Langsung ke konten utama

Kekerasan dalam Pacaran



Sumber gambar: www.bintang.com
Banyak macamnya kekerasan dalam pacaran yang sadar maupun tak sadar terjadi, mulai dari fisik, ekonomi, mental, dan seksual

Hal ini disampaikan Edwin Widianto saat menjadi narasumber pada Diskusi Beranda Perempuan Hari Valentine dan Hari Tanpa Kekerasan dalam Pacaran di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Fakultas Teknik (PKM FT) UNY, Jum’at (12/02).

Kekerasan fisik dan seksual, menurutnya, kerap menimpa pihak perempuan. “Kekerasan ekonomi dan mental cenderung menyerang kaum laki-laki,” papar Edwin.

Diakui atau tidak, pacaran sudah menjadi gaya hidup pelajar Indonesia terutama yang duduk di bangku sekolah menengah bahkan kuliahan. Namun tanpa disadari kekerasan telah muncul di tengah-tengah hubungan mereka.
 
Menurut Edwin, terjadinya kekerasan dalam pacaran di kalangan kaum terpelajar lantaran minimnya pengetahuan tentang kekerasan. “Pengetahuan kekerasan dalam pacaran masih minim di kalangan mahasiswa,” ujar Koordinator Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) LPMT Fenomena.  

Selain itu, imbuhnya, kekerasan juga terjadi karena suburnya budaya patriarki di Indonesia. “Perempuan belum bisa melihat dirinya setara dengan laki-laki,” katanya. 

Hal senada disampaikan Bekti, Sekretaris AJI Yogyakarta. Ia mengungkapkan bahwa budaya patriarki kerap memunculkan kekerasan dalam pacaran.

“Apabila dalam pacaran berlaku budaya patriarki maka kekerasan akan muncul, sebab relasinya tidak setara,” paparnya. 

Ia juga menambahkan bahwa kekerasan dalam pacaran bisa diukur dari hak individu yang dibatasi . “Kekerasan itu ukurannya apabila ada salah satu pihak merasa terpaksa dan hak dasar tidak merdeka,” imbuh Bekti. 

Diskusi yang berlangsung sekitar dua jam ini merupakan kerjasama antara AJI  Yogyakarta dan Yayasan SATUNAMA dengan LPMT Fenomena UNY.[Solkhan]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

karikatur

puisi- Di Gubuk Itu

Di Gubuk itu Oleh : Lembaran Hitam* Di gubuk itu Aku melihatmu Duduk menatap sebuah buku dalam genggaman Jika ku lihat, Sangat sederhana sekali gubuk itu berdinding bilik yang di anyam berlapis karpet merah terbentang Dengan lampu-lampu hiasan tergantung Tapi aku tidak melihat dari bentuk Ataupun hiasan Aku melihat dari kesungguhan pikiran Aku melihat dari coretan yang kau tuliskan Dan aku melihat dari gagasan yang kau sampaikan Di gubuk itu, Pejuang visi dan misi mengotak-atik lampiran Manjadi penentu yang berpatokan Buku merah kau jadikan pelajaran Cerminan tanggung jawabmu di akhir jabatan Di gubuk itu Kau rumuskan rancangan kegiatan Menuliskannya dalam sebuah buku sederhana tapi menentukan Tidak bisa disepelekan Juga tak bisa diabaikan Sekali lagi Di gubuk itu . . . *) Penulis adalah mahasiswa PBA 2012 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta