![]() |
| sumber gambar: sharingdisini.com |
Oleh: Ali Munir Sangkakala
Burung-burung
bernyanyi lirih, daun-daun luruh terpisah dari tangkai ke tangkai. Mentari
tertunduk mendekati senja yang menjadi tempat pelabuhan siang dan siap
melepas sang mega perpisahan.
Sore
itu, aku seperti orang yang sibuk mondar mandir kesana kemari, menyiapkan
barang-barang dan meletakkannya ke dalam kardus. Aku akan kembali ke jogja,
merantau, setelah empat hari aku pulang kampung karena ayahku yang sedang
sakit. Ayahku terkena infeksi paru-paru dan dirawat di rumah sakit selama satu
minggu. Kata dokter, penyakitnya sudah terlanjur parah dan sulit untuk
disembuhkan. Akibat penyakitnya itu, ayah seringkali batuk darah dan sulit
makan. Tenggorokan ayah sudah terinfeksi dan luka memar. Kata ayah, dia
disantet melalui gula oleh teman kerjanya waktu dulu masih bekerja di desa
orang lain sekitar satu tahun yang lalu. Saat itu ayah sedang tidur dengan
mulut ternganga dan disuap dengan gula merah oleh temannya, kemudian tertelan. Menurut
ayah, gula itu bisa mengakibatkan penyakit batuk berkepanjangan dan berakhir
pada kematian. Sudah banyak korban berjatuhan. Hal itu membuatku semakin khawatir
dengan keadaan ayah.
Semua
barang bawaan telah aku siapkan. Aku melangkahkan kaki pelan menghampiri ayah
yang sedang duduk termanggut di langgar tempat makan tidurnya layaknya rumah,
sambil menempakan dagu di atas lututnya. Sekilas aku lihat raut mukanya yang
pucat dan berkerut, kehilangan daging akibat penyakitnya. Ayah tampak takut
berpisah lagi denganku yang akan kembali merantau ke jogja, tempat aku kuliah. Aku
terpaksa berangkat untuk melanjutkan kuliahku yang sudah empat hari
ditinggalkan.
Air
mata ayah mengalir seakan tak kuasa melepas kepergianku, tampak baginya hari
ini adalah hari terakhirku bersamanya.
"Ayah,
aku berangkat!" aku berpamitan dengan suara lirih, selirih tangisan hati
yang tak tega berpisah dengan ayah. Aku mencium tangannya yang kaku. Tak
terdengar suara jawaban darinya, hanya katupan bibirnya yang lunglai dan tangan
yang menyeka air matanya seakan tidak rela melepasku.
"Maafkan
aku, ayah!" gumamku dalam hati. Aku terpaksa berangkat ke jogja karena
misi pendidikan yang tak bisa aku tinggalkan.
Aku
melangkah turun dari langgar. Aku bersalaman dengan semua keluargaku dan
orang-orang yang ada di sekitarku. Aku menolehkan muka pada ayah masih
termanggut di langgar. Semakin tampak muka sedih dan aliran air matanya. Hatiku
menangis. Namun aku tetap menampakkan muka yang biasa saja seakan tidak terjadi
apa-apa. Kemudian aku berangkat di antar pamanku ke terminal bus kota.
Di
perjalanan, anganku terus bergumam tentang ayah. Entah apa yang akan terjadi
setelah ini. Aku tak berhenti berharap keajaiban Tuhan agar ayah segera sembuh
dari penyakitnya, sampai suatu saat aku kembali ke rumah dan membalas budi ayah
yang telah membahagiakanku sejak kecil.
Hari
demi hari berlalu. Aku sering menelpon kakakku untuk menanyakan kabar ayah.
"Ayah
baik-baik saja. Hanya saja dia sulit makan karena tenggorokannya sakit. Minum
obat juga jarang. Katanya dadanya panas, gak kuat" Kata kakakku suatu
ketika lewat telpon. Kehawatiranku terus mendesah. Karena yang aku tahu ayah
masih kuat makan dan minum obat di hari-hari kemarin. Tapi aku tetap tabah dan
menunggu keajaiban.
"Sekarang
ayah tidak mau minum obat lagi, Li" Kata kakakku itu membuat badanku
bermandikan peluh seakan kekhawatiranku terus terjadi.
"Dipaksain
dong, kak! Biar sembuh...!" kataku dengan nada sedikit mendesak kakakku.
"Ya,
dia gak mau" Jawabnya dengan nada negatif. Kemudian aku meminta kakak
untuk memberikan telponnya kepada ayah. Aku ingin berbicara sendiri dengannya.
"Ayah,
sampeyan harus minum obat. Biar sembuh!" kataku mendorong ayah untuk terus
meminum obatnya yang diberikan dokter.
"Ayah
sudah tidak kuat, nak. Panas!" kata ayah dengan suara terputus-putus
karena tenggorokannya yang sakit.
"Ya
Tuhan, ada apa ini?" gumamku menangis dalam hati.
"Mungkin
ayah tidak akan bertemu lagi denganmu. Kamu jangan nangis. Ayah minta
maaf!" lanjut ayah dengan suara putus-putusnya.
"Ayah
gak boleh ngomong gitu! Aku masih butuh ayah. Ayah harus kuat! Ayah harus
kuat..........!" aku berseru dengan kucuran air bening di mataku yang tak
bisa aku tahan.
"Mungkin
sudah waktunya!" ayah menegaskan dan menutup telponnya, seakan kami
benar-benar akan segera berpisah alam. Hatiku menjerit, sedih.
Di
malam hari setelah kejadian itu, aku ditelpon oleh tetangga di rumah. Dia
bilang penyakit ayah semakin parah. Ayah sudah tidak lagi bisa bicara dan aku
diminta untuk pulang. Aku pun pulang bersama temanku di malam itu. Pikiranku
kacau tak karuan, entah apa yang sebenarnya terjadi. Langit bukan lagi cerita
tentang rembulan dan kerlipan cahaya bintang-bintang, melainkan bayangan
malaikat yang tersirat dalam keheningan jiwa dan siap menghunus cambuk kematian
yang begitu menyedihkan.
Bayangan
itu menghantarkanku pada fajar pagi tanpa tanda apa-apa. Hanya kehawatiran yang
terus bergumam.
"Ayah
masih ada, kan?" tanyaku dengan nada cemas pada kakakku lewat telpon.
"Masih.
Tapi kamu jangan marah kalau misalnya nanti terjadi apa-apa" Jawab kakakku
mencemaskan.
"Maksudnya?"
tanyaku dengan nada yang lemah.
"Nanti
saja kalau sudah sampai ke rumah" Kakak menutup pertanyaanku dengan
jawaban penuh kehawatiran dan tanda tanya. Aku masih percaya bahwa ayah belum
pergi. Karena yang aku tahu, Tuhan itu tidak kejam. Tidak mungkin Dia mengambil
nyawa ayah sebelum aku bertemu untuk yang terakhir kalinya.
Jam
menunjukkan sekitar pukul sepuluh pagi. Aku dijemput ke terminal bus kota oleh
pamanku. Aku sudah tidak sabar ingin segera melihat keadaan ayah. Di perjalanan
pulang, paman menancapkan gas motornya sampai kami terjatuh.
"Astaga!
Pertanda apa ini?" gumamku dengan perasaan gelisah. Beruntung kami tidak
mengalami luka parah dan masih mampu melanjutkan perjalanan.
Beberapa
saat kemudian aku tiba di halaman rumah tetangga. Aku melihat rumahku. Air
mataku mengalir serasa dunia benar-benar telah berakhir setelah kulihat tenda
terpasang di halaman rumah sebagai tanda terjadinya kematian. Aku menangis,
menjerit dan memanggil nama ayah sekeras-kerasnya. Aku menggila, tak ingat
siapa-siapa. Hanya jeritan jiwa, mengamuk pada orang-orang yang mencoba
merangkul badanku dan membawaku ke hadapan ayah yang tak kuduga kepergiannya.
"Ayah................!
Buka matamu sekali saja, ayah!" teriakku berkali-kali memanggil ayah yang
sudah terkujur kaku di hadapanku. Namun, semuanya percuma. Hanya kepingan
harapan yang telah usang termakan kematian yang begitu kejam, memisahkan
jiwa-jiwa yang kesepian dengan kucuran air mata yang tak kunjung selesai. Dunia
telah dipermainkan sedemikian rupa, selaksa sandiwara matahari yang tak punya
hati menghadiahkan senja pada bunga yang ingin mekar merangkul daun-daunnya
sebelum gugur di telan bumi. Dunia memang penjara kematian.
Setelah
beberapa saat kemudian, aku pun siuman. Air mataku habis terkuras. Ayah sudah
pergi sejak aku masih di jogja dan ditelpon untuk segera pulang. Hari itu
adalah hari kehilangan bagiku untuk yang kedua kalinya setelah sebelumnya aku
di tinggal ibu sejak kecil. Kini, aku harus berani sendiri menjalani hidup dan
menjadi harapan masa depan keluargaku. Aku masih yakin, Tuhan tidaklah kejam.
Sore
semakin beranjak petang. Kisah tentang cakrawala harus berakhir sebelum sampai
di akhir cerita dan pasrah untuk diabadikan pada prasasti senja.
Ayah, kuhadiahkan kisah
ini untukmu
Bukan apa-apa, hanya
sebuah cerita yang akan membuat ruhmu kembali hidup
Hidup dalam hikayat
perjuangan yang tak kunjung usai
Tentang perasan
keringatmu untuk membahagiakanku
Ayah, Kuberikan cerita
ini untuk air mata terakhirmu
maafkan aku yang tak
bisa membalas semua kebaikanmu
Hanya kukirimkan
sebaris do'a dengan linangan air mata
Semoga kau bahagia di
sisi-Nya, di alam sana
Yogyakarta, September 2015
*Lahir pada tahun 1994 di Sumenep Madura. Sekarang
tinggal di daerah Sapen, Demangan Yogyakarta. Tercatat sebagai Mahasiswa UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurusan Manajemen Pendidikan Islam. Aktif di
Komunitas Sastra Gajahwong dan Lembaga Pers Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Buku
antologi puisinya yang pernah terbit berjudul "Sajak-Sajak Di Perantauan"
yang diterbitkan oleh penerbit Ajrie Publisher. Penulis bisa di hubungi lewat: HP.
087738783823. E-Mail: alimunir707@gmail.com.
FB. Aldo Mirash El-maduriyah.

Komentar
Posting Komentar