Langsung ke konten utama

Aksi Damai Pro-Demokrasi Dihadang Aparat Kepolisian



Gambar: Massa aksi menyuarakan aspirasi.
Massa dari berbagai elemen mayarakat yang tergabung dalam Solidaritas Perjuangan Demokrasi (SPD) akan melakukan aksi di sekitar Tugu Jogja, Selasa (22/02). Aksi ini ditujukan sebagai tandingan terhadap Angkatan Muda Forum Ukhuwah Islamiyah (AM-FUI) yang menolak eksistensi Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT).


Aksi demontrasi ini sebagai bentuk protes tehadap segala bentuk ancaman yang dilakukan oleh kelompok intoleran terhadap LGBT. Dalam spanduk mereka menyatakan. “Hak LGBT, hak manusia. Rebut kembali Jogja.

Aksi damai yang direncanakan tepat di Tugu Jogja tidak berhasil. Ratusan aktivis FUI lebih dulu menguasai Tugu Jogja. Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Polisi menahan  massa SPD yang berada di gerai Mc Donal’s agar tidak melakukan aksi lebih jauh.

Negosiator perwakilan aktivis pro demokrasi menolak pemberhentian aksi.. “Seharusnya polisi bukan menjadi penghambat suara demokrasi dari pihak minoritas. Justru mengamankan jalannya aksi,” ujar Eko, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta.

Ia juga menambahkan, massa aksi hanya ingin mendapatkan apa yang seharusnya mejadi hak mereka sebagai warga negara. Menyalurkan aspirasi, menyerukan keadilan bagi kaum  LGBT. Serta meraih ruang kecil demokrasi yang diberangus oleh kelompok aktivis  intoleran     

Pihak kepolisian mengelak bahwa demonstrasi ini tidak mendapatkan izin sesuai prosedur kepolisian. “Ormas FUI sudah mengajukann  izin jauh hari seminggu yang lalu. Mungkin kami bisa menerima jika tidak mendesak seperti ini,” ujar Prihartono Eling Lelakon , Kepala Kepolisian Resort Kota Yogyakarta.

Namun hal itu dibantah Eko, LBH Yogyakarta yang mendampingi aksi damai tersebut. Ia mengatakan bahwa pihaknya sudah melayangkan surat ijin aksi ke pihak kepolisian.

“Yang menjadi pertanyaan saya, kenapa FUI melakukan aksi di Tugu? Bukankah mereka (seharusnya) melakukan aksi di Nol KM?,” ujarnya.

Setelah beberapa lama bernegosiasi kedua belah pihak  tetap tak menemukan titik temu. Sebaliknya aktvis pro demokrasi tetap bersisikukuh untuk melanjutkan demontrasi. Salah seorang aktivis pro demokrasi menyayangkan atas sikap kepolisian. “Kami hanya ingin aksi damai, pak!,” ujar salah seorang demonstran perempuan.   

Alhasil, tejadilah dorong-mendorong antara ratusan massa pro demokrasi dengan kepolisian. Massa yang memaksa masuk ke jalan Sudirman di brikade oleh polisi, lengkap dengan pentungan di tangan.

Belasan aktivis mengalami luka-luka karena terjatuh dan terinjak-injak. Beberapa di antaranya perempuan. Akhirnya demonstrasi tertahan di samping gerai Mc Donal’s. Sembari konsolidasi beberapa perwakilan ketua organisasi, para demonstran melakukan orasi yang mengutuk perlakuan tidak adil kepada LGBT, penutupan ruang demokrasi dan tuntutan keadilan terhadap kaum minoritas apalagi tertindas. [Solkhan]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

karikatur

puisi- Di Gubuk Itu

Di Gubuk itu Oleh : Lembaran Hitam* Di gubuk itu Aku melihatmu Duduk menatap sebuah buku dalam genggaman Jika ku lihat, Sangat sederhana sekali gubuk itu berdinding bilik yang di anyam berlapis karpet merah terbentang Dengan lampu-lampu hiasan tergantung Tapi aku tidak melihat dari bentuk Ataupun hiasan Aku melihat dari kesungguhan pikiran Aku melihat dari coretan yang kau tuliskan Dan aku melihat dari gagasan yang kau sampaikan Di gubuk itu, Pejuang visi dan misi mengotak-atik lampiran Manjadi penentu yang berpatokan Buku merah kau jadikan pelajaran Cerminan tanggung jawabmu di akhir jabatan Di gubuk itu Kau rumuskan rancangan kegiatan Menuliskannya dalam sebuah buku sederhana tapi menentukan Tidak bisa disepelekan Juga tak bisa diabaikan Sekali lagi Di gubuk itu . . . *) Penulis adalah mahasiswa PBA 2012 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta