Selasa pagi (1/04), Khaerul Fauzi, Dewan Pertimbangan Organisasi
(DPO) LPM Paradigma dibangunkan dengan adanya telepon yang mengaku dari pihak
kemahasiswaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
“Saya ditelepon orang yang mengaku dari pihak kemahasiswaan UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta, dia meminta data anggota LPM Paradigma untuk
pendataan” ceritanya kepada Paradigma.
Ia juga menceritakan bahwa setelah ditelepon yang mengaku dari
pihak rektorat untuk meminta data anggota LPM Paradigma, ia langsung memberikan
data semua anggota LPM Paradigma melalui SMS. Data yang dikasihkan yaitu nomor
Hand Pone dan nama lengkap.
Siang harinya, anggota LPM Paradigma mulai ditelepon dari nomor
yang tidak dikenal. “Saya ditelepon orang yang mengaku dari Direktorat Jederal
Pendidikan Tinggi, pada saat itu yang ngakunya lagi bersama Rektor. Saya
dikabari akan didelegasikan dalam acara seminar di Jakarta pada tanggal 5-6
April 2014. Kemudian saya disuruh mengirimkan nomor rekening, karena katanya
akan ditransfer uang sebesar 7 juta.” Cerita Prisdiana, Mahasiswa Kependidikan
Islam angkatan 2011, Rabu (2/4) di kantor LPM Paradigma.
Pridiana yang akrab dipanggil Dian tidak langsung mengirimkan nomor
rekeningnya, karena ia tidak mempunyai nomor rekening. Pada saat itu pula, ia
disuruh orang yang menelepon itu untuk meminjam nomor rekening temannya. “Hal
itu tidak saya gubris” tambahnya.
Begitu juga dengan Hikmatul Laila, Mahasiswi PBA 2012, setelah
mendapatkan telepon yang sama, ia kemudian menanyakan hal itu kepada teman-temannya
di Sosial Media. “Siapa yang mempunyai nomor Hp Rektor UIN Sunan Kalijaga? Barusan
saya mendapatkan telepon dari Rektor, yang katanya akan merekomendasikan saya
untuk menghadiri seminar di Jakarta pada tanggal 5-6 April bersama mahasiswa
utusan yang lain dengan biaya akomodasi dan transportasi ditanggung kampus
senilai Rp. 7.000.000.” Ceritanya di Sosial media. Ia juga menjelaskan bahwa
nomor yang meneleponnya adalah 085723915554.
Sebelum diskusi Garasi LPM Paradigma dimulai, para anggota LPM paradigma
saling bercerita terkait hal itu. Sekitar delapan orang yang ditelepon dengan nomor yang sama. "Saya
ditelepon berkali-kali dengan menggunakan nomor tersebut. Saya balas lewat sms
kalau saya lagi ujian, malah ditelepon lagi” Cerita Artha Pradika.
“Penipu itu hebatnya tahu namaku dan jurusanku. Data diriku meluas,
kok bisa ya?” Ungkap Khiara, Mahasiswi MPI 2012. Lain halnya dengan Nur Tanfidiyah,
ia sangat kecewa dengan aksi penipuan itu. Karena ia sudah mengirimkan nomor
rekening “Saya merasa tertipu” ungkapnya dengan nada Geram.
Kamis pukul 13:15, Khaerul Fauzi bersama Nur Sholikhin mendatangi
kantor kemahasiswaan UIN Sunan Kalijaga untuk memperjelas hal itu. Mereka
bertemu dengan Antin, petugas yang berada di ruang kemahasiswaan. “Wah itu
tidak benar mas. Kami tidak ada program pendataan mahasiswa, khususnya anggota
LPM Paradigma Fakultas Ilmu Tarbiyah. Apalagi mendelegasikan mahasiswa untuk
datang seminar ke Jakarta. Walaupun ada, kami akan menginformasikan terlebih
dahulu kepada Wakil Dekan bidang kemahasiswaan.” Ungkapnya.
Ia memberikan wejangan agar hati-hati dengan kasus tersebut. Karena
pernah ada salah satu dosen yang tertipu sebesar Rp. 8.000.000. “Diinformasikan
kepada teman-temannya, hal itu tidak benar dari pihak kemahasiswaan atau
rektorat” ungkap Antin.
Kikin
sumber gambar: http://www.nonstop-online.com
sumber gambar: http://www.nonstop-online.com

pertamax
BalasHapus