Agent
of Minyak
Oleh :Atika Edogawa*
”Rul, coba kamu perhatikan
mahasiswa sekarang!”
“Kenapa Gus?” Tanyaku pada Agus
sembari menyeruput kopi hangat.
“Tuh lihat!”Jawab Agus sambil menunjuk kearah jendela kamar kosku.
“Tuh lihat!”Jawab Agus sambil menunjuk kearah jendela kamar kosku.
Pandanganku beralih kearah tunjukan
Agus. Hamparan mahasiswa berkumpul, suara-suara berserakan terdengar serak dan
kasar, sumpah serapah berjatuhan.
“Demo.” Jawabku lirih sambil mengerutkan dahi.
Apa yang mengherankan buat Agus?
Bukankah demo hal biasa bagi mahasiswa, apalagi dikampus ini. Tanyaku dalam
hati.
“Rul, apa menurut kau mahasiswa
patut demo cuma karena masalah minyak? Kita
dituntut untuk menjad iagent
of control dan agent
of change, bukan agent of minyak. Tapi kau
lihat saja mahasiswa sekarang adalah agent of minyak. BMM, BMM, BMM saja
yang diurus. Banyak mahasiswa yang tidak berfikir panjang tentang aksi demo
BBM. Ada yang sekedar ikut-ikutan untuk aksi tanpa tahu alasan yang jelas
tentang maksudnya. Mahasiswa seperti ini tidak pantas disebut sebagai agent
of control, tapi lebih
pantas disebut agent of minyak karena hanya BBM, BMM yang diurusin, Padahal
banyak masalah-masalah yang lebih serius untuk ditangani.” Papar Agus panjang lebar.
Aku melongo dan hampir tertawa.
Bukan karena logat Medannya yang kental, tetapi lebih kepada kata-kata yang
keluar dari bibir coklatnya itu. Sejak kapan seorang Agus berbicara seperti ini?
Kata-kata yang terlalu baik untuknya. Kupandangi wajahnya lekat-lekat. Sakitkah
ia? Sembari
memegang keningnya. Tak panas.
“Apa-apaan kau ini, Rul”. Agus
menjauhkan tanganku dari keningnya
sambil
sesekali menghisap rokoknya.
“Tapi agent
of change bukan juga sepertimu Rul, yang hanya aktif di akademis dengan penelitian-peneliatian
konyol serta sedikit UKM”, Lanjutnya.
Aku hanya tersenyum simpul.
***
Kata-kata Agus selalu terngiang
dikepalaku. Sejuta pertanyaan masih mengganjal. Sejak kapan Agus memikirkan
hal-hal baikseperti itu?
Agus yang dikenal sebagai Raja Demo. Bahkan hujatan para dosen,
cacian kaum hawa, serta gunjingan
para akademis pun tidak pernah
dipedulikannya. Sangat
berbeda denganku yang kata orang sebagai mahasiswa akademis dengan segudang
penelitian-penelitian konyol, dan sedikit UKM. TetapiAgus justru dapat mengeluarkan kata-kata
yang menurutku super untuknya.
Beberapa bulan ini ia memang tak
terlihat dalam kumpulan para demonstran.Tapi bukan berarti hal itu membuatnya insafkan? Sekarang malah terdengar nyanyian merdu darinya. Apakah
si Raja Demo benar-benar tobat?
“Hei, melamun saja kau”. Tepukan khas
Agus mampir dibahuku.
“Hei Medan, dari mana saja kau?”
Agus tertawa mendengar sapaanku. Mungkin lebih tepatnya mentertawakan logat
Medannya yang tak pas dibawakan olehku.
“Biasalah Rul. Aktivis. Hehe..”
jawabnya sambil tertawa.
“Gimana aksi demo selanjutnya?” Pancingku ingin melihat
reaksinya. Setelah perbincangan kemarin aku ingin melihat apakah Agus
benar-benar berubah atau hanya sekedar gurauan semata.
“Entahlah, Rul” Jawab
Agus disertai wajah muram.
“Kenapa, Gus?” Tanyaku heran.
“Adakalanya seseorang mencapai titik jenuh dengan apa yang telah dijalaninya Rul”
“Ooohh,
apakah Raja Demo kita telah mencapai titik jenuhnya? Harus dirayakannih.” kataku lagi sembari
tersenyum. Tetapi
hanya senyuman kecut yang kuterima dari Agus.
Ada apa dengannya? Pertanyaan
dikepalaku bertambah lagi
***
“Bubar! Bubar
semua. Tak pantas kalian berada disini. Bukan seperti ini agent of control
sesungguhnya. Bukan seperti ini agent of change yang diinginkan negara.
Mahasiswa adalah golongan muda terpelajar, mampu mengendalikan
pikiran-pikirannya untuk melangkah kedepan. Bukan malah melakukan aksi
semaunya. Kalian pikir
dengan teriakan-teriakan sumbang masalah akan selesai? Begitu banyak hal yang
bermanfaat yang bisa kalian lakukan daripada mengurusi BBM!”
“Tapi Gus. Jika tidak begini pemerintah
akan semakin semena-mena pada kita”
Emon,
saingan Agus dalam demo langsung menyela.
“Mau jadi agent of minyak kalian?”
Ribuan suara tenggelam oleh
kata-kata Agus. Sebagian bertanya-tanya dalam diam. Sebagian menghujat. Aku
semakin terpana. Kekaguman begitu kentara padanya yang semakin menampakkan
sosok wibawanya.
“Gus,
kali ini keyakinanku kuat. Tobatnya si Raja
Demo.” Kataku dalam hati.
***
Berita “tobat”nya Agus menyebar
luas dikampus, bagai kerupuk udang yang laku keras dipasaran. Berbagai
kata-kata memenuhi tiap sudut ruangan. Pujian, hinaan, cercaan bertumpuk jadi
satu instrumen. Dan pasti hujatan tetap paling banyak keluar dari bibir para
mahasiswa. Bahkan tak ketinggalan dari sobat-sobat karibkusendiri.
“Halah. Tak mungkin si Medan
tobat” Kata Ical memulai pembicaraan kami.
“Iya, paling cuma cari muka” Lanjut
Oji
Aku hanya terdiam dengan pendapat
teman-teman perihal Agus yang berubah 1000 Celciusini. Apalagi Agus
yang terkenal dengan “kejahatannya”, kepercayaan itu sangat minim adanya.
Suasana seketika hening. Aku menoleh
pada Ical dan Oji kemudian tersenyum, mengerti mengapa dua sobatku diam
membisu. Agus telah berdiri dihadapan mereka.
“Hai, Gus. Sekarang kamu jadi artis”
kataku mencoba mencairkan suasana setelah Agus duduk diantara kami.
“Hahaha...” Ucapanku hanya dijawab
tawa olehAgus.
“Gus, kamu jangan tobat ya!” Kami memandang Oji,
bertanya-tanya maksud kata-katanya. Oji tersenyum simpul.
“Kalau si Medan ini tobat,
menangislah penghuni neraka karena kehilangan bosnya.” Lanjut Ical.
“Hahahahaha…” Tawa kami meledak
seiring candaan Oji. Kulirik Agus yang hanya tersenyum kecil. Dimatanya
tergambar luka.
***
Langkahku
harus perlahan karena suara sekelilingku yang semakin sumbang. Halaman kampus telah dipenuhi
sejuta mahasiswa. Demo lagi! Kemana Agus? Tidakkah ia ingin menghentikan aksi
ini seperti hari sebelumnya?
Kupercepat
langkahku
menuju fakultas. Sambutan Ical dan Oji mengukir senyumku. Tapi wajah keduanya
tampak lelah. Kemana semangat 45nya? Tak ada penjelasan. Hanya lirikan
Oji yang kuartikan sebagai jawaban yang mengarah ke halaman dimana para
demonstran beraksi.
Aku
terpana dengan apa yang kulihat.
Berdiri
kokoh seorang pemimpin dengan baju hitam penuh robekan, bambu ditangan kiri, pengeras suara ditangan kanan.
“Agus!”
Mata
kami bertemu. Tatapannya
masih sama seperti kemarin. Penuh luka.
“Aku benar-benar tobat,
Rul. Tak akan pernah kuulangi aksi-aksi demokulagi.” Masih jelas kata-kata Agus
sore itu di kosku. Sekarang kamu berdiri dimana, Gus? Agent of control,
agent of change, atau agent of
minyak?
Aku
mengalihkan pandangan dengan satu jawaban pasti. Senyum merekah, seiring
datangnya cahaya besinar keemasan.
***
*)
Dimuat di bulletin edisi Mei 2013
Komentar
Posting Komentar