Anak Pelangi
oleh Nur Tanfidiyah*
Deru suara kendaraan
yang berlalu lalang membuat bising, ditambah cuaca hari ini yang begitu terik. Keringat amat setia
menemaniku menuju kampus hingga tidak henti-hentinya mengalir dari tubuh.
Disepanjang jalan, aku melihat pemandangan yang membuat hati ini perih. Insan
yang seharusnya bermetamorfosis diluasnya cakrawala, sebuah kupu-kupu yang
seharusnya terbang bebas dengan semua keunikannya. Awan mulai meredup mengaburkan pandanganku, dan gerimis mulai muncul dari pelupuk mataku.
“Untuk
apa sekolah tinggi-tinggi? ujung-ujungnya kamu berada didapur. Buat apa menjadi
sarjana? kenyataannya sekarang banyak orang yang mengganggur. Yang penting
dapat ijazah dan lekas cari kerja.” Lemparan kata-kata paman, sewaktu aku
berada didesa masih teringat jelas.
Ibu
yang hanya bisa terdiam, baginya kebahagiaan anak adalah segalanya. Ibu tidak
pernah menghalangiku untuk bercita-cita setinggi langit sekalipun. Justru ibu
menjadi pendengar dan penasihat setia dari ribuan mimpi yang aku ceritakan
padanya saat aku masih duduk dibangku kelas enam SD, hanya saja ibu khawatir
karena ekonomi yang tidak mendukung. Perkataan ibu membolak-balikan fikiranku, membuat
iba dan benteng semangatku semakin
runtuh.
Itu semua
adalah ukiran masa lalu. Sekarang
aku dalam dunia baru, seorang permpuan dari keluarga sangat sederhana yang
pergi ke kota untuk mencari ilmu
berbekal uang seadanya. Aku ingin tidak akan ada lagi orang yang haus ilmu karena kebodohan ataupun keterbatasan ekonomi.
Aku berjalan menyusuri gang sempit kota, dan terlihat mereka dengan
baju seadanya,
sandal jepit yang tidak sesuai dengan pasangannya, gumpalan karung besar terlampir di bahu kecilnya
dan ada yang sekedar membawa plastik lusuh di genggaman tangannya. Sesekali mereka
melompat-lompat, menari kecil sambil bersenandung lagu. Tampak senang dan riang
bahkan tanpa beban. Tidak hari ini saja, pemandangan ini sering kali aku jumpai. Ketika sang
surya sudah menampakkan ronanya, mereka seperti sudah mempunyai rute
tersendiri, kemana mereka harus pergi dan kapan mereka harus kembali.
Sejenak aku termenung, ingatanku terbawa pada
dua minggu lalu ketika bertemu seorang ibu di pinggir jalan,
“Buktikan, kalau pendidikan memang mampu
memperbaiki kehidupan kami? Ibu itu melemparkan pandangan
dengan sinisnya, menunjukan raut muka benci pada kata
pendidikan.” Sejenak kata-kata itu membangunkan lamunanku.
Pagi ini, aku menyengaja melihat mereka lebih dekat. Aku
berdiri disamping lampu lalu lintas. Dan nampaklah anak-anak negeri yang kehilangan masa-masanya. Dari mengamen, meminta-minta, menjadi preman, dan
ada beberapa yang menjadi pedagang
asongan. Usia SD dan SMP yang masih sangat muda dan haus ilmu pengetahuan.
Terlalu keras harus melewati keadaan yang tidak pantas diterimanya.
“Apa yang terjadi nanti! Apakah
ini gambaran masa depan bumi pertiwi? Apakah demokrasi sekedar simbol untuk
mempermainkan kami? Masih adakah sang dermawan yang memberi harapan untuk
mereka merasakan hal sama tanpa memandang setumpuk biaya?” Ahh,,, batinku bergejolak
terbawa emosi oleh potret kehidupan di negeri ini.
Saat itulah, aku dan
ke empat teman dekatku, Fandi, Santi, Gilang dan Anggi membuat rumah kecil seadanya
yang peduli dengan anak jalanan. Disebuah rumah yang tidak terpakai oleh warga
sekitar, lalu kami memanfaatkannya. Perjuangan yang keras untuk membujuk mereka, karena karakternya sangat berbeda. Mereka
harus kami didik dari nol. Tindakan mereka yang kasar, bahkan ada diantara
mereka yang suka melawan kami. Anak-anak didik ini sangat kurang dalam segi kesehatan, kasih sayang apalagi pendidikan. Mata
mereka yang nanar dan tubuh mereka yang kurus. Sebagian besar dari mereka tidak
tahu orang tuanya, apalagi tanggl lahirnya. Yah... ketika aku menceritakan
tentang mereka lebih dalam, mungkin air mata ini akan kering.
Namun
setelah dua bulan berlalu, 5 dari 12 anak yang kami didik sudah dapat menyesuaikan
keadaan dan memahami apa yang kami ajarkan. Anak-anak yang sejajar dengan usia PAUD asyik
bermain, mencoret-coret buku. Walaupun jalan pikirannya belum dapat diarahkan
dengan baik. Pagi dan sore hari kami gunakan waktu untuk mengajari mereka
banyak hal, dari bernyanyi, bermain, menulis dan bercerita. Sesekali kami
mengajak mereka berlibur mengunjungi tempat wisata, agar tahu dunia mereka
sebenarnya amat menyenangkan.
Seiring
berjalannya waktu, perkembangan dalam diri mereka
sudah mulai nampak. Kini mereka sudah
sedikit peka dengan lingkungan, mereka sudah tahu
bagaimana menghormati dan tanggung jawab. Aku kagum dengan semangat belajar mereka yang begitu tinggi, rasa
ingin tahu mereka yang besar dan mereka mempunyai kecerdasan yang tidak kalah
dengan anak-anak yang secara ekonomi berkecukupan. Kini mereka tahu arti dari
sebuah cita-cita yang akan membawa mereka terbang tinggi menjadi orang-orang hebat.
Perjalanan
bersama mereka sangat berwarna. Aku menemukan sebuah keluarga baru, anak-anak
negeri dari pelosok kota yang selalu menginsprasi langkahku dan melukis
perjalanan kehidupanku. Namun, inilah hukum dari hidup, disetiap kebahagiaan pasti
akan terselip kesedihan. Siang
itu, usai kami mengunjungi taman bermain. Ada seorang lelaki paruh baya yang
menghampiri.
“Maaf mbak… saya hanya menyampaikan
amanat. Kalo Dony disuruh untuk cepat-cepat pulang ke rumah.”
“Ada apa pak? Kok mendadak seperti
ini?”
“Langsung kesana saja mbak, sudah di
tunggu,
permisi.”
“Ada
pa kak?” bisik Dony lirih,
“Kakak
juga tidak tahu, lebih baik kita cepat-cepat pulang.”
Aku dan Fandi bergegas mengantakan
Dony pulang. Santi, Anggit dan Gilang menemani anak-anak lain belajar.
Setelah beberapa menit saja, sampailah
di depan rumah Dony. Kami langsung disambut dengan suasana hening dan bendera
kuning tertancap
mantap di pagar bambu rumahnya yang seakan semakin rapuh melihat penghuninya harus
meninggalkan bumi. Aku memeluk Dony erat, dia hanya terdiam panjang, dengan lautan bening di sudut mata yang
isyaratkan kesedihan amat dalam. Aku tidak tahan melihat keadaan ini, batinku
berkecamuk dan meronta-ronta ingin berteriak sekeras-kerasnya. Rasanya aku
ingin marah, “Hidup ini tak adil!.” Fandi menyadarkanku, aku tidak boleh larut
dengan kesedihan, ini takdir tuhan. Aku seka air mata bocah cilik ini dengan
senyuman yang membohongi batinku. Dony salah satu anak yang masih mempunyai ibu, kini harus
menjadi yatim piatu, setelah 3 bulan lalu ayahnya kembali kepada sang Kuasa.
Tanggal
17 Agustus pun tiba, hari yang dinanti
semua masyarakat Indonesia. Hari yang amat bersejarah. Terutama untuk kami,
karena hari ini kami mengisi acara besar di jalanan, pentas seni yang kami isi
dengan tema aksi anak Indonesia. Kami berpakaian baju dari berbagai daerah,
lalu kami menari dengan serempak.
Detik masih berjalan mengikuti jalannya menit.
Sementara suasana berubah satu tahun ini. Rumah belajar kini semakin ramai
dengan coretan anak-anak, dinding dipenuhi dengan tulisan mimpi-mimpi mereka. Bantuan
yang kami dapat dari beberapa daerah cukup untuk memperbaiki rumah belajar dan
membeli berbagai perlengkapan belajar.
“Aku ingin sekolah kak, seperti
mereka.” Aku tercengang mendengarnya, Dony menatapku malu-malu. Ini menjadi pekerjaan besar,
kami akan memasukannya di salah satu sekolah yang dikenal bagus di daerah
tersebut. Memang kedengarannya mustakhil, tetapi tidak untuk kami, bukankah
setiap manusia dibebaskan bermimpi setinggi langit, tak peduli anak kolong
sekalipun, tidak peduli cemoohan orang lain. Kami yakin semua masih dalam
genggaman tuhan.
Waktu satu bulan adalah waktu yang
sangat singkat untuk kami mengajarinya banyak hal. Namun, fikiran tersebut
hilang, seketika kami melihat semangat belajarnya yang begitu tinggi. “Tuhan, lihatlah
anak-anak kolong ini, dengarkanlah bisikan hati mereka dan genggamlah
mimpi-mimpi mereka.” Batinku yang berbisik lirih.
Malam-malam pun berlalu bersama
angin, bulan dan bintang. Malam yang menerbangkannya mengarungi hingga dua
tahun ini kami bersama. Usai Dony pulang sekolah. Kami semua berkumpul di
tempat belajar, duduk melingkar bercanda ria. Aku pandangi wajah mereka satu
persatu, Ahmad yang sekarang sudah berumur 15 tahun, Dony yang sudah memakai
seragam sekolahnya, Rena yang tumbuh menjadi gadis cilik cantik dan suka
melukis, Rafa berumur 10 tahun yang suka dengan musik gitarnya. Dan sebagian
anak-anak lainnya dengan bakatnya. Dan satu anak didik kami Della namanya, yang
harus pergi bersama orang tua barunya. Kelu bibir ini untuk berucap, ingin
lebih lama lagi hidup bersama mereka. Namun tidak mungkin, kami mendapatkan
apresiasi dari pemerintah, beasiswa untuk melanjutkan kejenjang yang lebih
tinggi, melanjutkan kuliah setelah beberapa kali izin, dan beberapa bulan ini
aku dan Fandi harus fokus untuk skripsi. Satu minggu lalu kami membuka
pendaftaran untuk siapa saja yang benar-benar ingin bergabung di rumah belajar.
Dan kami tidak menyangka, banyak yang tertarik dengan komunitas ini.
Dengan nada yang bergetar, aku harus
mengatakannya ”Kakak sangat sayang kalian. Terimakasih kalian mengajari kakak
banyak hal. Kalian adalah anak pertiwi yang hebat. Karena itu, teruslah
belajar, berikan yang terbaik untuk dunia. Tunjukan kepada semua orang kalian
tidak seburuk yang mereka kira. Berikan manfaat dan perubahan untuk negeri.
Kami harus meninggalkan kalian.” Suasana berubah sepi senyap ditambah tangisan
lirih dari beberapa anak. Tak kuasa aku meliahatnya lama-lama, kami pun
bergegas keluar menyembunyikan kesedihan, yang dibalut dengan senyum tipis penuh
makna.
Kami mulai melangkah jauh
meninggalkan tempat ini, tangisan mereka adalah bukti nyata, mereka anak-anak
jalanan yang butuh kasih sayang dan didikan kita semua. ‘Tuhan, jika kami
diberi kesempatan panjang, izinkam kami lebih lama bersama mereka kembali,
untuk berbagi.”
*)Mahasiswa Prodi PGMI 2012
Penggiat satra di LPM PARADIGMA
Komentar
Posting Komentar