Langsung ke konten utama

Wiji Thukul: Berpuisi untuk Melawan !

 


LPM Paradigma – Hari ini, Rabu 26 Agustus 2020 tagar Wiji Thukul meramaikan trending twitter. Media sosial yang cukup ramah dengan isu sosial sekaligus ancaman bagi yang tidak senang.

Selamat Ulang Tahun Bapak, Panjang Umur Perlawanan !

Wiji Thukul atau lengkapnya Widji Widodo merupakan aktivis sekaligus sastrawan yang berasal dari Surakarta. Wiji Thukul merupakan satu dari sekian hutang kemanusiaan yang tidak kunjung dibayar lunas oleh negara. Lawan ! Satu kata yang mampu mendeskripsikan siapa sosok Wiji Thukul. Memilih bergabung bersama buruh, petani, dan kalangan bawah membuat beliau memiliki keyakinan bahwa segala derita tidak semata-mata ujian. Beliau senantiasa percaya bahwa rezim militeristik punya andil besar terhadap kondisi bangsanya.

Keyakinan yang begitu besar, menyerupai bunga mawar: merah merekah, dan siap menusuk siapa yang mengusik:

kuterima kabar dari kampung

kumahku kalian geledah

buku-bukuku kalian jarah

tapi aku ucapkan banyak terima kasih

karena kalian telah memperkenalkan sendiri

pada anak-anaku

kalian telah mengajari anak-anaku

membentuk makna penindasan

sejak dini

ini tak diajarkan di sekolahan

tapi rezim sekarang ini

(Potongan Puisi Bab VII: Para Jenderal Maarah-Marah. Buku Nyanyian Akar Rumput)

Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) menyatakan Wiji Thukul adalah korban rezim orde baru. Involuntary disappearances (Penghilangan Paksa) pada usia 34 tahun, diterima Wiji Thukul sebagai harga mahal atas cara pikir, prinsip, dan tindakan selama perlawanan.

“Saat itu bertepatan dengan peningkatan operasi represif yang dilakukan oleh rezim orde baru dalam upaya pembersihan aktivitas politik yang berlawanan dengan orde baru.” Tulis Kontras dalam siaran pers, April 2020 silam.

Wiji Thukul dan Puisi

Wiji Thukul menjadi sosok penyair Indonesia yang memberi atmosfer baru dalam menulis sajak. Sajaknya tidak hanya bicara tentang estetika atau romantisme. Sajaknya bicara rakyat, rakyat, dan rakyat. Permasalahan seputar kemiskinan yang dihadapi masyarakat di masa lalu dan masih dapat kita jumpai hari ini, Wiji Thukul telah merangkumnya, Beliau melihat penderitaan dan berjuang untuk bersuara.

Tahun 1996, Wiji Thukul pamit kepada istrinya, Sipon Dyah, untuk pergi bersembunyi dari kejaran militer. Berpindah dari satu kota ke kota lain, hingga tidak terdengar lagi kabarnya. Putri yang diberi nama Wani, melalui akun Instagram sering menuliskan motivasi dan mencurahkan kasih saying kepada bapaknya dan anaknya Fajar Merah menekuni dunia musik. Jika penguasa menjadi tiran, maka megingatkan adalah tugas kemanusiaan. Jika ingin mengetahui bagaimana puisi mampu membuat penguasa merasa terancam, buku Nyanyian Akar Rumput bisa menjadi lorong waktu yang mampu mengantarkan pembaca menemui hari-hari lalu, bangsa ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Garis Waktu

Judul               : Garis Waktu Jenis                : Kumpulan Cerita Penulis             : Fiersa Besari Penerbit           : Media Kita Cetakan           : VII, 2017 ISBN               : 978-979-794-525-1 Fiersa Besari merupakan sosok pemuda kelahiran Bandung yang akrab dipanggil "bung" dan ternyata lulusan Sastra Ingris tapi lebih suka mengaku lulusan sastra mesin. Bung ini dikenal sebagai Penulis, Penggiat Musik, Pengelana, dan Penangkap Jejak. Sekembalinya dari perjalanan mengelilingi Indonesia dalam rangka mencari jati diri, Bung mulai mengumpulkan tulisannya menjadi sebuah buku yang kemudian diberi judul "Gari...

karikatur