Langsung ke konten utama

Diskusi Jangan dengan Otak Kosong

Diskusi Jangan dengan Otak Kosong
Budaya diskusi di kalangan mahasiswa sudah semestinya menjadi hal yang sangat akrab. Dari diskusi itulah, mahasiswa akan mampu memperluas cakrawala. Namun pada kenyataannya, masih banyak diantara kita yang masih memandang sebelah mata dan bahkan merasa bosan akan diskusi.
Sudaryanto, mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab menuturkan, ketika mendengar kata diskusi yang ada dibenaknya yakni belajar bersama dan saling tukar informasi. Dimana dalam diskusi perlu adanya modal awal, “Jadi kalau diskusi jangan dengan otak kosong, harus ada bekal informasi,  contoh kalau kita mau diskusi tentang keagamaan setidaknya didalam otak kita sudah termindset dan terisi oleh sesuatu yang akan kita diskusikan nantinya , sehingga ketika diskusi tidak mati atau tidak garing” tutur mahasiswa semester IV ini. Mahasiswa asal Gunung Kidul ini memandang pentingnya diskusi bagi mahasiswa baik di dalam kelas  maupun di luar kelas.
Di dalam kelas sendiri telah didapat budaya diskusi melalui presentasi-presentasi, sedangkan yang di luar kelas ia dapati pula diskusi dengan nama halaqoh.  Menurutnya diskusi tersebut berguna untuk mengasah mental, menambah informasi dengan membahas suatu masalah kemudian memecahkan masalah tersebut bersama-sama, dan melatih kemandirian belajar guna peningkatan kualitas diri.


Mira dan Rena

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Garis Waktu

Judul               : Garis Waktu Jenis                : Kumpulan Cerita Penulis             : Fiersa Besari Penerbit           : Media Kita Cetakan           : VII, 2017 ISBN               : 978-979-794-525-1 Fiersa Besari merupakan sosok pemuda kelahiran Bandung yang akrab dipanggil "bung" dan ternyata lulusan Sastra Ingris tapi lebih suka mengaku lulusan sastra mesin. Bung ini dikenal sebagai Penulis, Penggiat Musik, Pengelana, dan Penangkap Jejak. Sekembalinya dari perjalanan mengelilingi Indonesia dalam rangka mencari jati diri, Bung mulai mengumpulkan tulisannya menjadi sebuah buku yang kemudian diberi judul "Gari...

Belajar Hingga Akhir Hayat

sumber gambar: membumikan-pendidikan.blogspot.com Oleh: Kodri Syahnaidi, Mahasiswa PBA 2015 “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat”. Demikianlah urgensi menuntut ilmu (belajar) yang dianjurkan Rasulullah. Belajar merupakan sebuah kebutuhan bagi setiap manusia.  Karena sebagai manifestasi rasa syukur terhadap anugerah akal pikiran yang hanya bisa digunakan melalui proses pembelajaran. Selain itu, belajar juga dapat mengasah kecerdasan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Belajar juga dapat meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) agar dapat mengelola alam sebagai khalifah (wakil Tuhan) di dunia. Proses pembelajaran pertama kali dilakukan oleh Allah dan Nabi Adam ketika diciptakan. Sampai hari ini proses pembelajaran masih berlangsung di berbagai belahan dunia. Proses pembelajaran sepatutnya berlangsung terus-menerus hingga akhir hayat. Secara formal, pendidikan itu dimulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi. Perguruan tinggi  merupakan t...