Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Natas
Universitas Sanata Dharma melakukan kunjungan ke LPM Paradigma di
kantornya, Student Center (SC) UIN Sunan Kalijaga, Jum'at (26/08).
"Kami mau ngasih produk majalah,"
ujar Benediktus Fatabun atau akrab disapa Benfa.
Ia menceritakan, salah satu laporan
dalam majalah tersebut mengangkat isu sensitif tentang perlakuan diskriminatif
yang menimpa orang-orang Papua.
"Butuh dua tahun untuk melakukan
reportase ini," ungkap laki-laki asal Papua itu.
Reportase tersebut menjadi Laporan
Utama dalam Majalah Natas Edisi Januari-Juni 2016. Ditulis Pimpinan
Redaksinya, Pandu Wiyoga, mengungkap tentang kematian warga Papua di
Jogja yang tak pernah diusut tuntas oleh aparat.
Benfa juga menambahkan, bahwa
pengalaman dirinya dalam liputan juga mengisi rubrik Catatan Seorang
Jurnalis. "Kebetulan sesuai dengan yang diangkat. Tapi untuk
laporan mendalamnya, akan kami garap di edisi selanjutnya,"
ujarnya.
Jum'at (15/07) Benfa dan kawannya,
Fileksius Gulo, melakukan liputan aksi Mahasiswa Papua di Asrama
Papua Kamasan I di Jl. Kusumanegara yang dikepung aparat kepolisian
dan beberapa ormas. Selama liputan, ceritanya, ia sempat dirampas
KTP, KTM, dan kartu pers-nya oleh aparat. "Bahkan ketika pulang,
saya diikuti intel," katanya.
Ia juga bercerita, selama beberapa hari
hidupnya nomaden dari satu kos ke kos yang lain. Hal ini untuk menghindar dari
intaian intel. "Tulisan-tulisan saya di kos juga saya pindah ke
kamar teman," ungkapnya.
Repoter : Imron Musthofa
Editor : Ali Munir S.
Sumber Gambar : Potret Acara

Komentar
Posting Komentar