Langsung ke konten utama

Cermin Perjuangan Semesta

Cermin Perjuangan Semesta

Judul Buku      : Penakluk Badai, Novel Biografi KH.Hasyim Asy’ari
Pengarang       : Aguk Irawan MN
Penerbit           : Global Media Utama
Tahun Terbit    : I, 2012
Tebal               : xxxii+530 halaman +lampiran
Peresensi         : Zulfa Amalia*

Figur Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari sangat mengagumkan dan inspiratif. Beliau mengusung gagasan brilian pada jamannya. Pada 7 September 1947 (1367 H), K.H Muhammad Hasyim Asy’ari yang bergelar Hadrat Asy-Syaikh (seorang guru besar di kalangan pesantren) menghembuskan napas terakhirnya, namun berdasarkan keputusan Presiden No. 29/1964, beliau diakui sebagai seorang pahlawan kemerdekaan nasional. Hadratus Syaikh pergi meninggalkan kehidupan yang fana dengan meninggalkan jejak sejarah perjuangan yang patut dicatat dengan tinta emas. Beliau berjuang untuk umat dan negara dengan hati yang dipenuhi keikhlasan.  Ketokohannya tidak sekedar dalam bidang sosial keagamaan melainkan juga dalam bidang kenegaraan.
Dalam dunia pendidikan Hadratus Syaikh sangat revolusioner, pembela wong cilik, dan berpikir out of the box. Jarang kita menemukan figur kiyai yang mampu melebur dalam berbagai lapisan masyarakat, tanpa pandang bulu, dan berjuang bersama masyarakat grass root. Idealisme yang diusungnya bahwa pendidikan harus berpihak pada “orang-orang terpinggirkan” adalah cita-cita luhur yang tak setiap orang berani menyuarakan disertai bentuk pejuang dan pengorbanan yang konkrit. Hadratus Syaikh tidak hanya meneriakkan pentingnya pendidikan yang pro rakyat melainkan juga turun lapangan langsung.
Kehadiran Hadratus Syaikh di ranah politik memberikan sumbangsih besar bagi tercapainya kemerdekaan bangsa dan terbebasnya negara dari kuasa kaum penjajah. Beliau dapat dikatakan sebagai pemeran utama di “balik layar.” Beliau adalah pahlawan dan pejuang kemerdekaan yang memimpin gerakan perlawanan terhadap belanda secara langsung. Keteguhannya dalam memegang prinsip dan konsisten mewujudkan cita-cita kemerdekaan mengaskan bahwa Hadratus Syaikh adalah figur pemimpin yang militan dalam membela agama dan negara.
Membaca sosok Hadratus Syaikh seakan-akan kita membaca suasana dan kondisi dialogis anatara agama dengan tradisi dan budaya setempat. Beliau mampu mempertemukan antara idealisme yang berada dalam tataran ide dengan kebutuhan-kebutuhan praktis yang mendesak kepentingan umat. Di tangan Hadratus Syaikh maka ajaran Islam bukan hanya bergumul dengan kesalehan ritualistik semata melainkan juga sebagai sarana pemecah jalan kebuntuan umat dan berbagai anomi sosial. Ini adalah pelajaran kebijaksanaan yang paling berharga bagi generasi kita sebagai penerus bahwa Islam harus menjadi problem solving bagi setiap kebuntuan hidup, menjawab setiap tantangan, terutama yang datang dari kekeringan spiritualitas manusia modern.
Novelisasi biografi Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari sengaja disusun dengan kemasan fiksi agar pembaca dapat menikmati alur serta mudah untuk dipahami. Sudut pandang maha tahu yang digunakan dalam novel ini juga mendukung keseluruhan cerita. Bahasa yang lugas serta ringan turut menjadi salah satu keunggulan dari novel ini seakan-akan menghidupkan kembali figur Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari di tengah-tengah pembaca. Buah Karya budayawan Aguk Irawan MN yang mengangkat biografi Hadratus Syaikh ke dalam dunia sastra berarti menghadirkan masa lalu ke masa kekinian, sehingga nilai-nilai luhur,kebijaksanaan dan wasiat-wasiat agung dari Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dapat ditangkap oleh hati dan pikiran dengan lebih terhibur. Novel ini juga sarat dengan semangat serta penjabaran sejarah lain dari proses kemerdekaan Indonesia yang belum diketahui oleh banyak pembaca.
*) Mahasiswa Jurusan PBA 2012

    Aktif di LPM Paradigma FITK UIN Suka Jogja

Komentar

Postingan populer dari blog ini

karikatur

puisi- Di Gubuk Itu

Di Gubuk itu Oleh : Lembaran Hitam* Di gubuk itu Aku melihatmu Duduk menatap sebuah buku dalam genggaman Jika ku lihat, Sangat sederhana sekali gubuk itu berdinding bilik yang di anyam berlapis karpet merah terbentang Dengan lampu-lampu hiasan tergantung Tapi aku tidak melihat dari bentuk Ataupun hiasan Aku melihat dari kesungguhan pikiran Aku melihat dari coretan yang kau tuliskan Dan aku melihat dari gagasan yang kau sampaikan Di gubuk itu, Pejuang visi dan misi mengotak-atik lampiran Manjadi penentu yang berpatokan Buku merah kau jadikan pelajaran Cerminan tanggung jawabmu di akhir jabatan Di gubuk itu Kau rumuskan rancangan kegiatan Menuliskannya dalam sebuah buku sederhana tapi menentukan Tidak bisa disepelekan Juga tak bisa diabaikan Sekali lagi Di gubuk itu . . . *) Penulis adalah mahasiswa PBA 2012 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta