Langsung ke konten utama

Salam Redeksi


Salam Redaksi...
Dijatuhkan pada dua pilihan, antara berhenti atau melanjutkan. Itulah kenyataan pahit yang harus dihadapi krew LPM Paradigma ketika harus menyelesaikan buletin edisi April ini. Ditengah kesibukan menghadapi Ujian Tengah Semester dan kegiatan lain diluar kampus membuat beberapa krew paradigma tidak dapat turut aktif dalam buletin kali ini, sehingga tim redaksi merasa kesulitan untuk mencari personel. Selain itu, kesibukan pihak birokrat untuk ditemui terkait pencarian informasi sebagai bahan berita menjadi  tantangan pelengkap bagi kami untuk tidak menyebutnya kendala.
Bukan insan pers namanya jika mudah menyerah. Dengan sisa sedikit waktu dibulan April, kami bertekad untuk menyelesaikan Buletin yang telah lama terkatung-katung di meja redaksi. Mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan, hingga akhirnya tersajilah buletin yang ada ditangan anda ini. Alhamdulillah...
Buletin edisi kali ini mengusung tema tatatertib mahasiswa, khususnya tata tertib berpakaian bagi mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK). Guru dalam filosof Jawa dinyatakan sebagai orang yang digugu lan ditiru. . Digugu Maksudnya dianut. ucapannya, perilakunya, dan tingkah lakunya menjadi panutan untuk murid-murid bahkan untuk panutan masyarakat di sekitarnya. Sedangkan ditiru maksudnya guru menjadi tauladan bagi siswa dan bagi masyarakatnya. Jelaslah bahwa dalam filosof jawa ini menganggap guru sebagai sosok sentral dalam proses pendidikan.Sehingga keberadaan guru diharapakan tidak hanya dapat menyampaikan materi pelajaran saja, namun dapat pula menyampaikan nilai (value) guna mencapai hakikat pendidikan sebagai transfer of value. Termasuk hal yang patut diperhatikan oleh guru adalah cara berpakaian. Sehingga Menjadi wajar ketika tatacara berpakaian mahasiswa FTK  menjadi sorotan utama sebelum memperhatikan kompetensi-kompetensi lain yang harus dimiliki oleh seorang guru.

Hal yang tidak kalah menarik dari dunia pendidikan kita saat ini adalah masalah evaluasi pendidikan. Terdapat tiga ranah yang harus dicapai dari adanya proses pendidikan. Yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Yang ketiganya harus dapat diukur melalui proses evaluasi. Hal kontradiksi terjadi ketika dunia pendidikan saat ini selalu digegerkan dengan persiapan Ujian Nasional yang seolah menjadi momok bagi setiap peserta didik menjelang kelulusan dari setiap jenjang pendidikan. Ujian Nasional dianggap sebagai even sakral yang akan menentukan masa depan mereka. Bukan hal aneh ketika UN dijadikan sebagai media evaluasi, namun menjadi salah ketika UN dijadikan satu-satunya tolak ukur keberhasilan belajar siswa selama 3 tahun duduk dibangku sekolah. Sementara UN sendiri dianggap hanya dapat mengukur kompetensi siswa dari ranah kognitif saja, sedangkan afektif dan psikomotor belum tersentuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Garis Waktu

Judul               : Garis Waktu Jenis                : Kumpulan Cerita Penulis             : Fiersa Besari Penerbit           : Media Kita Cetakan           : VII, 2017 ISBN               : 978-979-794-525-1 Fiersa Besari merupakan sosok pemuda kelahiran Bandung yang akrab dipanggil "bung" dan ternyata lulusan Sastra Ingris tapi lebih suka mengaku lulusan sastra mesin. Bung ini dikenal sebagai Penulis, Penggiat Musik, Pengelana, dan Penangkap Jejak. Sekembalinya dari perjalanan mengelilingi Indonesia dalam rangka mencari jati diri, Bung mulai mengumpulkan tulisannya menjadi sebuah buku yang kemudian diberi judul "Gari...

Belajar Hingga Akhir Hayat

sumber gambar: membumikan-pendidikan.blogspot.com Oleh: Kodri Syahnaidi, Mahasiswa PBA 2015 “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat”. Demikianlah urgensi menuntut ilmu (belajar) yang dianjurkan Rasulullah. Belajar merupakan sebuah kebutuhan bagi setiap manusia.  Karena sebagai manifestasi rasa syukur terhadap anugerah akal pikiran yang hanya bisa digunakan melalui proses pembelajaran. Selain itu, belajar juga dapat mengasah kecerdasan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Belajar juga dapat meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) agar dapat mengelola alam sebagai khalifah (wakil Tuhan) di dunia. Proses pembelajaran pertama kali dilakukan oleh Allah dan Nabi Adam ketika diciptakan. Sampai hari ini proses pembelajaran masih berlangsung di berbagai belahan dunia. Proses pembelajaran sepatutnya berlangsung terus-menerus hingga akhir hayat. Secara formal, pendidikan itu dimulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi. Perguruan tinggi  merupakan t...