Asrama vs Kos
Oleh; Mira Zu listia*
Lina cewek cantik, kelahiran Kalimantan ini menempuh sekolah berasrama
selama 6 tahun. Dengan segala sesuatu yang serba diatur mulai dari makan,
pakaian, aktivitas, dll. Ketika ia melanjutkan kejenjang kuliah ia sudah tidak
mencari sekolah berasrama lagi, akan tetapi ia memilih untuk tinggal di kos,
dengan berbagai kehidupan yang jauh berbeda dengan yang diasrama dulu. Lina
merasa lebih bebas tanpa ada aturan dalam hal berpakaian, makan , dan
aktivitasnya sehari- hari . Bagaimana Lina menjalani hari-harinya?
_oOo_
Alhamdulillahnya Lina kuliah di daerah Jogja yang mana harga serba murah
disini ketimbang di Kalimantan. Seperti dapat durian jatuh Lina mampu menghemat
uang bulanan lebih ketimbang teman- temannya. Ketika di asrama dulu SPP udah
sekalian ama uang makan. Makanan udah di atur dari pihak pondok, bahkan tiap
hari sudah ditentukan selama seminggu makannya apa aja buat pagi, siang dan
malam. Ga bakalan ada kata buat ganti menu kalo ga suka ama makanannya, yang
ada malah harus mengorbankan tidak makan sekali, biasanya Lina mengambil opsi
lain dengan beli jajan di kantin dan makan di kamar. Untuk makan sendiri
diwajibkan di Resto (ruang makan pondok) tidak diperkenan kan membawa makanan
ke asrama, hal ini guna menambah kesolitan antara adek kelas dengan kaka kelas,
jadi bisa berbaur satu sama lain.
Hal ini jauh berbeda dengan apa yang dirasakan Lina selama kos di Jogja.
Selain ia sesuka hati makan apa saja, ga ada patokan menu apa setiap harinya.
Kadang ia makan ayam, kadang tempe, kadang telor, kadang juga lele. Semua
bervariasi sesuai keinginannya. Lina paling hobi makan di angkringan depan
kosnya. Walau harganya relatif lebih mahal ketimbang angringan lain, itu tidak
menjadi masalah baginya.
Makan malam diangkringan dah seperti kegiatan rutin Lina setiap hari,
kalau angkringan lagi tutup ia berganti tempat dengan beli di burjo. Untuk
sekali makan di Jogja menghabiskan uang kisaran 4000 sampai 7000, itu pun sudah
dapat makanan yang enak. Jauh sekali ketimbang di daerahnya. Lina menghabiskan
uang kisaran 10.000 sampai 20.000 untuk sekali makan. Oleh karena itu kadang
Lina lebih memilih makan di rumah ketimbang beli di warung makan. Sekedar info
juga di Kalimantan tidak ada yang namanya burjo dan angkringan. Hal ini baru
didapatkan Lina ketika ia kuliah di Jogja. Mungkin kalo ada tukang angkringan
di Kalimantan bakalan jadi pengusaha angkringan paling sukses hehe.
Jadi ingat ketika teman-teman mengajaknya ke angkringan dibilang mau
pesen nasi kucing berapa? Lina kaget, bagaimana mungkin temen-temennya malah
menyarankan dia buat makan nasi kucing yang jelas- jelas buat kucing, eh malah
di makan manusia. Ternyata itu cuman sebutan doang buat nasi yang di
angkringan. Tenang kok nasinya bisa di makan dan halal. Bahkan nasi kucing
memiliki dua versi yakni nasi sambel ( nasi dengan ikan teri kecil dan sambel)
lalu nasi tempe ( nasi dengan cicangan tempe).
_oOo_
Pondok memiliki aturan tersendiri masalah pakaian, dimana kita dituntut
untuk mematuhi sesuai aturan yang ada . Ketika di asrama jumlah baju pun di
batasi bahkan ada pengecekan setiap tiga sebulan sekali. Baju tidak boleh ketat
dan harus panjang selutut (lama-lama pakai gamis aja hehe). Masalah rok pun tidak boleh kantongnya di
luar. Kerudung yang dikenakan harus tebal bukan seperti jilbab paris atau
prasmina yang banyak dipakai sekarang ini. Di asrama ada koperasi yang khusus
menjual pakaian yang sesuai dengan aturan. Untuk masalah kerudung Lina tak mau
ambil pusing ia lebih memilih beli di koperasi ketimbang di pasar daerahnya
yang belum tentu ada, yang ada malah prasmina ama paris doang. Tidak
diperbolehkan sekalipun menggunakan celana jeans di asrama, bahkan celana kain
pun tidak dianjurkan. Alasannya agar terlihat lebih anggun dan tidak menyerupai
pakaian laki-laki.
Ketika di kuliah Lina bebas memilih style pkaian yang ia inginkan. Tapi
untuk masalah ke kampus ia mengikuti aturan yang ada, dimana untuk fakultas
Tarbiyah dan Keguruan wajib bagi mahasiswi untuk mengenakan rok dan berpakaian
sopan (maklum calon guru hehe). Tak ada atuan yang mewajibkan jilbab harus
tebal bisa saja menganakan jilbab paris bahkan mungkin di model-model sendiri,
selama tidak melenceng dari apa yang ditetapkan dan aturan agama. Kadang Lina
juga menggunakan celana ketika jalan-jalan jauh bersama teman sekelasnya.
Lina sering survey toko-toko baju yang menurutnya menarik. Baginya
belanja 2 jam pun betah, walau sekedar liat-liat doang. Tapi kadang juga ia
beli baju-baju yang menurutnya bagus, entah itu untuk kuliah atau jalan. Selain
bagus faktor harga pun menentukan untuk membeli baju tersebut. Selama uang
bulanan masih ada jadi beli deh, tapi kalo lagi kantong kering Lina lebih memilih
untuk menunda sampai bulan depan.
Sekedar saran bagi cewek-cewek nih yang belanja baju, lebih enak
bersama teman cewek deh , habis kalo ama cowok sering ngeluh bilangnya lama lah
belanjanya, padahal baru juga 30 menit, gimana kalo dua jam, ditinggal deh yang
ada.
_oOo_
Di asrama banyak aktivitas yang dah di jadwal mulai dari waktu sekolah,
waktu solat, waktu makan, dan waktu kegiatan yang diadakan oleh OSIS, yang mana
wajib di ikuti santri, kalo tidak ancamannya ga boleh keluar komplex (yakni
kegiatan keluar dari pondok sekitar jam 1 siang sampai jam 5 sore pada hari
jum’at ). Bahkan setiap jum’at pagi rutin ada kegiatan bersih-bersih lingkungan
pondok, kalau tidak ikut otomatis siangnya tidak boleh keluar komplek. Biasanya
Lina lebih memilih waktu itu untuk ke warnet, ketimbang mal. Selain lebih irit
ia tak perlu capek-capek untuk mengitari mal cuman sekedar liat-liat saja. Ia
juga kadang pergi ke supermrket untuk membeli kebutuhan bulanan mulai dari
samphoo, sabun, sikat gigi, dan odol. Harganya pun lebih murah ketimbang beli
di pondok.
Selama jadi anak kos Lina dapat keluar kapan pun dan kemanapun. Tapi
tetep, kosnya di tutup sampei jam 9
malam. Kalo ke warnet ia tinggal nyebrang kos saja, tapi Lina lebih memilih
untuk menggunakan modem ketimbang ke warnet. Ke mall pun dekat jalan kaki juga
bisa ketimbang dulu pas di asrama kudu naik taxi atau bis baru sampai mall.
Kalo masalah supermarket di deket kosnya banyak lah supermarket asal Lina tak
malas aja untuk pergi kesana. Kebiasaan memang Lina beli kebutuhan bulanan
ketika dah mepet mau habis.
Lina menikmati kehidupan barunya di kuliah bersama teman-teman ia mulai
beradaptasi menjadi anak kos, dan sekarang Lina mencoba untuk hidup mandiri. Ia
menentukan segala hal untuk dirinya mulai dari makan, pakaian, dan aktivitas
yang ia ikuti. Ia memilih apapun yang menurutnya baik.
*) Mahasiswa
Jurusan PBA 2012
Aktif di LPM Paradigma FITK UIN Suka Jogja.
Komentar
Posting Komentar