Langsung ke konten utama

Kunci Sukses Mengasuh Anak


Kunci Sukses Mengasuh Anak
                                                                

Judul                  : Quantum Parenting
Penulis                : Mohammad Takdir Ilahi
Penerbit              : Kata Hati
Cetakan              : I, 2013
Tebal                  : 216 halaman
ISBN                  : 9786021730850
Peresensi            : Imron Mustofa*          
    
Anak adalah generasi muda penerus bangsa, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. di pundak anak, keberlangsungan peradaban dan kepemimpinan kelak dibebankan. Jika anak tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang mandiri, kreatif, berkualitas, baik secara moral, keilmuan, ketrampilan, maupun spiritualitas, kunci masa depan gemilang telah berada di tangan. Namun sebaliknya, apabila mentalitas anak ke arah kondisi yang mengenaskan dan lemah, kehancuran sebuah keluarga, bangsa ,negara, atau apapun istilahnya tinggal menungu waktu. (hlm. 5)
Orangtua memiliki peranan penting dalam mendidik anak agar menjadi generasi paripurna penyelamat bangsa. Masa depan anak pun sangat dipengaruhi oleh pola asuhnya. Jika orangtua menerapkan pola asuh otoriter, maka anak akan merasa semakin tertekan dan tidak bisa leluasa menentukan masa depannya sendiri. Begitupun sebaliknya, jika menerapkan pola asuh permisif, anak akan tumbuh menjadi seseorang yang berperilaku agresif dan antisosial. Namun, berbeda lagi jika orangtua menerapkan pola asuh demokratis, anak akan merasa dihargai keberadaannya, tidak tertekan dan selalu mendapat bimbingan dari orangtua.
Untuk memberikan pendidikan dan pola asuh yang sesuai dengan  perkembangan anak, buku inilah jawabannya. Sifat kepraktisan pola asuh dengan bekal pengetahuan spiritualah yang menjadikan Karya Mohammad Takdir Illahi sangat menarik. Konsep tentang anak sebagai makhluk spiritual merupakan cerminan dari keunikan Quantum Parenting yang menjadi pegangan setiap orangtua untuk membimbing anak-anak mereka agar tidak hanya menjadi insan cendikia, tetapi mampu menjadi insan spiritual yang memahami makna dan tujuan hidup sesungguhnya. Orangtua tidak hanya dituntut untuk memberikan asupan gizi dan kesehatan bagi anaknya, namun juga bagaimana menjadi orangtua yang dapat menyerap sifat-sifat Tuhan yang Maha Mulia. Menyerap sifat-sifat Tuhan untuk mengasuh dan merawat anak berkaitan langsung dengan bagaimana menjadi “Tuhan Metaforis”, yang mencoba menghadirkan semua anggota keluarga untuk berkembang menjadi manusia yang mulia. (hlm. 25-26)
Melihat realita saat ini, banyak orangtua yang tidak memperhatikan pendidikan spiritual anak. Anggapan mereka, pendidikan  hanya berada di sekolah. Hal seperti ini mengakibatkan banyaknya remaja yang terjerumus dalam lingkaran nafsu syahwat. Selanjutnya akan melahirkan generasi pemuja syahwat serta kenakalan-kenakalan remaja pun tersebar dimana-mana. Seperti yang diramalkan Profesor Masri Singa rimbun pada tahun 1990-an, bahwa kelak akan tiba waktunya orangtua setiap kali melepas anaknya pergi dengan pasangannya (pacarnya), akan mengatakan “apakah kalian sudah membawa kontrasepsi?.” Hal Ini terjadi lantaran sangat kacaunya zaman itu.

Buku Quantung Parenting ini sangat cocok untuk dikonsumsi semua kalangan. Bahasanya yang sederhana memudahkan pembaca memahami pesan penulis, baik yang tersurat maupun tersirat. Selain itu, materi yang disampaikan sangat relevan dengan keadaan bangsa Indonesia yang sedang dilanda krisis moral. 

*) Penulis adalah mahasiswa PGMI 2012 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Garis Waktu

Judul               : Garis Waktu Jenis                : Kumpulan Cerita Penulis             : Fiersa Besari Penerbit           : Media Kita Cetakan           : VII, 2017 ISBN               : 978-979-794-525-1 Fiersa Besari merupakan sosok pemuda kelahiran Bandung yang akrab dipanggil "bung" dan ternyata lulusan Sastra Ingris tapi lebih suka mengaku lulusan sastra mesin. Bung ini dikenal sebagai Penulis, Penggiat Musik, Pengelana, dan Penangkap Jejak. Sekembalinya dari perjalanan mengelilingi Indonesia dalam rangka mencari jati diri, Bung mulai mengumpulkan tulisannya menjadi sebuah buku yang kemudian diberi judul "Gari...

Belajar Hingga Akhir Hayat

sumber gambar: membumikan-pendidikan.blogspot.com Oleh: Kodri Syahnaidi, Mahasiswa PBA 2015 “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat”. Demikianlah urgensi menuntut ilmu (belajar) yang dianjurkan Rasulullah. Belajar merupakan sebuah kebutuhan bagi setiap manusia.  Karena sebagai manifestasi rasa syukur terhadap anugerah akal pikiran yang hanya bisa digunakan melalui proses pembelajaran. Selain itu, belajar juga dapat mengasah kecerdasan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Belajar juga dapat meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) agar dapat mengelola alam sebagai khalifah (wakil Tuhan) di dunia. Proses pembelajaran pertama kali dilakukan oleh Allah dan Nabi Adam ketika diciptakan. Sampai hari ini proses pembelajaran masih berlangsung di berbagai belahan dunia. Proses pembelajaran sepatutnya berlangsung terus-menerus hingga akhir hayat. Secara formal, pendidikan itu dimulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi. Perguruan tinggi  merupakan t...