Di Sudut Jogjaku
Mungkin
kepakan sayap malaikat
Yang
terbentang di setiap langkah, telah berlalu
Keelokannya
terpatri di dasar bumi
Tak
berlaku pula bagiku
Hening
sesaat, roda waktu terus berputar
Tak
banyak ruang untuk menitipkan bayang
Aku
pun terbangun, membawakan seikat teratai
Untuk
kau tanam di setiap kelopak mata
Bersama
kemarau yang akan segera tiba
Entah
seperti apa ia akan hidup
Biar
cukup aku risalahkan di teras mimpi
Ambarukmo,
14 September 2014
Seuntai Pagi
Kau
yang membangunkanku tadi malam
Dengan
sesungging keringat yang masih meleleh
Dari
telapak tanganmu
Aku
masih saja menggerutu, dengan sayap-sayap malaikat
Yang
menjadi nyanyian mimpiku
Aku
terhanyut di dekap waktu
Yang
terus menyuntingku
Aku
semakin terlelap
Sedang
kau terus berlari dengan langkahmu
Sesekali
meminta untuk kompromi
Kau
hanya menghela nafas sesaat
O,
malam yang masih memiliki segenggam rasa di ujung sana
Biarkan
aku pulang membawa gerimis di rahim musim
Sebab
hanya kau, satu-satunya yang beratap di setip kedip mataku
Menusuk
puncak imaji dengan perputaran kalender
Memecahkan
setiap tarikan nafas
Membakarnya
dengan kemenyan suci
Sengaja
kurebahkan malam sabitku
Tepat
di urat nadimu
Mengalir
di setiap rentetan sejarah
Menyebar
di sekujur tubuh waktu
Biarlah
Bila
anak senja menjemput kelenjar matamu
Ayat-ayat
rinduku yang tertusuk di kesendirianmu
Mengetuk
pintu salam, barangkali seerat kau mengecupku
Ketika
aku masih dalam dekapanmu
Dan
saat kau terhanyut dalam buaian
Terbawa
pada ketenangan
Diam-diam,
Aku mengintipmu di antara celah-celah sabda
Sleman,
11 September 2014
Sajak
Untuk Ammi
Aku
tahu untuk mengunjungi matamu di kedalaman sana
Aku
harus mendayung lebih keras lagi
Agar
aku sampai pada permukaan yang tak terlihat itu
Bersama
gelegat sunyi yang terus mencengkram
Aku
tetap tak dapat meraih jutaan gemintang
Seandainya
dapat kulukiskan buih malam yang menguap
Di
tengah kebisingannya yang tak lagi ramah
Maka
jemput aku di persimpangan jalan menuju ritual suci
Bekas
rintisan luka di dasar keegoisan
Bila
saja perahuku bocor di tengah kegelapan
Maka
jangan pernah ulurkan tanganmu untuk membutakanku
Meski
malam terus saja berisik dengan penuh keangkuhan
Sedang
kau terus mengarungi kedalaman lautan
Yang
terdampar di pulau terpencil dalam peraduan
Malam
semakin sunyi
Kadang
wajahmu tak tampak di antara gemerlap bintang
Entah
kemana,
Aku
hanya mampu berharap sunyi ini
Akan
menemukan muaranya
Gendeng,
September 2014


Komentar
Posting Komentar