Materi-materi sains yang sederhana, seperti
listrik statis justru membingungkan mahasiswa dalam membuat media ajarnya.
Namun, hal ini disiasati oleh Benny dan kawan-kawan. Mereka memiliki inisiatif
membuat film sendiri agar penyampaian informasinya lebih mengena. “Materinya
sangat simple, jadi punya inisiatif membuat film sendiri,” ujar Benny yang pada
saat ditemui sedang mempersiapkan stand.
Kreativitas
mahasiswa benar-benar terasah. Pasalnya, pembuatan media ajar haruslah
mempertimbangkan biaya, ketahanan, keamanan, kepraktisan, dan daya tarik.
Dengan pertimbangan tersebut, mahasiswa dituntut untuk membuat media semenarik
mungkin dengan biaya murah. Tentunya, tantangan ini disambut baik oleh
mahasiswa. Salah satu mahasiswi menyampaikan ketertarikannya dengan model
kuliah seperti ini. “Seneng, soalnya melatih kreativitas mahasiswa, gak hanya
ceramah,” papar Winda.
Senada
dengan Winda, Raha juga menyampaikan ketertarikannya dengan metode kuliah
semacam ini. “Gak ngantuk, mudah diingat, dan bermakna bagi kita,” ungkapnya.
Teknisnya, setiap kelompok yang terdiri dari
5 orang membuka stand dan menentukan 1 atau 2 anak untuk menjaga stand
tersebut. Adapun anggota lainnya bertugas untuk keliling, menggali informasi di
masing-masing stand selama 5 menit tiap stand.
“Semoga
kelak kegiatan pameran ini dapat dilaksanakan di gedung-gedung sekolah MI yang
ada di Yogyakarta untuk menarik perhatian anak-anak agar mempunyai kemauan
untuk menciptakan sesuatu atau kerajinan sekaligus mengajak kepada guru-guru
yang bersangkutan agar kreatif membuat media pembelajaran yang beragam.
Sehingga nantinya anak tidak akan merasakan bosan dalam proses pembelajaran.”
Tegas pak Sigit selaku dosen pengampu mata kuliah Sains II dan Pembelajarannya, saat
memberikan sambutan di depan kelas.
Imron dan Fidiya
Imron dan Fidiya
Komentar
Posting Komentar