Langsung ke konten utama

Hak yang Tak Sampai

Hak yang Tak Sampai
Oleh : Nur Tanfidiyah*
Teja senja memberi tanda untuk siap bergulir
Pada cerita kehidupan malam                  
Hiasan bintang dan sedikit pancaran bulan
Menemani mereka yang tidur dalam kedinginan
      Kala pagi mulai menyapa                               
      Kehidupan baru seperti dimulai kembali
      Sumringah senyum pun terlihat
      Pada mereka yang hidup akrab dengan jalanan
Baginya kehadiran pancaran matahari
Seperti  memberi seribu harapan hidup
Memberikan jalan untuk dapat mangais sia-sia makanan
Kau lihat kawan...
Betapa pedihnya kehidupan mereka
      Kini apa pedulimu?
      Kemana ucapanmu untuk membawa mereka pada kedamaian
      Kemana tanganmu yang membawa segenggam janji
      Untuk  melepas dahaga hidup sebuah kesengsaraan
      Kau acuh,
Kau biarkan mereka seperti pohon kering
Yang selalu menantikan turunnya hujan
Menengadah dengan ketidakpastian
Sementara kau disana tertawa, senang beribu-ribu tumpukan harta
      Kau tak peduli dengan kehidupan yang pilu ini
      Mana sisi manusiamu? Kau rampas hak mereka
      Kau berwujud, tak ada jiwa

      Bagi kami kau dewa dalam drama

*) Penulis adalah Mahasiswi PGMI 2012 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Komentar

  1. masih adakah pemimpin yang bersosok nabi?
    di alam yang kering kearontang akan kedermawanan,,

    BalasHapus
  2. aku paham
    aku tahu
    aku mengerti
    kita mafhum

    tapi bisikanku,
    dan bisikan kita semua terlalu lemah

    adakah aku berani berteriak sekeras-kerasnya di tengah malam ini?


    BalasHapus
  3. Muhammad bilal-bener2 sasrawan,,,joss
    Telo bakar_kata-katanya tidak kalah bagus, kereeen:)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Garis Waktu

Judul               : Garis Waktu Jenis                : Kumpulan Cerita Penulis             : Fiersa Besari Penerbit           : Media Kita Cetakan           : VII, 2017 ISBN               : 978-979-794-525-1 Fiersa Besari merupakan sosok pemuda kelahiran Bandung yang akrab dipanggil "bung" dan ternyata lulusan Sastra Ingris tapi lebih suka mengaku lulusan sastra mesin. Bung ini dikenal sebagai Penulis, Penggiat Musik, Pengelana, dan Penangkap Jejak. Sekembalinya dari perjalanan mengelilingi Indonesia dalam rangka mencari jati diri, Bung mulai mengumpulkan tulisannya menjadi sebuah buku yang kemudian diberi judul "Gari...

Belajar Hingga Akhir Hayat

sumber gambar: membumikan-pendidikan.blogspot.com Oleh: Kodri Syahnaidi, Mahasiswa PBA 2015 “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat”. Demikianlah urgensi menuntut ilmu (belajar) yang dianjurkan Rasulullah. Belajar merupakan sebuah kebutuhan bagi setiap manusia.  Karena sebagai manifestasi rasa syukur terhadap anugerah akal pikiran yang hanya bisa digunakan melalui proses pembelajaran. Selain itu, belajar juga dapat mengasah kecerdasan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Belajar juga dapat meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) agar dapat mengelola alam sebagai khalifah (wakil Tuhan) di dunia. Proses pembelajaran pertama kali dilakukan oleh Allah dan Nabi Adam ketika diciptakan. Sampai hari ini proses pembelajaran masih berlangsung di berbagai belahan dunia. Proses pembelajaran sepatutnya berlangsung terus-menerus hingga akhir hayat. Secara formal, pendidikan itu dimulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi. Perguruan tinggi  merupakan t...