Langsung ke konten utama

Peran RA Kartini dalam Pendidikan


Peran RA Kartini dalam Pendidikan

RA. Kartini, tokoh perempuan pejuang bangsa ini pantang menyerah untuk memperjuangkan hak-hak perempuan pribumi agar mendapatkan pendidikan layaknya seperti laki-laki pada saat itu. Perempuan kelahiran  18 April 1879 ini memiliki pemikiran yang sangat maju seperti wanita-wanita Eropa, hal ini dapat dilihat dari sikap-sikapnya yang selalu mengumpulkan buku-buku untuk dipelajarinya. Walaupun ketika itu beliau masih berusia 12 tahun tetapi beliau sudah dipingit, namun semangatnya untuk memperjuangkan hak-hak wanita tidak pernah surut.
Peran Kartini dalam pendidikan di Indonesia sangatlah tinggi, hal itu merupakan salah satu kontribusi perempuan dalam pendidikan yang dicetak dengan tinta emas dalam sejarah. Pada masa itu, kondisi pendidikan sangatlah memprihatinkan, khususnya bagi kaum perempuan. Anak-anak di bawah usia 12 tahun masih diperbolehkan menginjak pendidikan di sekolah. Akan tetapi setelah 12 tahun mereka tidak diperbolehkan lagi belajar di sekolah. Karena anggapan masyarakat dahulu perempuan hanya dapat bantu-bantu di rumah saja.
Melihat kondisi yang demikian, kartini  mendobrak kondisi yang memprihatinkan tersebut. Walaupun sudah dipingit dia tetap hobi membaca buku dan majalah. Dari hobinya yang banyak membaca buku itu membuahkan hasil. Beliau mendapatkan banyak ilmu pengetahuan. Sehingga beliau dapat mendirikan taman belajar bagi para perempuan pribumi untuk diajari menulis dan membaca. Pada mulanya, beliau mengumpulkan teman-temannya untuk diajari menulis dan membaca. Tidak hanya mendirikan taman belajar untuk kaum perempuan saja, tetapi putri dari bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosrodiningrat yang masih ada pertalian nasab dengan Hamungkubuwana VI kesultanan Yogyakarta ini juga mendirikan perpustakaan bagi anak-anak disekitarnya.
Dalam perjuangannya, Kartini didukung oleh sahabatnya Rosa Abendanon dan suaminya Raden Adipati Joyodiningrat. Pemikiran-pemikirannya Kartini itu dapat dilihat dari bukunya yang terkenal yaitu “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Perjuangannya Kartini tersebut patut dijadikan sebagai Spirit bagi pemuda sekarang. Walaupun dalam kekangan budaya-budaya masyarakat desa dan minimnya fasilitas pendidikan, kartini masih tetap semangat untuk memajukan pendidikan khususnya bagi perempuan. Kita harus merenung, betapa lengkapnya fasilitas-fasilitas pendidikan masa kini, betapa banyaknya orang-orang yang berpendidikan sampai ke jenjang perguruan tinggi. Namun apa yang ada dalam pendidikan masa kini? Banyak orang-orang yang lulusan dari perguruan tinggi favorit, setelah menjabat sebagai pejabat pemerintah banyak yang melakukan pelanggaran-pelanggaran. Banyak juga lembaga pendidikan yang menjulang tinggi ada di bangsa ini, tapi kenapa masih banyak para pelajar melakukan tindakan anarkis, pelanggaran dan lain sebagainya?
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama, kenapa yang dulu Kartini berusia 12 tahun sudah berhenti sekolah, namun dapat menggerakkan dan mendobrak budaya-budaya masyarakat yang khoyol? Sedangkan banyak orang yang berpendidikan tinggi, kenapa jarang sekali yang dapat memberi kontribusi bangsa?
*)Dimuat di Bulletin Paradigma edisi April/2013


Komentar

  1. di sini dulu saya di gembleng...bersama mas Wardi, Musthofa, Imam Machali dan sebagainya,,,salam hormat dan maju paradigma. Salam. Agus Wibowo, M.Pd. Penulis buku dan pemerhati pendidikan.www.aguswibowo82.blogspot.com

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Garis Waktu

Judul               : Garis Waktu Jenis                : Kumpulan Cerita Penulis             : Fiersa Besari Penerbit           : Media Kita Cetakan           : VII, 2017 ISBN               : 978-979-794-525-1 Fiersa Besari merupakan sosok pemuda kelahiran Bandung yang akrab dipanggil "bung" dan ternyata lulusan Sastra Ingris tapi lebih suka mengaku lulusan sastra mesin. Bung ini dikenal sebagai Penulis, Penggiat Musik, Pengelana, dan Penangkap Jejak. Sekembalinya dari perjalanan mengelilingi Indonesia dalam rangka mencari jati diri, Bung mulai mengumpulkan tulisannya menjadi sebuah buku yang kemudian diberi judul "Gari...

Belajar Hingga Akhir Hayat

sumber gambar: membumikan-pendidikan.blogspot.com Oleh: Kodri Syahnaidi, Mahasiswa PBA 2015 “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat”. Demikianlah urgensi menuntut ilmu (belajar) yang dianjurkan Rasulullah. Belajar merupakan sebuah kebutuhan bagi setiap manusia.  Karena sebagai manifestasi rasa syukur terhadap anugerah akal pikiran yang hanya bisa digunakan melalui proses pembelajaran. Selain itu, belajar juga dapat mengasah kecerdasan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Belajar juga dapat meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) agar dapat mengelola alam sebagai khalifah (wakil Tuhan) di dunia. Proses pembelajaran pertama kali dilakukan oleh Allah dan Nabi Adam ketika diciptakan. Sampai hari ini proses pembelajaran masih berlangsung di berbagai belahan dunia. Proses pembelajaran sepatutnya berlangsung terus-menerus hingga akhir hayat. Secara formal, pendidikan itu dimulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi. Perguruan tinggi  merupakan t...