Tarbiyah, Paradigma
Online
Untuk bisa menjadi seorang penulis yang hebat, diperlukan
kontinuitas dan komitmen. Jurnalis atau penulis itu mempunyai dampak yang
positif. Berapa tahun yang akan datang sekalipun, kita masih bisa menjumpai
karya atau jejak kita. Bahkan tulisan atau karya kita bisa menjadi cerita.
Hal demikian disampaikan oleh Aninditya Sri Nugraheni,
Dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, saat ditemui Paradigma di ruang dosen PGMI, Rabu
(26/03).
Ia juga menerangkan bahwa walaupun sampai meninggal,
karya kita masih bisa dinikmati oleh orang lain. "Misalnya saja seperti
Kuntowijoyo. Walaupun ia sudah meninggal, tulisan-tulisannya masih bisa dibaca
dan digali oleh orang lain." Ungkap Aninditya, Pembina baru LPM Paradigma.
Selain itu, Aninditya juga mengungkapkan bahwa kita
berkarya atau berorganisasi jangan sampai mengganggu aktivitas akademik kita.
"Makalah yang biasanya kita tulis sebaiknya kita manfaatkan, yaitu dengan
cara membuat artikel yang kemudian bisa dikirim ke media. Menulis
akan menunjang akademik kita." Ceritanya kepada Paradigma dengan santai.
"Intinya adalah pada nyali atau mental. Jadi
mahasiswa yang ingin jadi penulis, janganlah berhenti untuk mencoba. Jangan
sampai kita mengirim satu atau dua kali karya kita, sudah mulai bosan"
tuturnya.
Kikin

Congratulation to ibu Anin sebagai Pembina LPM Paradigma yang baru, kedepan semoga semakin mamapu menuju transformasi pendidikan yang sebenar-benarnya. :)
BalasHapusSemoga kita dan khususnya saya, tidak hanya bisa berangan-angan bisa berkarya. Tapi, langsung di realisasikan dalam kehidupan... =D
BalasHapuswah. jos iki. bu anin pembina baru.
BalasHapussip... sip...