Kru LPM Paradigma menghadiri diskusi
rutin yang diselenggarakan oleh forum lintas LPM yang menamakan dirinya Gondes,
Selasa (25/03) di halaman Convention Hall pukul 16.16 WIB. Diskusi yang diikuti
oleh 7 kru LPM Paradigma dan LPM-LPM lain ini mengangkat tema “Gender”.
“Dalam buku Feminis karya Gadis Ariva
dikatakan perempuan mempunyai hak bekerja di luar rumah. Perempuan dilindungi
secara hukum dari kekerasan rumah tangga. Perempuan berhak atas pendidikan
tinggi, dan sebagainya,” papar Nisa, pemantik diskusi.
Bicara soal gender memang menarik,
apalagi yang menyangkut perempuan. Banyak kebijakan publik yang sangat
diskriminatif terhadap perempuan. Stigma-stigma perempuan pun tersebar di
tengah-tengah masyarakat. Hal inilah yang mengusik kenyamanan perempuan.
Perempuan yang sering diidentikan dengan kaum lemah, tidak bisa berkutik ketika
terbentur dengan masalah pelik seperti ini. Ketidakadilan pun merambat sampai
ke dalam lingkup keluarga, khususnya perempuan yang ingin mempunyai anak lebih
dari dua. Mereka merasa terdzalimi
dengan adanya program KB dari pemerintah. Seperti yang disampaikan oleh Nisa,
“Hak-hak perempuan dalam reproduksi dibatasi secara legal formal oleh negara,”
ungkap Nisa.
Kali ini, Gondes juga mendatangkan tamu
dari organisasi Perempuan Mahardika, organisasi yang memperjuangkan hak-hak
perempuan. Dede -salah satu tamu dari Perempuan Mahardika- mengatakan bahwa
banyak dari pihak kepolisian ketika menyidik korban kekerasan seksual –terutama
perempuan- melakukan hal-hal yang memojokkan korban itu sendiri.
“Pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan perempuan terus ditanyakan oleh
penyidik kepolisian,” kata Dede. Fenomena seperti inilah yang membuat ciut
nyali para korban kekerasan seksual ketika ingin melaporkan dirinya ke pihak
berwajib. Penindasan kaum perempuan pun tidak bisa dihindari. Dede berharap,
kebijakan-kebijakan publik yang diskriminatif dihilangkan. Dengan demikian,
tidak ada lagi penindasan yang menimpa perempuan.
Menanggapi pernyataan Dede, Rusli
mengatakan bahwa yang dibutuhkan bukan perombakan sistem ataupun perjuangan
dengan pergerakan-pergerakan tertentu, tetapi penggeseran paradigma masyarakat.
“Kalau paradigma atau mindset masyarakat masih subyek-obyek, saya rasa gerakan
apapun tidak bisa (membantu-red),”ungkap Rusli. Paradigma seperti inilah yang
perlu dirubah. Paradigma subyek-obyek dirubah menjadi subyek-subyek. Menurut
Rusli, semua permasalahan di atas terjadi karena tidak adanya kesadaran diri.
“Masalah kita adalah kesadaran. Melahirkan kesadaran akan membentuk lingkungan,”
imbuhnya.
Imron
Komentar
Posting Komentar