Tak ku sangka
Oleh;
Nur Tanfidiyah*
Malam ini, berbeda dengan
malam-malam sebelumnya, dinginnya sangat menusuk hingga bulu kudukku serentak
berdiri, angin yang melambai kencang membuat ku beranjak dari ruang tamu untuk
berkerudung selimut dan aku pun
mulai terbawa dalam kehangatan.
Suasana yang hangat dan terang kini
berubah gelap dan keadaan pun menjadi sunyi. Aku pergi kesalah satu warung
jalanan yang kecil, biasanya orang-orang menyebutnya warung pojok, entah apa
alasan mereka memberikan julukan pada warung kecil itu. Pengunjung biasanya
duduk santai dengan menyilakan kaki ditemani dengan secangkir kopi pahit dan
kepulan asap rokok.
Ketika itu, suasana malam kota Jogja
masih terlihat sepi, aku yang belum pernah merasakan begadang atau sekedar
keluyuran malam hari, kini rasa penasaran mulai menyelubungi untuk mencicipi
suasana warung pojok. Aku ngopi dengan pak Jojo yang umurnya 45 tahun dan
ditemani bang Hendra yang umurnya pun masih jauh dengan ku, 25 tahun sementara
aku 19 tahun (masih bau kencur). Ahh... aku tidak memperdulikan hal itu, yang
penting aku bisa melihat suasana malam di kota Jogja walaupun hanya bermain di
warung pojok.
“Srupuuut, Aahh...nikmat sekali
kopinya Bang?” Aku menggeleng menikmati kopi pahit untuk yang pertama kalinya.
“Hey...bocah, sejak kapan kamu berani
keluar malam untuk ngopi?” Tanya pak Jojo sambil menyeruput kopi hitam warung
pojok khas bu Sumarni.
“Baru kali ini saja bang, aku sudah
lama penasaran dengan cerita beberapa temannku, kata mereka bermain ditengah
malam itu menyenangkan”
“Bagaimana kalau ibumu tahu? bisa
kena marah kamu!” bang Hendra yang ikut nimbrung dalam percakapan kami.
“Tenang,,, ibu dan bapakku sudah
tidur, jadi tidak mungkin mereka tahu. Jarang-jarang aku bisa keluar malam
seperti ini, hehehe,,,”
Aku
yang pertama kali keluyuran malam, tidak tahu kejadian sebenarnya mengenai
dunia malam. Yang aku tahu hanya duduk-duduk santai dan berkumpul bersama
orang-orang.
“Owwh,,, begitu, bagaimana kalau
kita main kartu, berani kau?”
“Siapa takut, keciiil... aku
memainkan jari kelingking meremehkan, padahal sama sekali akau belum pernah
memegang apalagi bermain kartu karena orang tuaku selalu melarangnya. Dan
selama ini cuma ngegame di depan laptop. Padahal aku sudah berada di jenjang
SMA kelas 3.
Sementara itu, bang Jojo hanya mendengar
pembicaraan kami, dia menengok kearah kami tersenyum menyelus-elus jenggot
seperti tertarik dengan kata-kataku yang penuh dengan kebohongan.
Kartu satu per satu mulai dibagikan
dan menyisakan beberapa tumpuk dibagian tengah. Bang Hendra memulainya dengan
memasang kartu hati warna merah berangka 5. Aku yang tidak tahu sama sekali mengenai
permainan kartu, mencoba menyembunyikan wajah bingung, aku tertawa kecil utntuk
mengurangi rasa keteganganku dan giliranku pasang angka 6 hati merah dan
seterusnya sampai akhirnya aku kalah tekak. Dan kami mengulangi permainan kartu
ini bebarapa kali dan aku pun terus dalam kekalahan.
“Aahh...saya nyerah bang.” Aku
letakan kartu dimeja berserakan dan menyeruput kopi pahit yang sudah mulai
mendingin.
“Bagaimana kau ini, bilang kecil kok
malah kalah.” Bang Hendra menertawakanku.
“Ini sudah terlalu malam,
konsentrasiku sudah berkurang.” Sebisa mungkin aku memberikan alasan.
“Ada-ada saja mas Adi ini, main
kartu kok sama pakarnya. Ya, jelas kalah to.” Ibu Sumarni pemilik warung ikut
tertawa.
Malam mulai semakin larut, dan jam
sudah menunjukan pukul 00:05, kendaraan yang berlalu lalang di jalan setapak
ini mulai tidak terlihat. Suara jangkrik pun mulai merendah, sementar bunyi
burung hantu mulai terdengar samar ditelingaku. Udara yang semakin dingin bukan
membawa mereka untuk bergegas pergi, tetapi semakin larut warung ini semakin
ramai apalagi dengan datangnnya pria dan wanita yang berboncengan mesra. Ketika
wanita itu masuk, suasana sepi terganti dengan siulan dari beberapa lelaki. Aku
yang baru mengetahui keadaan di malam hari hanya melihat bingung. Mereka
semakin asyik ngobrol dengan kepulan asap rokok dan kopi pahitnya bersendau
gurau tidak jelas sampai aku lihat mereka tertawa terbahak-bahak.
Ketika Aku bang Jojo dan bang Hendra
tengah asyik ngobrol, tiba-tiba tiga
orang laki-laki menghampiri kami. Mereka berbadan kekar, tubuhnya tinggi dan
warna kulitnya hitam. Mereka berjalan tegap, sesekali mereka mengeryitkan
dahinya dan matanya yang tajam membuatku menelan ludah gugup (wah,,, orang ini
lebih seram dari seorang bodyguard).
Mereka duduk didepan kami dengan
meletakan dua botol minuman berwarna hitam yang tidak bermerk, orang itu
menatapku dengan tajam. Aku yang penasaran kemudian berbisik kecil kepada bang Hendra.
“Bang, mereka siapa?”
“Mereka pelanggan malam yang setia
di warung ini, bahkan tidak pernah absen, Sampai bu Sumarni pulang sangat larut
hanya menunggu mereka pergi. Kadang mereka memaksa pengunjung lain untuk
membayar kopi dan rokok. Botol yang mereka bawa adalah minuman haram. Inilah
keadaan malam yang sesungguhnya. Makanya kamu jangan sesekali mencoba keluyuran
tengah malam seperti ini, apalagi kau seorang pelajar bisa mampus kau di palak
mereka.”
Aku kaget mendengar kata-kata bang
Hendra, hingga aku ingin sekali cepat-cepat pulang. Dan ternyata kehidupan
malam itu tidak selamanya menyenangkan seperti apa yang di katakan oleh
sebagian teman-temanku.
“Ehem..” salah satu dari mereka
menoleh kearah aku dan bang Hendra yang sedang berbisik sambil berdehem.
“Ada apa kalian! Bisik-bisik tidak
jelas, tidak suka dengan kedatangan kami?”
“Tidak bang” aku dan bang Hendra
menjawab serempak dengan singkat. Matanya melotot, membuat aku dan bang Hendar
tidak bisa berkutik.
Aku melirik jam tanganku, jarum jam sudah
menunjukan pukul 00.30, aku dan bang Hendra bergegas meninggalkan warung
tersebut, sementara bang Jojo sudah pulang terlebih dahulu mengingat istrinya
yang ada dirumah. Kami menuju rumah masing-masing dalam suasana yang semakin
gelap dan sunyi. Dipertengahan jalan kami berpisah karena arah jalan rumah kami
berbeda. Aku pun mulai berjalan melewati gang yang sempit. Sesekali aku menoleh
ke kanan, kekiri dan berhenti sejenak hanya untuk memastikan keadaan di
belakangku aman. Ketakutan dalam diriku membuat susana di sekeliling seperti
berubah mencekam dan bayang-bayang halus seolah berterbangan disekelilingku.
“Ahh... ini hanya halusinasi
semata.” Aku menggelengkan kepala mencoba
menghilangkan rasa takut.
Terdengar dari kejauhan suara yang
samar, aku mencoba mengabaikan. Namun, suara itu terdengar semakin mendekat
membuatku lebih mempercepat langkah kaki. Tiba-tiba dari belakang terdengar suara
langkah telapak kaki sesorang, aku menoleh kebelakang ku lihat seorang lelaki
dengan melampirkan sarung dipundaknya berjalan mengarahku. Bayang-bayang horor
semakin melintas dalam fikirannku (Jangan-jangan dia makhluk jelmaan, atau
drakula yang sedang mencari darah segar dari seorang pemuda, ataukah dia kuntilanak)
fikiranku tidak menentu. Aku semakin mempercepat jalanku dan dia pun terus
mengikutiku dengan langkah yang semakin cepat pula. Entah apa yang dia incar.
Padahal, sama sekali aku tidak membawa apapun selain sarung yang sedang aku pakai
untuk berkeridong. Ketika aku berlari kecil dia ikut berlari, aku semakin
bingung. Dan aku sangat kaget ketika aku menoleh kesebelah kananku dia sudah
berada disampingku. Sungguh... perasaan ini lebih dari parno.
Dalam ketegangan, dia mulai
mengajakku ngobrol. Berbasa-basi menanyakan namaku, tempat tinggal sampai
pekerjaanku. Dan aku menjawab dengan kata-kata yang tidak ada kebenarannya. Aku
takut dia adalah salah satu orang seperti apa yang di ceritakan bang Hendra.
Sementara suara tadi masih terdengar,
kali ini bukan hanya dari satu orang saja, tetapi sepertinya lebih dari 3
orang. Rasanya aku ingin berteriak minta tolong kepada warga sekitar, tetapi
tidak mungkin, untuk berbicara pun kini mulutku semakin sulit terbuka karena
diliputi rasa takut. Dan warga pasti sedang menikmati mimpinya. Ingin mencoba
berlari, takut dia akan menahan dan menghajarku. Haduh... sekarang aku pasrah,
aku sadar kata-kata orang tua memang selalu benar, aku yang terkadang
bersikukuh untuk mencoba kabur sekedar ingin bermain di malam hari, ternyata
mereka melarangku karena salah satu akibatnya akan seperti apa yang sedang aku
rasakan. Aku kecewa pada diriku sendiri.
Jam menunjukan pukul 01:00 dan orang
itu masih saja berjalan di sampingku, ketika aku melihat kebelakang beberapa
warga sedang berlari menuju kearah kami, sebagian dari mereka membawa kayu dan
patromak. Aku berhenti sejenak mendengarkan apa yang sebenarnya mereka teriakan
dan ternyata suara itu,
“Maliiiing...maliiing...maliiing.”
Aku masih berdiri bingung, dan
langsung menoleh kearah orang yang berada di samping kananku. Aku langsung
tertegun kaget karena orang itu sudah tidak ada, dan ku lihat dia berlari
kencang di depanku. Aku refleks ikut berlari karena takut mereka akan
menangkapku. Aku berlari dengan sekencang mungkin, aku sangat gugup dan takut apalagi
ketika aku melihat warga berlari ke arah ku bukan kepada si maling itu, sepertinya
mereka salah mengira dan aku pun memang salah kenapa harus ikut berlari,
padahal tidak bersalah sama sekali.
Aku terus dan terus berlari
menerjang semak-semak yang tajam di kebun warga. dalam suasana yang gelap
gulita dan bayang-bayang horor makhluk halus seperti sejenak menghilang di
fikiranku. Aku masih berlari dengan tergopoh-gopoh, suasana yang dingin berubah
panas karena keringat yang semakin membanjiri tubuhku, aku seperti seorang
penjahat yang melarikan diri dari tahanan dan posisiku dalam pemburuan polisi
disertai dengan anjing pelacaknya. Aku menangis dalam pelarian mengingat semua
yang pernah ibu dan ayahku sampaikan. Tidak seharusnya aku keluyuran hingga
larut malam seperti ini, seandainya aku mengikuti nasihat mereka mungkin malam
ini aku sedang tidur dengan pulasnya dan menikmati mimpi dengan ketenangan.
Aku berlari sepanjang jalan, tidak
mempedulikan apa yang aku injak dan apa yang aku terjang, aku hanya ingin
berlari sejauh mungkin sampai warga tidak bisa melihat jejakku lagi. Karena aku
bukan seorang maling yang mereka cari. Dan ketika itu, sampailah aku pada jalan
yang buntu, sebuah jurang yang dalam menyambutku, terlihat dibawahnya laut dan
batu-batu yang besar. Tidak ada jalan lain untuk berlari, kini aku
ditengah-tengah dua pilihan berbalik arah atau terjun, dan disitulah aku
memilih jalan memberanikan diri untuk terjun kedalam juarang tersebut dengan
perasaan yang bercampur aduk dan gemetar yang semakin menggoncangkan tubuhku.
“Aaaahhh..... ” aku serasa terbang
tinggi, hingga nyawaku seketika itu seperti ikut terangkat.
“Aaaah... Brukk!”
Aku terbangun dari mimpi burukku,
dan aku sudah berada dilantai. Ternyata aku terjatuh dari ranjang, dan baju
yang aku pakai basah kuyuh karena disiram kakak yang tengah membangunkanku
namun, tidak ada tanda-tanda aku akan bangun yang kemudian kakak memberi
tindakan dengan menyiramku.
“Kakak ini, apa-apaan? Lagi tidur kok
disiram”
“Bilang apa kamu!coba lihat jam
sana”Kakak menjawab dengan wajah yang menunjukan kemarahan, sembari menunjuk
kearah jam dinding.
“Jam 07.00...?????, tidaaaaak, hari
ini aku ulangan.”
Kakak
yang melihatku hanya mengelengkan kepala, dan aku langsung menuju kekamar mandi
Setelah itu aku berlari tanpa menyisir rambut yang masih basah menuju kesekolah yang letaknya tidak begitu jauh
dari rumahku.
Selama perjalanan kesekolah, aku
mengingat-ingat mimpiku semalam yang begitu buruk, mungkin mimpi itu teguran
atau apa, yang pasti aku tidak akan melakukan hal seperti apa yang aku lakukan
di dalam mimpi semalam. Aku hirup udara pagi yang sangat segar dan menatap
langit yang terlukis dengan warna biru cerah.
*) Mahasiswa Jurusan PGMI 2012
Aktif
di LPM Paradigma UIN Suka Jogja.
Komentar
Posting Komentar