Banyak
yang mengetahui bahwa tanggal 2 Mei merupakan “Hari Pendidikan Nasional”. Namun,
hari tersebut bukan menjadikan kita bisa
merefleksikan diri dengan apa yang kita dapat dari pendidikan nasional.
Kebanyakan orang hanya membuat ceremony-ceremony dalam merayakan hari
pendidikan nasional. Apakah mainstream kita ketika ada hari perayaan itu digunakan
untuk merayakan dan memperingati? bukan untuk merefleksikan, seperti yang biasa
dilakukan ketika seseorang merayakan
ulang tahun. Ceremony yang dilakukan oleh beberapa lembaga baik yang internal
maupun external hanya sebatas merayakan dan memperingati seperti berdiskusi dan
melakukan kegiatan berbau pendidikan.
Sama
halnya ketika perayaan hari Kartini. Perayaan ini diperingati dengan
menggunakan pakaian kebaya dan mengadakan acara fashion show bertemakan kebaya, bukan merefleksikan bagaimana usaha Kartini ketika
memperjuangkan hak-hak perempuan. Jika sebagian masyarakat ketika hardiknas mengadakan
acara yang mengandung arti pendidikan, maka bagaimana dengan sekelompok
masyarakat lain yang tidak memiki akses untuk merayakan hardiknas? Apakah jika sekelompok
tersebut mau tidak mau akan merayakan dengan caranya sendiri?, melalui ucapan selamat
hari pendidikan nasional dan menambahkan doa di dalamnya, manakah yang lebih
baik? Kesemuanya memang kembali kepada pilihan masing-masing. Tidak berhenti disini,
ketika sudah melakukan itu semua apakah kita merasa ikut andil kemudian merasa
puas karena telah melakukan hal tersebut baik yang secara mandiri maupun
berkelompok? Sebenarnya yang menjadi titik berat dalam tulisan ini adalah
bagaimana kita bisa merefleksikan hari pendidikan nasional baik di dalam diri
maupun kelompok atau secara external maupun internal. Kata merefleksi bisa dikatakan jauh dalam
realitas saat ini, dimana perilaku acuh tak acuh sudah banyak yang menjangkiti masyarakat
karena kesibukan masing-masing dalam pemenuhan kepentingan pribadi. Jangankan
untuk merefleksikan hari pendidikan nasional, untuk melakukan ceremony dan
perayaanpun masih kurang. Lantas apakah pendidikan nasional masih sesuai dengan
harapan bapak pendidikan yaitu Ki Hajar Dewantara? Bagaimana seharusnya kita
bisa merefleksikan dan mengambil setiap makna dari hardiknas?
Kita
bisa memulainya dengan mengenal siapa Ki Hajar Dewantara, bagaimana pemikirannya
tentang pendidikan, dan pendapat beliau tentang tujuan pendidikan indonesia. Selanjutnya,
membandingkan orde tujuan pendidikan yang di cetuskan oleh Ki Hajar Dewantara dengan
tujuan pendidikan masa kini. Setelah dirasa mampu merefleksikan langkah
tersebut, maka tularkanlah kepada orang lain. Namun, jika tidak bisa bagaimana
merefleksikan, maka diri pribadilah yang bisa menikmati hasil dalam
merefleksikannya.
Prisdiana
.jpg)
Komentar
Posting Komentar