Langsung ke konten utama

Saatnya Mahasiswa Bicara Kurikulum 2013


Saatnya Mahasiswa Bicara Kurikulum 2013

Dengan adanya kurikulum baru 2013 yang telah diwacanakan oleh pemerintah, itu membuat mahasiswa tidak tinggal diam, khususnya mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Sebagai calon guru, mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Studi ilmu Pendidikan (KSiP) tidak tinggal diam untuk merespon wacana pemerintah tersebut. Ini merupakan hal yang perlu ditiru oleh umumnya mahasiswa.
Kurikulum 2013 menjadi pokok pembicaraan pada Lesehan Pendidikan KSiP edisi kemarin. Acara diskusi yang diselenggarakan hari Rabu tanggal 16 Januari 2013 tersebut menghadirkan dua narasumber, yaitu M. Syamsul Ma’arif, M.Pd.I dan Ali Mustaqim S.Pd.I, serta dimoderatori oleh Deden. Bertempat di Loby Timur Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.
“Acara tersebut diselenggarakan untuk menanggapi kegelisahan kawan-kawan mahasiswa khususnya di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan mengenai kurikulum 2013 yang sedang banyak diperbincangkan banyak kalangan”, ungkap Mufiati, Direktur KSiP yang merupakan penggagas utama kegiatan tersebut. “Dengan mengusung tema ini diharapkan kawan-kawan mempunyai pengetahuan yang lebih mengenai kurikulum 2013”, imbuhnya.
Lesehan Pendidikan KSiP sendiri merupakan kegiatan rutinan yang diselenggarakan oleh Kelompok Studi ilmu Pendidikan (KSiP) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebagai salah satu Badan Otonom Mahasiswa Fakultas (BOM-F) yang bernaung di bawah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, KSiP konsen terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan terlebih dengan isu-isu yang sedang berkembang saat ini.
Di dalam acara yang dihadiri oleh kurang lebih 70 mahasiswa ini, saudara Tomy menyatakan tidak setuju apabila kurikulum yang sudah ada harus diganti dengan kurikulum yang baru. Mengenai RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) juga tidak sepakat kalau harus dihapuskan karena menurutnya RSBI patut dijadikan contoh untuk sekolah-sekolah lain non-RSBI dengan berbagai kelebihannya. Sedangkan Anji mengatakan kenapa pendidikan Indonesia sulit diajak berubah? Padahal kurikulum 2013 kan bagus. “Apabila guru-guru itu suka tantangan (profesional) maka akan menerima kurikulum ini, namun apabila guru-guru tidak suka tantangan (tidak profesional) maka tidak akan menerima kurikulum ini”, ungkapnya.
Ali Mustaqim menanggapi bahwa untuk menerima kurikulum 2013 harus melihat kondisi di lapangan terlebih dahulu karena ada banyak hal yang perlu ditinjau. Ada banyak sisi lain yang hendaknya dikoreksi secara mendalam. Beliau juga menambahkan bahwa hidup itu perubahan, maka jangan takut untuk berubah. Berkenaan dengan hal tersebut M. Syamsul Ma’arif menambahkan untuk menyambut kurikulum 2013 ini hendaknya pemerintah menyiapkan sumber daya manusia (SDM) guru yang benar-benar profesional. Selain itu untuk Perguruan Tinggi Keguruan (PTK) juga diharapkan mampu merealisasikannya dengan menyiapkan mahasiswa-mahasiswa calon guru yang berkompeten. Guru merupakan ujung tombak pendidikan. Di akhir acara tersebut beliau mengingatkan kepada para audiences dengan motivasi “Mari kita tingkatkan kualitas diri kita sebagai calon guru”.
Acara tersebut ditutup pada pukul 17.30 oleh moderator.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Garis Waktu

Judul               : Garis Waktu Jenis                : Kumpulan Cerita Penulis             : Fiersa Besari Penerbit           : Media Kita Cetakan           : VII, 2017 ISBN               : 978-979-794-525-1 Fiersa Besari merupakan sosok pemuda kelahiran Bandung yang akrab dipanggil "bung" dan ternyata lulusan Sastra Ingris tapi lebih suka mengaku lulusan sastra mesin. Bung ini dikenal sebagai Penulis, Penggiat Musik, Pengelana, dan Penangkap Jejak. Sekembalinya dari perjalanan mengelilingi Indonesia dalam rangka mencari jati diri, Bung mulai mengumpulkan tulisannya menjadi sebuah buku yang kemudian diberi judul "Gari...

Belajar Hingga Akhir Hayat

sumber gambar: membumikan-pendidikan.blogspot.com Oleh: Kodri Syahnaidi, Mahasiswa PBA 2015 “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat”. Demikianlah urgensi menuntut ilmu (belajar) yang dianjurkan Rasulullah. Belajar merupakan sebuah kebutuhan bagi setiap manusia.  Karena sebagai manifestasi rasa syukur terhadap anugerah akal pikiran yang hanya bisa digunakan melalui proses pembelajaran. Selain itu, belajar juga dapat mengasah kecerdasan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Belajar juga dapat meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) agar dapat mengelola alam sebagai khalifah (wakil Tuhan) di dunia. Proses pembelajaran pertama kali dilakukan oleh Allah dan Nabi Adam ketika diciptakan. Sampai hari ini proses pembelajaran masih berlangsung di berbagai belahan dunia. Proses pembelajaran sepatutnya berlangsung terus-menerus hingga akhir hayat. Secara formal, pendidikan itu dimulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi. Perguruan tinggi  merupakan t...