Jumat, 4 April 2014, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Islam Negeri
Sunan Kalijaga angkatan 2012 mengadakan bakti sosial (Baksos) selama tiga hari di kota
Magelang, dusun Prampelan Adipuro, kecamatan Kaliangkrik tepatnya di
kaki gunung Sumbing yang bertemakan “Menumbuhkan Jiwa Sosial Melalui Kontribusi
yang Nyata Bagi Masyarakat.” Kegiatan ini dilakukan untuk mewujudkan jiwa sosial Mahasiswa PGMI angkatan 2012, yang nantinya akan berkecimpung dalam masyarakat, sekaligus mempererat persaudaraan antar kelas. Salah satu dari beberapa acaranya adalah mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Dasar (SD) kelas
1 sampai 3, kegiatan mengajar tersebut bernama “ Aksi Pengajar Muda
PGMI”.
Aksi pengajar muda
PGMI ini dilaksanakan di hari ke dua, tepatnya tanggal 5 April 2014, sebagai
wujud nyata calon pendidik. Kegiatan pembelajaran dirancang sedemikian rupa
oleh divisi penididikan mulai dari mengolaborasikan model pembelajaran,
penggunaan media yang dapat menarik perhatian peserta didik dan pembagian
dorprise untuk anak yang aktif di kelas sekaligus sebagai motivasi belajar.
“Adapun konsep pembelajarannya yang dipilih seperti yang dikemukakan oleh Sri
Sultan Hamengkubuwono Bermain sambil belajar, permainan yang
disisipi dengan belajar mengundang semangat tersendiri bagi peserta didik.
Ketika peserta didik sudah merasa nyaman, maka materi yang disampaikan oleh
pendidik akan mudah diterima,” Tegas Imron Mustofa selaku anggota divisi
pendidikan.
“Materi yang akan disampaikan tentang agama dan umum, yaitu matematika berupa; bangun datar, perkalian dan cara perhitungan
menggunakan sempoa yang notabene sekarang sudah jarang sekali ditemui di
sekolah-sekolah dengan alasan tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Padahal
nilai perhitungan dengan sempoa lebih tinggi daripada penggunaan kalkulator,”
tambah Rohmatul Laelah salah satu anggota divisi pendidikan saat rapat
pelaksanaan baksos.
Proses pembelajaran tersebut berupa praktik langsung dengan
alat peraga hasil pinjaman dari dosen pengampu matematika PGMI dan puluhan
sempoa dari sumbangan mahasiswa sendiri. Anak-anak tersebut menyambut gembira
kedatangan divisi pendidikan dan sangat antusias mengikuti pembelajaran yang
dilakukan hanya dalam waktu 120 menit.
Kegiatan ini sangat
patut menjadi perhatian semua warga masyarakat khususnya mahasiswa dan
terpenting adalah pemerintah. Daerah Pramelan masih bisa dikatakan primitif,
ekonomi yang sederhana dan pendidikan yang kurang terdukung berupa bangunan
yang sudah semakin rapuh, atap-atap yang bocor serta alat-alat yang digunakan
sebagai pendukung kegiatan pembelajaran masih sangat minim. Bahkan aksesoris
seperti gambar-gambar, jadwal piket, struktur kelas tidak ada di dinding
apalagi perpustakaan, hanya ada papan tulis, papan absensi dan kapur serta
penghapus. Lebih-lebih pengajar yang sedikit dan kepala sekolah yang merangkap
menjadi dua di SD dan SMP 1 Atap membuat peserta didik kurang terkondisikan
dengan baik.
Selayaknya mahasiswa sebagai generasi penerus untuk memberikan
kontribusi nyata bagi anak-anak Indonesia seperti guru panggilan jiwa dan
pemerintah yang seharusnya lebih memperhatikan daerah tersebut, terutama gedung
sekolah yang sangat jauh dari kata nyaman. Kegiatan mengajar itu
diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan berupa buku-buku, alat peraga sempoa
dan gambar-gambar yang mendukung proses belajar di kelas.
Nur Tanfidiyah
Komentar
Posting Komentar