagian judul tulisan yang terdapat di dalam buku
"Garis Waktu". Cerita di dalamnya tak hanya mengenai patah hati
karena ditinggalkan saja. Tapi mengenai mimpi yang kita miliki. Apakah ia telah
tergapai atau hanya teronggok diam di tempatnya. Garis waktu akan menjawab
seberapa besar usaha kita. Rupanya penulis memiliki cara sendiri untuk
menyampaikan lukanya. Dan buku ini sangat enak dibaca oleh orang yang tak suka
baca sekalipun. Bahkan ini juga merupakan buku yang disarankan untuk pembaca
pemula. Tidak berat dan menarik layaknya membaca puisi atau karya sastra
lainnya, bukan buku yang seperti koran yang hanya berisi tulisan tanpa ruang
spasi yang cukup. Dengan kehadiran potret foto milik penulis menjadikan buku
ini semakin lebih tampak hidup. Cocok sebagai teman dudukmu.
Pada
sebuah garis waktu yang merangkak maju akan kau temui saat-saat kau akan jatuh.
Namum kau harus yakin bagaimana cara terbaik untuk bangkit. Dan dari buku ini
kita belajar untuk mengikhlaskan sesuatu yang telah pergi, namun bukan melupakan.
Karena sejatinya, melepaskan dan melupakan adalah hal yang berbeda. Melepaskan
itu mungkin menyakitkan tapi melupakan itu bukanlah hal yang mudah, yang kita
lakukan adalah harus mengikhlaskan yang telah pergi. Dan tetaplah selalu
belajar pada setiap waktu yang berjalan di sekitar kita dan tetaplah tersenyum
selalu.
Sambil
membaca buku ini tidak ada salahnya jika kau sembari mendengarkan lagu-lagu
karya penulisnya "Fiersa Besari" dan temannya yang diberi nama
"Kerabat Kerja". Lagu-lagunya kebanyakan mengenai cerita dan sebagian
besar ada di dalam buku. Jangan lupa juga untuk mencoba membaca setiap
tulisannya layaknya membaca sebuah puisi. Akan terasa lebih nyaman didengar dan
dinikmati.
Hal
lain yang menarik dari buku ini juga ialah adanya foto-foto di setiap judul
cerita yang merupakan milik pribadi penulis. Namun bagi pembaca yang senang
akan dialog-dialog antar tokoh, kalian akan dibuat kecewa. Setiap cerita bukan
hanya sekadar karangan cerita yang tokohnya fiktif, disini tokoh utama hanyalah
penulis. Jadi buku ini bisa dibilang buku diary
yang berisi curhatan penulis, bukankah buku ini sejenis jurnal yang ditulis
oleh penulis itu sendiri? Jadi dialog antar tokohnya tidak ada, nama orang juga
tak akan kau jumpai di sini. Karena hanya ada aku dan kamu saja.
Berikut
sebagian kutipan yang ada di dalam buku:
"'Pada
sebuah garis waktu yang maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang
yang mengubah hidupmu untuk selamanya."
"Pada
sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan
kehilangan pegangan."
"Pada
sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat
mundur pada titik kenangan tertentu."
"Maka,
ikhlaskan saja kalau begitu. Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari
melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakinimu secara
perlahan."
-Fiersa
Besari : Garis Waktu-
Penulis:
Irma HY (Div.
Litbang LPM Paradigma, Penikmat Buku)
Sumber gambar:
http://scontent.cdninstagram.com

Komentar
Posting Komentar