Langsung ke konten utama

Salam Redaksi


Alhamdulillah. Sepatah kata yang terurai diiringi senyum dan hembusan nafas lega. Akhirnya, Paradigma bisa kembali menelurkan karya setelah sekian lama terlelap dalam tidur panjang. Bukan hal yang mudah untuk membangun kembali Paradigma pada masa kejayaan sebagaimana yang telah diraih oleh orang-orang terdahulu. Namun, melalui buletin ini, kami akan memulai semuanya dari awal. Layaknya orang yang  tertidur mungkin saat ini Paradigma sudah mulai menggeliat, dan mulai bersiap untuk menghadapi dunia luar.
Ucapan terimakasih kami haturkan kepada segenap pembaca yang selalu setia menunggu dan menanyakan “kapan buletin Paradigma terbit lagi?” Pertanyaan itulah yang selalu membangunkan semangat kami untuk bangkit dan kembali berdialektika dengan dunia jurnalistik serta pendidikan.Ditengah ramainya pro kontra seputar hadirnya kurikulum baru 2013, Paradigma sebagai Lembaga Pers Mahasiswa yang bergelut di dunia pendidikan, mencoba menyampaikan suara dari civitas akademik UIN Sunan Kalijaga khususnya Fakultas Tarbiyah dan Keguruan mengenai hal tersebut. Selain itu, pada edisi ini kami juga menyoroti masalah pengisian Indeks Kinerja Dosen (IKD) online yang mengundang kecemasan mahasiswa disebabkan sosialisasi yang kurang jelas.Setelah melewati perjuangan dan kerja keras tanpa lelah segenap kru Paradigma, akhirnya buletin ini bisa sampai ditangan pembaca. Akhir kata kami ucapkan Selamat membaca!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Garis Waktu

Judul               : Garis Waktu Jenis                : Kumpulan Cerita Penulis             : Fiersa Besari Penerbit           : Media Kita Cetakan           : VII, 2017 ISBN               : 978-979-794-525-1 Fiersa Besari merupakan sosok pemuda kelahiran Bandung yang akrab dipanggil "bung" dan ternyata lulusan Sastra Ingris tapi lebih suka mengaku lulusan sastra mesin. Bung ini dikenal sebagai Penulis, Penggiat Musik, Pengelana, dan Penangkap Jejak. Sekembalinya dari perjalanan mengelilingi Indonesia dalam rangka mencari jati diri, Bung mulai mengumpulkan tulisannya menjadi sebuah buku yang kemudian diberi judul "Gari...

Belajar Hingga Akhir Hayat

sumber gambar: membumikan-pendidikan.blogspot.com Oleh: Kodri Syahnaidi, Mahasiswa PBA 2015 “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat”. Demikianlah urgensi menuntut ilmu (belajar) yang dianjurkan Rasulullah. Belajar merupakan sebuah kebutuhan bagi setiap manusia.  Karena sebagai manifestasi rasa syukur terhadap anugerah akal pikiran yang hanya bisa digunakan melalui proses pembelajaran. Selain itu, belajar juga dapat mengasah kecerdasan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Belajar juga dapat meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) agar dapat mengelola alam sebagai khalifah (wakil Tuhan) di dunia. Proses pembelajaran pertama kali dilakukan oleh Allah dan Nabi Adam ketika diciptakan. Sampai hari ini proses pembelajaran masih berlangsung di berbagai belahan dunia. Proses pembelajaran sepatutnya berlangsung terus-menerus hingga akhir hayat. Secara formal, pendidikan itu dimulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi. Perguruan tinggi  merupakan t...