Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label tokoh

Wiji Thukul: Berpuisi untuk Melawan !

  LPM Paradigma – Hari ini, Rabu 26 Agustus 2020 tagar Wiji Thukul meramaikan trending twitter. Media sosial yang cukup ramah dengan isu sosial sekaligus ancaman bagi yang tidak senang. Selamat Ulang Tahun Bapak, Panjang Umur Perlawanan ! Wiji Thukul atau lengkapnya Widji Widodo merupakan aktivis sekaligus sastrawan yang berasal dari Surakarta. Wiji Thukul merupakan satu dari sekian hutang kemanusiaan yang tidak kunjung dibayar lunas oleh negara. Lawan ! Satu kata yang mampu mendeskripsikan siapa sosok Wiji Thukul. Memilih bergabung bersama buruh, petani, dan kalangan bawah membuat beliau memiliki keyakinan bahwa segala derita tidak semata-mata ujian. Beliau senantiasa percaya bahwa rezim militeristik punya andil besar terhadap kondisi bangsanya. Keyakinan yang begitu besar, menyerupai bunga mawar: merah merekah, dan siap menusuk siapa yang mengusik: kuterima kabar dari kampung kumahku kalian geledah buku-bukuku kalian jarah tapi aku ucapkan banyak terima kasih kare...

Jepang di Mata Anggun Yurna Yudenisa

Sumber gambar: akenoyuki.blogspot.com Jepang hingga kini masih menjadi “aktor” yang hangat diperbincangkan di dunia akademisi. Kepeduliannya terhadap pendidikan sangat masy h ur, terlebih cerita tentang pertanyaan pertama petinggi Jepang pasca peristiwa pengeboman yang tidak menanyakan berapa jumlah pabrik, gedung pemerintahan, dan tempat strategis lainnya. Melainkan “Berapa jumlah guru yang masih hidup?” membuat Jepang dielu-elukan di bidang pendidikan.

Kisah "Heroik" Peraih IPK Tertinggi FITK

Tarbiyah, Paradigma Online - Kesuksesan tidak serta merta berjalan mulus seperti halnya dalam sinetron. Begitulah kiranya ungkapan yang sesuai dengan keadaan dan hasil perjuangan mahasiswi terbaik Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Khusnul Hidayah.

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Peran RA Kartini dalam Pendidikan RA. Kartini, tokoh perempuan pejuang bangsa ini pantang menyerah untuk memperjuangkan hak-hak perempuan pribumi agar mendapatkan pendidikan layaknya seperti laki-laki pada saat itu. Perempuan kelahiran  18 April 1879 ini memiliki pemikiran yang sangat maju seperti wanita-wanita Eropa, hal ini dapat dilihat dari sikap-sikapnya yang selalu mengumpulkan buku-buku untuk dipelajarinya. Walaupun ketika itu beliau masih berusia 12 tahun tetapi beliau sudah dipingit, namun semangatnya untuk memperjuangkan hak-hak wanita tidak pernah surut. Peran Kartini dalam pendidikan di Indonesia sangatlah tinggi, hal itu merupakan salah satu kontribusi perempuan dalam pendidikan yang dicetak dengan tinta emas dalam sejarah. Pada masa itu, kondisi pendidikan sangatlah memprihatinkan, khususnya bagi kaum perempuan. Anak-anak di bawah usia 12 tahun masih diperbolehkan menginjak pendidikan di sekolah. Akan tetapi setelah 12 tahun mereka tidak diperbolehkan lagi be...