![]() |
| Sumber Gambar: pernikdunia.com |
Bunga Edelweis atau dalam bahasa latin disebut Anaphalis javanica merupakan tanaman yang hanya mampu tumbuh di
ketinggian gunung dan memerlukan sinar matahari penuh. Spesies tanaman
berjulukan bunga abadi ini banyak ditemukan di daerah pegunungan Jawa, Sumatera
Selatan, Sulawesi Selatan dan Lombok. Bunga Edelweis sangat masyur di kalangan
para pendaki. Berikut
mitosnya, jika kita mampu memberikan bunga abadi ini kepada orang yang
disayangi, niscaya cinta di antara
keduanya akan abadi. Mitos tersebut hingga kini masih diyakini oleh banyak
pendaki, mereka rela mendaki puncak-puncak gunung dan menyusuri tebing-tebing
hanya demi mendapatkan bunga Edelweis.
Kegunaan bunga Edelweis yang
bermacam-macam juga membuat para pendaki tergiur untuk mendapatkannya. Ekstrak
dari Bunga Edelweiss sejak peradaban kuno dapat dijadikan obat untuk mengatasi
berbagai penyakit seperti diare, disentri, TBC dan difteri. Hal itu
karena Bunga Edelweis memiliki kandungan anti-oksidan yang cukup banyak, yaitu
anti-mikroba yang dapat membunuh jamur dan bakteri dan memiliki sifat
anti-inflamasi atau radang. Ekstrak dari bunga tersebut juga memiliki sifat
pelindung yang sangat baik bagi keremajaan sel-sel dalam kulit dan melindungi
kulit agar tetap kelihatan muda dan segar dengan menghancurkan radikal bebas
yang berbahaya bagi kesehatan kulit. Bunga edelweiss bisa dijadikan teh yang berkasiat
mengobati sirkulasi yang buruk, batuk, difteri dan kanker payudara. Bisa juga
dijadikan salep sebagai perlindungan kulit dari sinar UV, meredakan rasa sakit
karena rematik dan menyembuhkan luka.
Keberadaan
bunga yang umumnya terlihat antara bulan April – Agustus ini tengah diambang
kepunahan. Edelweis sebenarnya merupakan salah satu spesies yang dilindungi dan
biasanya sudah dilakukan razia saat pendaki turun dari habitat Edelweis. Namun,
para pendaki yang berkeinginan memiliki bunga abadi ini tidak hilang akal dalam
mensiasatinya. Mereka menyembunyikan
di pakaiannya. Alasan mereka memetik bunga cantik itu karena untuk bukti bahwa
mereka sudah mendaki gunung.
Eksploitasi Bunga Edelweis untuk dijadikan hadiah, koleksi,
obat, dan lain-lain tentu bukan hal yang bijak. Terlebih jika kita melihat
fakta bahwa untuk mencapai fase berbunga, Edelweiss
memerlukan waktu kurang lebih 5 tahun lamanya. Kesenangan sesaat
yang kita rasakan ketika memetik sang bunga abadi tentu tidak senilai dengan proses berbunga yang
terbilang cukup lama tersebut. Para pendaki yang berembel-embel “pecinta
alam” seyogyanya juga merealisasikan titlenya dalam kehidupan nyata. Jangan
meninggalkan apapun kecuali jejak, dan jangan mengambil apapun kecuali foto. Salam
lestari, salam konservasi!
Dewi Ratna Sari (mahasiswa PAI UIN Sunan Kalijaga 2015)

Komentar
Posting Komentar