Serangkaian acara Kongres LPM Paradigma telah terlampaui
dengan sukses. Sekitar pukul 19.30 WIB, sampailah kepada
acara yang dinanti-nantikan, yaitu pemilihan Pimpinan Umum (PU) baru, Balai LKiS, Sorowajan, Banguntapan, Bantul,
Yogyakarta (16/03).
Adapun teknis pemilihannya
melalui dua putaran. Putaran pertama dilakukan untuk menentukan Balon (Bakal
Calon) PU LPM Paradigma yang akan dipilih tiga suara terbanyak. Setelah
dilakukan penghitungan suara, ternyata Sholihin mendapatkan 9 suara, Rizal 6 suara, dan Cahya 2 suara.
Ketiga Balon inilah yang nantinya akan maju ke putaran kedua.
Sebelum dilakukan putaran kedua,
masing-masing balon diminta untuk menyampaikan visi misinya. Kesempatan pertama
diberikan kepada Cahya. Namun, ia sedikit malu untuk menyampaikan visi dan
misinya. Selanjutnya, giliran Rizal yang mendapat kesempatan untuk menyampaikan
visi dan misinya.
“Saya ingin
menjadikan LPM Paradigma menjadi wadah demokrasi mahasiswa. Ingin menjadikan
pers, khusunya LPM Paradigma ini sebagai wadah demokrasi mahasiswa.” Terang
Rizal saat menyampaikan visinya. Adapun misinya adalah lebih memaksimalkan
lembaga-lembaga yang ada di LPM Paradigma.
Kesempatan terakhir diberikan kepada Solihin.
Solihin sangat tidak suka jika suatu organisasi, dalam hal ini LPM paradigma,
dipimpin oleh politikus. Seperti yang disampaikan olehnya, “Saya menjadi apa
saja mau, asalkan tidak dipimpin oleh orang politik.” Hal ini pun disambut
meriah dengan tepuk tangan dari peserta kongres.
Kemudian, setelah penyampaian
visi dan misi, ada sesi tanya jawab dari peserta kongres. Lagi-lagi Hamdani
yang melayangkan beberapa pertanyaan sederhana tapi butuh integritas tinggi
untuk menjawabnya. Seberapa besarkah komitmen dalam memberi ketegasan kepada
anggota lain? Pilih kuliah apa paradigma? Dan beberapa pertanyaan lainnya yang
harus dijawab oleh ketiga kandidat tersebut.
Kali ini, sholihin mendapat
kesempatan pertama. Ia hanya berpesan jika nanti menjadi PU dan kinerjanya
tidak sesuai dengan AD/ART atau teman-teman, ia siap untuk diturunkan. “Jika
saya tidak sesuai dengan AD/ART dan teman-teman, saya siap diturunkan,”
paparnya.
Begitu juga dengan Cahya, ia
menanggapi pertanyaan kedua, yaitu terkait kuliah dan paradigma, pilih yang
mana? Ia pun memilih kuliahnya, karena itu adalah kewajiban bagi setiap
mahasiswa. “Saya memilih kuliah, meskipun kita berorganisasi, jangan sampai
sisihkan kuliah,” terangnya dengan penuh semangat.
Berbeda dengan Rizal, ia rela
meninggalkan kuliah jika memang ada tujuan yang jelas. “saya milih kuliah, tapi
saya dengan gampang meninggalkan kuliah jika ada tujuan yang pasti,” ungkap
Rizal dengan semangat menggebu-gebu.
Sesi tanya jawab pun selesai
sekitar pukul 19.57 WIB. Lanjut ke putaran kedua. Namun, sebelum itu,
masing-masing kandidat ditanyai mengenai kesediaannya menjadi PU. “Apakah ada
yang ridlo, bersedia menjadi PU,” tanya artha yang memimpin jalannya pemilihan
tersebut. Semuanya pun bersedia, kecuali Cahnya. Ia memutuskan untuk
mengundurkan diri dari kandidat PU. Dengan demikian, tinggal dua kandidat PU
yang maju ke putaran kedua.
Putaran kedua dilaksanakan
sekitar pukul 19.59 WIB. Masih sama seperti putaran pertama, masing-masing
peserta kongres mendapatkan kertas kosong dan wajib mengisi dengan nama salah
satu dari dua kandidat tersebut. Setelah semua peserta menyerahkan kertas itu,
mulailah perhitungan suara.
Pada awal penghitungan suara,
Solihin memimpin jauh di atas Rizal. Namun, di tengah-tengah penghitungan,
suara Rizal meningkat signifikan. Kedua kandidat ini bersaing dengan ketat.
Ketegangan memuncak ketika pembacaan surat suara yang terakhir. Semua peserta
yang hadir di situ tidak sabar untuk mengetahui hasil akhirnya. Dan, ternyata suara
terakhir tidak sah, karena memilih Cahya yang statusnya bukan kandidat PU lagi.
Selisih perolehan suara pun sangat tipis. Hanya selisih satu suara dan
dimenangkan oleh Solihin. Solihin mendapat 11 suara, sedangkan Rizal mendapat
10 suara, dan dua suara lainnya dianggap tidak sah. Kemenangan Sholihin
disambut meriah oleh peserta kongres. Begitu juga dengan Rizal, ia menjabat
tangan Solihin dan mengucapkan selamat padanya.
Setelah Solihin resmi menjadi PU
terpilih, ia menegaskan kembali pesan-pesannya saat penyampain visi dan misinya
tadi. “Intinya satu, kalau memang tidak sesuai atau mempunyai unek-unek,
katakanlah di depan. Jangan sampai nggrundel
di belakang. Itu saja,” tegasnya.
Acara pun berakhir sekitar pukul
20.02 WIB. Sebelum meninggalkan tempat kongres, peserta kongres membersihkan
pendopo terlebih dahulu. Begitu juga melengkapi kekurangan-kekurangan
administratif lainnya. Imron Mustofa. Ed: Sholikin
selamat nur sholikhin
BalasHapusuntuk ke depannya bisa lebih baik