Langsung ke konten utama

Postingan

Refleksi Hari Pendidikan Nasional; Perlukah Reposisi Pendidikan?

Setiap tanggal 2 Mei, masyarakat berlomba-lomba memeriahkan hari pendidikan nasional (Hardiknas). Berbagai acara digelar untuk memperingati momen dalam dunia pendidikan tersebut. Tapi, banyaknya masyarakat memperingati Hardiknas, hanyalah sebatas perayaan dan mengenang jasa para tokoh pendidikan, tanpa mengetahui esensi pendidikan. Peringatan hari pendidikan nasional bukan semata-mata untuk kita mengenang Ki Hajar Dewantara sebagai pencetus pendidikan nasional. Tetapi, sebagai moment kita bersama untuk memperkokoh komitmen terhadap pendidikan. Ketua Dewan Pendidikan DIY, Wuryadi, menjelaskan bahwa Hardiknas adalah moment untuk mengingatkan kembali tujuan pendidikan yang komprehensif, sesuai dengan apa yang pemerintah rumuskan dalam pembukaan UUD 45. “Melindungi segenap bangsa, meningkatkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut serta membina perdamaian dunia. Mencerdaskan kehidupan bangsa mestinya terkait dengan melindungi segenap bangsa, meningkatkan dan memb...

Tata Tertib Mahasiswa Hanya Formalitas?

Tata Tertib Mahasiswa Hanya Formalitas?  Tata tertib (Tatib) mahasiswa merupakan aturan-aturan tentang kewajiban, hak, pelanggaran, dan sanksi bagi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tatib ini menjadi peraturan yang mengikat bagi seluruh warga kampus selama tercatat menjadi mahasiswa UIN Suka. Adanya tatib ini bertujuan untuk menciptakan suasana kampus yang kondusif bagi terlaksananya Tri Dharma Pendidikan. Pertanyaannya kemudian, sudahkah tatib dikampus putih ini terlaksana dengan baik? Dan sejauh mana penegakkan sanksi bagi mahasiswa yang melanggar tatib diberlakukan? Sejauh ini tata tertib mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta khususnya di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan belum berjalan seperti yang diharapkan. Banyak pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh mahasiswa dan luput dari sanksi pihak birokrasi. Terlebih pelanggaran yang berkaitan dengan kepatutan berbusana. Hal ini seolah menjadi bukti lemahnya penegakkan hukum di UIN Sunan Kalijaga.

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Peran RA Kartini dalam Pendidikan RA. Kartini, tokoh perempuan pejuang bangsa ini pantang menyerah untuk memperjuangkan hak-hak perempuan pribumi agar mendapatkan pendidikan layaknya seperti laki-laki pada saat itu. Perempuan kelahiran  18 April 1879 ini memiliki pemikiran yang sangat maju seperti wanita-wanita Eropa, hal ini dapat dilihat dari sikap-sikapnya yang selalu mengumpulkan buku-buku untuk dipelajarinya. Walaupun ketika itu beliau masih berusia 12 tahun tetapi beliau sudah dipingit, namun semangatnya untuk memperjuangkan hak-hak wanita tidak pernah surut. Peran Kartini dalam pendidikan di Indonesia sangatlah tinggi, hal itu merupakan salah satu kontribusi perempuan dalam pendidikan yang dicetak dengan tinta emas dalam sejarah. Pada masa itu, kondisi pendidikan sangatlah memprihatinkan, khususnya bagi kaum perempuan. Anak-anak di bawah usia 12 tahun masih diperbolehkan menginjak pendidikan di sekolah. Akan tetapi setelah 12 tahun mereka tidak diperbolehkan lagi be...

Az - Zahrah : Menuju Pendidik Berbasis Seni

Az-Zaahrah: Menuju Pendidik Berbasis Seni Di tengah kesibukannya mahasiswa pada jam kuliah, Sanggar seni Az-Zahrah melakukan kegiatan launching buku antologi puisi. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Ruang pertemuan Fakultas Tarbiyah dan keguruan UIN Sunan Kalijaga, kamis (4/04). “Selama ini yang kalian kenal kami dengan seni musiknya, tetapi kami akan mewujudkan karya yang dapat dikenang” ujar petinggi Az-Zahra, Mizan Habibi. “Sebelum launching buku puisi ini, kami melakukan latihan penulisan kepada anggota Az-zahra. Kemudian sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut, kami membuat antologi antologi puisi” tambahnya. Kegiatan  yang dilaksanakan tersebut turut dihadiri oleh beberapa mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan kalijaga. Sebelum acara dimulai dan sebagai selingan acara, sanggar seni Az-Zahra menampilkan beberapa seni musik. Kegiatan yang dilaksanakan oleh sanggar Seni Az-Zahra turut di apresiasi oleh PD III, Sabarudin Msi.

Tak Semua Malaikat Bersayap

Tak Semua Malaikat Bersayap Oleh : Nur Cahyani Gundukan tanah itu masih memerah. Padahal sudah tiga hari lalu tanah itu diangkat dan dikembalikan lagi ke tempatnya. Kering. Satu hal yang hanya dapat aku rasakan kini. Air mata inipun sulit untuk keluar meskipun telah dipaksakan sedemikian rupa. Aku lebih mendekat dan mendekat lagi. Suasana masih saja lengang serasa tak berpenghuni. Dan aku sendiri. Sepi. Hanya kenangan dan memeori masa lalu yang terus berputar di atas kepalaku. Tiga hari sudah aku meyakinkan diriku sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi terlambat. Aku harus mengakui bahwa kini aku telah kalah atau lebih tepatnya dipaksa mundur. Dan sekarang aku di sini, tepat di depan tempat peristirahatan orang yang aku benci atau malah aku sayangi. Entahlah, aku masih saja berpikir bahwa akulah pembunuh orang di hadapanku kini. ***

Salam Redeksi

Salam Redaksi... Dijatuhkan pada dua pilihan, antara berhenti atau melanjutkan. Itulah kenyataan pahit yang harus dihadapi krew LPM Paradigma ketika harus menyelesaikan buletin edisi April ini. Ditengah kesibukan menghadapi Ujian Tengah Semester dan kegiatan lain diluar kampus membuat beberapa krew paradigma tidak dapat turut aktif dalam buletin kali ini, sehingga tim redaksi merasa kesulitan untuk mencari personel. Selain itu, kesibukan pihak birokrat untuk ditemui terkait pencarian informasi sebagai bahan berita menjadi  tantangan pelengkap bagi kami untuk tidak menyebutnya kendala. Bukan insan pers namanya jika mudah menyerah. Dengan sisa sedikit waktu dibulan April, kami bertekad untuk menyelesaikan Buletin yang telah lama terkatung-katung di meja redaksi. Mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan, hingga akhirnya tersajilah buletin yang ada ditangan anda ini. Alhamdulillah... Buletin edisi kali ini mengusung tema tatatertib mahasiswa, khususnya tata tertib berpakaian b...

Biarkan Aku Sekolah

BIARKAN AKU SEKOLAH Oleh : Mufiati        Dengan penuh amarah aku lari dan membanting pintu kamar yang sudah berlapuk, berwarna coklat agak kehitaman dilapisi jamur putih yang tumbuh sesekali di sudut-sudut pintu. Air mata berlomba-lomba membuat becekan di pipi, bak hujan deras yang tak tertampung dan mampir di tempat-tempat yang mampu dijangkaunya. Sesekali hidung terbendung  oleh gulungan-gulungan hijau dan menutupi sirkulasi udara yang masuk ke tubuh hingga aku tak mampu bernafas. Seperti halnya syair lagu jadul yang aku tak tau siapa nama penyanyinya, tertulis bahwa “hati ini serasa luka yang ditaburi garam”  ketika mendengar apa yang baru saja di sampaikan orang tuaku. Dalam hati aku berkata haruskah aku bekerja hingga ke luar negeri, yang memberikan penghasilan besar untuk membantu membayar hutang orang tuaku? Lalu...  bagaimana dengan impianku untuk terus sekolah dan melanjutkan kuliah nantinya? Atau haruskah aku menerima perjodohan...