Langsung ke konten utama

Media Harus Berpihak pada Korban (?)


Media, baik cetak maupun elektronik harus memiliki keberpihakan. Dalam konteks relasi pelaku dan korban, media harus berpihak kepada korban.

Hal ini disampaikan Imam Gazali, aktivis pers mahasiswa Ekspresi UNY, dalam acara Meeting Editors yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) di Ballroom Harper Mangkubumi Hotel, Kamis (18/08).

Menurutnya, keberpihakan terhadap korban mestinya menjadi semangat yang harus dibangun dalam media apapun, utamanya media mainstream. Ia kemudian memaparkan kasus-kasus yang menimpa petani Kulonprogo, warga Pantai Watu Kodok dan kematian wartawan Udin yang menjadi korban ketidakadilan penguasa. “Kalau kita mau mengatakan berpihak pada pemerintah, pemerintah berpihak pada kita tidak, yang tergusur?” ungkapnya.

Hamdani, jurnalis Koran Joglo Semar tidak sepakat dengan hal ini. Menurutnya, tidak melulu keberpihakan media kepada korban. Karena, tidak ada jaminan bahwa korban pasti benar dan pemerintah salah.

“Tidak selamanya korban itu benar. Ini harus ada penelitian. Kebenaran yang kita pegang adalah undang-undang. Kadang (kebenaran –red) ada di rakyat, kadang ada di pemerintah,” papar Hamdani.

Senada dengan Hamdani, Tri, Jurnalis Radio Republik Indonesia (RRI) mengatakan bahwa keberpihakan media adalah pada kebenaran. Sementara untuk menyajikan kebenaran dalam bentuk berita, perlu diperhatikan aspek estetikanya. “Dikemas dengan secantik mungkin, biar enak dilihat, enak didengar,” ungkap Tri.  



Reporter            : Imron Musthofa
Editor                 : Ali Munir S. 
Sumber gambar : Soeloehmelajoe.wordpress.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

karikatur

puisi- Di Gubuk Itu

Di Gubuk itu Oleh : Lembaran Hitam* Di gubuk itu Aku melihatmu Duduk menatap sebuah buku dalam genggaman Jika ku lihat, Sangat sederhana sekali gubuk itu berdinding bilik yang di anyam berlapis karpet merah terbentang Dengan lampu-lampu hiasan tergantung Tapi aku tidak melihat dari bentuk Ataupun hiasan Aku melihat dari kesungguhan pikiran Aku melihat dari coretan yang kau tuliskan Dan aku melihat dari gagasan yang kau sampaikan Di gubuk itu, Pejuang visi dan misi mengotak-atik lampiran Manjadi penentu yang berpatokan Buku merah kau jadikan pelajaran Cerminan tanggung jawabmu di akhir jabatan Di gubuk itu Kau rumuskan rancangan kegiatan Menuliskannya dalam sebuah buku sederhana tapi menentukan Tidak bisa disepelekan Juga tak bisa diabaikan Sekali lagi Di gubuk itu . . . *) Penulis adalah mahasiswa PBA 2012 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta