Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) LPM
Paradigma kembali mengadakan diskusi di Gedung Student Center (SC) lantai 3
ruang 68, Rabu (02/04). Forum diskusi yang populer dengan istilah Garasi
(Gagasan Rabu Siang) ini diikuti oleh 11 kru LPM Paradigma.
Diskusi kali ini mengupas tentang pemikiran kritis
Paulo Freire, tokoh pembebasan asal Brazil yang lahir pada tahun 1921. “Dia
(Paulo Freire-red) terkenal sebagai tokoh pembebasan”, papar Fai, pemantik
diskusi.
Sejatinya, pemikiran kritis Paulo Freire ini terbentuk
lantaran melihat realitas sosial yang sangat memprihatinkan. Waktu itu,
kehidupan sosial di Brazil diwarnai dengan penindasan-penindasan yang dilakukan
oleh kaum pemilik hak otoritas. “Kaum atas semakin berkuasa, kaum bawah semakin
tertindas,” ungkap Fai.
Melihat realitas yang kian kacau, terketuklah hati
Paulo Freire untuk memperbaiki kondisi sosial waktu itu. Dengan modal
pengalaman pernah menjadi kaum tertindas dan pendalaman di beberapa disiplin
ilmu, mulailah Paulo Freire melakukan usaha-usaha pembebasan, salah satunya
adalah memberantas buta huruf. “Gerakan
ini berupaya untuk memberantas buta huruf, karena mayoritas masyarakat tidak
bisa membaca dan menulis,” ujar Fai.
Perlu diketahui bahwa Paulo Freire mulai tertarik
dengan dunia pendidikan semenjak ia menikahi seorang guru sekolah dasar yang
berasal dari Recife, Elza Maia Costa Oliviera. “Sejak menikah dengan Elza Maia
Costa, mulai tertarik dengan pendidikan,” papar Sholihin saat menambahkan
penjelasan mengenai latar belakang pemikiran kritis Paulo Freire di bidang Pendidikan. Ia juga menambahkan
bahwa karena alasan politiklah, Freire melakukan usaha-usaha ‘melek huruf’. “Orang
yang tidak bisa membaca dan menulis, tidak bisa memilih presiden,” imbuhnya.
Usaha pembebasan harus selalu diupayakan. Tidak hanya
di kalangan yang tertindas secara ekonomi dan fisik saja, melainkan juga
akademisi –dalam hal ini mahasiswa- yang
masih terjebak dengan metode perkuliahan konservatif para dosen. “Saya merasa
sendiri di perkuliahan hubungan subyek-obyek antara dosen dan mahasiwa. Dosen ceramah
dan mahasiswa mendengarkan,” papar Fery.
Imron
Komentar
Posting Komentar