Umairah adalah gadis yang
sedang menjalani hijrah agar bisa menjadi wanita yang lebih baik dari
sebelumnya. Gadis yang awalnya sering sekali berpakaian modis dan sering
menggunakan celana lepis ketika masih SMA, kian hari merasa bahwa ia tak cocok
dengan pakaian seperti itu dan memutuskan untuk memakai pakaian yang longgar
seperti gamis dan rok. Semua itu bermulai ketika Umairah masuk di perguruan
Tinggi. Tampak
nyata ketika hal itu menjadi kebiasaannya,
dia merasa lebih nyaman dengan pakaian itu. Kian hari pun kerudung yang
dikenakan Umairah yang semula tak menutupi dada ia panjangkan hingga menutupu
bagian tubuhnya. Dan benar ia tampak lebih anggun dengan pakaian seperti itu.
Proses yang tak mudah
dilalui oleh gadis yang hendak hijrah ini. Dia yang semula memliki seorang pria
spesial yang sudah hampir 2 tahun dan bisa dikatakan lebih dari teman untuknya,
ternyata mulai ia beri penjelasan tentang cara bergaul agar tak melanggar norma
di dalam agama. Tentu, islam tak mengenal adanya hubungan pacaran. Namun sang
pria seperti menolak kebenaran itu. Tak ada lagi yang bisa dilakukan Umairah
kecuali dua hal, meminta pria itu mengkhitbahnya meski diumurnya yang masih
belia atau pergi meninggalkan dirinya. Namun, pria itu enggan melakukan
keduanya dengan alasan bahwa dia belum siap tetapi dia tak ingin jika Umairah
meninggalkannya.
Meski awalnya berat untuk
Umairah, namun ia tetap harus memutuskan
hubungan itu, karena Umairah yakin itu adalah keputusan yang terbaik untuknya. Maha
Kuasa Allah, ternyata tak beberapa lama setelah keputusan itu, Allah
memperlihatkan kepada Umairah bahwa ternyata mantan kekasihnya itu telah
memiliki pengganti dirinya. Memang awal yang begitu berat untuk gadis yang baru
ingin berhijrah sepertinya, namun itulah cara Allah menyayangi Umairah. Allah
ujikan dia dengan kejadian seperti ini, dan ternyata benar. Niat Umairah tak
goyah sedikitpun karena kejadian-kejadian yang menimpanya. Dia seakan lebih
bisa membuka pandangan akan cinta yang salah, bahwa ternyata orang yang pernah
ia pilih adalah pilihan yang salah.
***
Satu tahun berlalu, Umairah yang memiliki
pengalaman yang kurang baik soal hati, telah kembali pulih. Umur yang bertambah
menuntutnya untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa, dan sepertinya sekarang
dia memang telah berhasil pulih dari kegelapan akan angan semu yang pernah
terjadi. Terlihat jelas dari wajahnya yang semakin berseri dengan gamis dan kerudung panjang yang ia
kenakan. Satu tahun hati Umarah menyendiri
bukan karena tak ada yang menyukainya, namun karena tak ingin disinggahi oleh
cinta yang salah lagi, sehingga ia seperti menutup pintu hatinya serapat
mungkin yang ia bisa. Namun hal yang bisa dipungkiri oleh setiap insan adalah,
ketika mereka mulai jatuh cinta, dan itu kembali menghampiri gadis berumur 19 tahun ini.
***
Malam terasa sunyi
sehingga yang terdengar hanya puing-puing angin dari kipas angin usang yang
terletak diantara sudut kamar gadis itu. Terlihat hanya dia yang masih terjaga
diantara bunga-bunga malam yang telah terlelap. Entah apa yang terjadi
dengannya, seakan gelisah menyapa dan sepipun menghantui malamnya.
“Ada
apa ini, kenapa aku teringat akan orang itu? Sepertinya
hal sama terjadi kepadaku di tahun silam?”
Gadis itu bergumam sambil memanlingkan pandangannya keluar jendela kamar.
“Tidak,
hal itu tidak boleh terjadi Rara, kau harus ingat bahwa kau pernah mencintai
dengan cara yang salah, ingat tidak boleh pacaran itu prinsipmu.”
jawaban yang ia ucapkan sendiri sambil dengan meyakinkan dirinya bahwa itu tak
boleh terjadi.
“Ya Allah, kau Maha membolak balikkan hati,
apakah ini cinta? Jika ia, Rara takut jika Rara salah lagi, teguhkanlah hati
yang lemah ini agar tetap bisa menjaga rasa cinta sampai tiba saatnya, Rara tak
ingin jika cinta ini tumbuh, itu akan membuat Rara berada di jalan yang salah
lagi.”
Itulah doanya sebelum ia beranjak ke tempat tidurnya.
***
Fajarpun menyingsing seakan ingin tampak lebih megah
nan indah. Cerahnya yang menawan mampu memerahkan pipi cubby gadis yang berusia 19 tahun itu. Bisa saja hari itu seakan berwarna-warni
karena ketika sampai di kampus, tak sengaja Agung orang yang dipikirkan Umairah
bermalam-malam itu menyapanya. Entah apakah itu akan merusak moodnya di pagi hari, atau malah
memotivasinya agar semakin semangat ketika perkuliahan dimulai.
“Assalamu’alikum, Umairah ada kelas
pagi ya?” Dengan senyuman yang khas, laki-laki
keturunan Jawa ini menyapa dengan penuh kelembutan.
Dengan menyimpan sejuta
rasa grogi, Umairah mencoba membalas dengan penuh kelembutan pula “Wa’alaikumussalam, mas Agung.
Iya, Umairah ada kelas mata kuliah Ushul Fiqih jam 07.00 AM.”
“Oh,
ya sudah kalau mau masuk kelas, silahkan. Oh iya Ra, nanti jangan lupa datang
rapat ya, ditunggu kedatangan
Rara di kantor jam 15.00.”
Lanjut Agung.
“Iya
mas Agung, insyaaAllah.
Umairah duluan ya...” jawab Umairah.
Belum jauh Umairah
melangkah, hatinya terasa bergoncang seakan semakin lama semakin cepat
detakkannya. Agung
adalah seorang pria keturunan Jawa yang sangat santun dalam berkata dan tangkas
dalam betindak. Pria lulusan pondok pesantern ini memang terkenal sebagai orang
yang berwibawa, sehingga ia dipercayakan menjadi salah satu ketua organisasi di
kampus yang mana organisasi itu juga di ikuti oleh Umairah.
***
Detikpun tak bisa mengela
waktu yang tak disangka sudah menunjukkan pukul 15.00. Umairah yang baru saja
keluar dari kelas, cepat-cepat bergegas ke kantor tempat dimana akan diadakan
rapat salah satu organisasi yang diikutinya. Dalam waktu bersamaan ternyata,
Agung pun tengah berjalan cepat menuju kantor karena merasa tak nyaman jika ia
datang terlambat. Umairah
yang datang pukul 15.05 tepat di depan kantor melihat seisi kantor terlihat
kosong, tak satupun orang yang berada di sana.
“Kenapa
kosong ya, aku yang telat atau memang tak jadi rapat?”
Umairah bergumam di dalam hatinya.
Selang beberapa detik
terdengar hentakan suara sepatu seseorang yang akan datang, ternyata orang tersebut
adalah Agung, tak lain adalah pria yang telah memikat hati Umairah.
“Mas
Agung...” Sapa Umairah kepada Agung dengan wajah
kaget.
“Assalamua’alaikum Rah, maaf ya mas terlambat.”
Balas Agung sambil menghela nafas
“Wa’alaikumussalam, iya mas
nggak apa apa, yang lain juga belum datang kok...”
balas Umairah
“Iya,
sebagian anggota memang sudah izin karena masih ada kelas Rah, makanya datang
terlambat.”
sambung Agung
Umairah hanya membalasnya
dengan senyum tipis yang menandakan bahwa ia juga memahaminya. Umairah memang
jarang membuka pesan grup di handphone, sehingga tak jarang pula dia
ketinggalan informasi, salah satunya ia sama sekali tak mengetahui bahwa banyak
teman-teman satu organisasinya yang akan datang terlambat.
Agung dan Umairah adalah
dua insan yang memiliki latar belakang yang berbeda, Agung yang memang memiliki
wawasan luas soal agama dan Umairah yang masih dalam tahap belajar untuk soal
itu.
Satu kondisi tampak Agung yang
sedang memeriksa laporan di atas lemari yang itu adalah berkas untuk dirapatkan
kelak. Sementara Umairah hanya duduk lesehan
dengan manis sambil memandang sekelilingnya.
Sunyi menghampiri kedua
insan ini, ketika hening datang tak sepatah huruf pun yang berani terucap untuk
memulai. Jam pun berdetik tanpa mengizinkan kebungkaman memecahkan sunyinya. Apa
yang bisa dikata ketika rasa di hati Umirah mulai membenih. Tak mampu baginya
untuk menyapa walau hanya sebuah pepatah.
“Ya Tuhan, aku tak ingin keadaan seperti ini,
mengapa aku bungkam tanpa berkata-kata, mengapa sulit sekali untukku bersikap
biasa saja. Aku mengenalnya namun aku tak berani memandangnya. Akankah detak
jantung yang cepat ini berhenti, Umairah sungguh takut Ya Allah” Gumam
Umairah di dalam hati yang sepertinya kaku terbawa suasana, hingga akhirnya suasana yang semula
kaku perlahan cair karena anggota lain yang mulai berdatangan.
“Angin aku yakin sulit untukku berlabuh pada bayang
yang semu.. Arah yang berbeda membuatku tak kuasa untuk menyentuh bentuk dalam
rupa ..
Namun jika itu cinta biarkan aku berdamai tanpa
melirik hadirnya yang berada bersamaku..
Aku percaya banyak cerita yang akan mengindahkan
jalannya. Ketika aku terbata-bata menyebut namanya, hingga hening kelampun menjadi saksi bahwa
rasa itu telah berada di sepertiga malam
dalam pintaku..
Aku tak tahu
kapan semua ini bermulai ketika aku berkedip saat itulah kedua bola mataku seakan tersipu pada
senyum hangat, wahai pemikat.”
(Dikutip dari catatan kecil buku
Umairah hlm 7 : Ketika Aku Jatuh Cinta).
Buah Karya dari:
Vegia Vanadya
(Anggota baru LPM Paradigma)
Buah Karya dari:
Vegia Vanadya
(Anggota baru LPM Paradigma)

Komentar
Posting Komentar