Langsung ke konten utama

Oda Nobunaga; Sang Penakluk dalam Sejarah Jepang

Oleh: Nur Tanfidiyah

            “Perjalanan Seorang Pendekar dari Owari yang cerdik, jenius dan pemberani. Sosok pemimpin kontroversial dalam lipatan sejarah Jepang.”

            Kiposshi nama panggilan dari Oda Nobunaga seorang anak laki-laki kelahiran bangsawan jepang yang besar. Tingkahnya yang sangat kasar, arogansi serta pakaian yang jauh dari kata rapi, rambutnya yang seperti pengaduk teh membuat masyarakat dan lingkungan sekitar menyebutnya si Bodoh. Bocah ini bertingkah sangat aneh, perilaku yang jauh dari etika anak seorang bangsawan membuat orang-orang disekelilingnya membenci dan meremehkannya.
            Tidak hanya masyarakat, para petinggi istana dan saudaranya pun turut membenci Oda Nobunaga. Karena terlampau nakal, ibunya Nyonya Dota dan ayahnya Hirate Nobuhide yang tidak sanggup merawatnya, memutuskan untuk menyerahkan Oda kepada Hirate Masahide untuk mengasuhnya. Hingga dewasa pun kelakuan anehnya belum berubah. Namun, dibalik itu semua Oda Nobunaga  menyimpan sejuta siasat dan kecerdikan untuk melawan orang-orang yang membencinya sekaligus pemberontak yang selalu haus kekuasaan.  Dan ternyata Oda Nobunaga atau Kipphosi lebih memahami keadaan yang sebenarnya dalam lingkungan istana Klan Oda.
            Pemberontakan mulai terjadi ketika Kipphosi  menjadi salah satu calon pewaris Klan Oda. Membuat saudara-saudaranya dan para petinggi semakin membencinya, mereka menunjuk adiknya Nubuyaki yang pantas menjadi pemimpin. Hingga mau tidak mau mereka harus menyingkirkan Kipphosi.  Saito Yamashiro no Nyodo atau si Mamushi (ular berbisa) seorang penguasa di gunung Inabayama, telah merancang sebuah siasat dengan cara menikahkan anaknya “putri Noh” yang sangat terkenal dengan kecerdasannya. Hal ini ditempuhnya alih-alih cara agar dapat menguasai kastel Kiyosu dan Owari. Seiring dengan berjalannya waktu, justru karena kecerdasan putri Noh, ia mampu memahami sosok Nobunaga yang sebenarnya. Sikap Nobunaga yang berbeda, cerdik, cerdas dan terlihat sangat aneh mampu meluluhkan hati putri Noh, yang semula hanya sebagai umpan untuk mendapatkan kekuasaan, kini berbalik mencintai dan mengagumi suaminya.
Sohachi mencoba merangkai kata dalam novel ini dengan bahasa yang sederhana namun sangat menarik dan mudah dipahami siapapun. Ia seolah menyihir pembaca untuk masuk dalam tokoh Oda Nobunaga, mengajak untuk lebih dekat mengenali sosok pemimpin yang cerdik dibalik sifat arogansinya. Dengan membacanya kita akan mampu memaknai, bahwa tidak semua perilaku yang nampak dari luar adalah sifat asli, bisa jadi hal tersebut adalah siasat penuh sejuta makna yang tidak semua orang dapat mengindranya hanya dengan mata telanjang.


                                                            

Komentar

  1. Identitas Bukunya kok gak ada ya? hehehe
    barangkali bisa dicantumin bukunya, biar kalau cari bukunya mudah...
    Oya, sekalian sampulnya... =D

    BalasHapus
  2. sepakat. .
    biar saya juga bisa menikmati bukunya. :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

karikatur

puisi- Di Gubuk Itu

Di Gubuk itu Oleh : Lembaran Hitam* Di gubuk itu Aku melihatmu Duduk menatap sebuah buku dalam genggaman Jika ku lihat, Sangat sederhana sekali gubuk itu berdinding bilik yang di anyam berlapis karpet merah terbentang Dengan lampu-lampu hiasan tergantung Tapi aku tidak melihat dari bentuk Ataupun hiasan Aku melihat dari kesungguhan pikiran Aku melihat dari coretan yang kau tuliskan Dan aku melihat dari gagasan yang kau sampaikan Di gubuk itu, Pejuang visi dan misi mengotak-atik lampiran Manjadi penentu yang berpatokan Buku merah kau jadikan pelajaran Cerminan tanggung jawabmu di akhir jabatan Di gubuk itu Kau rumuskan rancangan kegiatan Menuliskannya dalam sebuah buku sederhana tapi menentukan Tidak bisa disepelekan Juga tak bisa diabaikan Sekali lagi Di gubuk itu . . . *) Penulis adalah mahasiswa PBA 2012 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta