Pgmi, Paradigma Online
Mahasiswa PGMI semester empat dan enam
menempati ruang 403 untuk mengikuti perkuliahan Psikologi Belajar yang diampu oleh
Ibu Maemunah, Senin (17/03). Mata kuliah kali
ini akan membahas tentang teori humanistik yang dipresentasikan oleh Raha,
Tina, dan Laila. Diskusi diawali dengan ceramah dari presentator. “Inti
dari teori humanistik adalah memanusiakan manusia,” papar Raha.
Selanjutnya,
tina menjelaskan beberapa tokoh teori humanistik yang memiliki ciri khas
masing-masing, salah satunya adalah Bloom. Agar pembelajaran lebih efektif,
Bloom membagi menjadi tiga ranah yang harus dipelajari peserta didik, yaitu
kognitif, afektif, dan psikomotorik. “Sekitar tahun 1956, Bloom membagi
aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.”
Setelah
presentasi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Raha, yang bertindak sebagai
moderator memberikan dua sesi pertanyaan. Sesi pertama diperuntukkan untuk tiga
orang penanya. Alhasil, ada tiga penanya yang mau angkat suara. Pertanyaan
pertama berasal dari Marnoe, ketua kelas pada kelas tersebut, “Teori apa sih
yang sekiranya pada zaman itu diterapkan di zaman ini?.”
Disusul
oleh Kina, “Bagaimana caranya siswa tu bisa tau potensi dirinya?,” paparnya
sambil menggerak-gerakkan kakinya. Dan yang
terakhir berasal dari Puji. Ia menanyakan terkait teori Honey yang membagi
karakteristik siswa menjadi empat tipe, yaitu kritis, pragmatis, reflektif, dan
teori. Dari keempat karakteristik di atas, mana yang paling efektif?
Semua pertanyaan ditampung oleh
presentator. Tidak perlu menunggu lama, akhirnya Tina bersedia menjawab
pertanyaan Marnoe. Ada beberapa teori yang bisa diterapkan pada saat ini.
Seperti yang dijelaskan Tina, “Teori Bloom bisa ditetapkan dalam pendidikan
sekarang, contohnya kurikulum 2013.” Selain itu juga ada tambahan dari Laila, “Begitu
juga dengan teori Honey. Teori ini sudah bisa diterapkan pendidikan masa ini,”
imbuhnya.
Menanggapi
pertanyaan kedua, tina mewakili teman-teman presentator menerangkan dengan
gamblang. Ia mengatakan bahwa untuk merangsang siswa supaya menyadari potensi
dirinya, maka seorang guru harus tahu ilmunya dulu, dalam hal ini adalah
psikologi. Entah itu psikologi belajar, psikologi perkembangan ataupun lainnya.
Selain itu juga bisa menggunakan tes potensi. Dengan demikian, guru dapat
mengetahui potensi siswa.
Sesi pertama sudah selesai. Lanjut
ke sesi kedua yang berhasil menelurkan tiga penanya pula. Pertama berasal dari
Imron yang menanyakan tentang teorinya Honey. “Dalam teorinya Honey kan ada empat macam karakteristik siswa.
Pertanyaan saya, pada umur berapakah karakteristik tersebut terbentuk,”
ungkapnya.
Disambung
oleh Faisal. Ia menanyakan tentang keterkaitan keempat tokoh teori humanistik.
“Kalau kita perhatikan, masing-masing tokoh memiliki ciri khasnya sendiri.
Terus, apa hubungannya antara satu dengan lainnya,” paparnya.
Dan
yang terakhir adalah Zaka. Ia menanyakan mengenai pembelajaran humanistik yang
lebih menekankan pada proses belajar daripada tujuannya. “Lalu bagaimana kalau
ada anak yang di kelas tidak aktif, tetapi saat ujian nilainya mumpuni dan
melebihi dari yang lain,” Tegasnya.
Ketiga
pertanyaan tersebut langsung disambut baik oleh para presentator. Mereka menanggapi pertanyaan-pertanyaan
dengan cepat hingga berakhirnya perkuliahan. Di akhir perkuliahan, Ibu Maemunah
menglarifikasi argumen-argumen yang kurang sesuai. Namun, justru klarifikasi
yang disampaikan beliau menimbulkan pertanyaan di benak mahasiswa. “Kalau misalkan
diberlakukan pemisahan kelas pandai dan kurang pandai, apa nantinya tidak
terjadi kecemburuan sosial?,” tanya salah satu mahasiswa.
Imron Mustofa
Sip. Apalagi ketika berita tersebut menerapkan penggunaan huruf kapital dengan baik pasti akan lebih "cantik".
BalasHapussiap. .mngkin btuh bimbingan biar kedepannya tidak terjadi kekhilafan seperti ini lagi. .
BalasHapus