Menyatu dalam api
Demi mimpi di tangkai pelangi
Tak perlu kau tangisi
Tak usah kau kasihi
Ini hanyalah legenda anak negeri
Dipinta pun kau tak peduli
Di bawah terik matahari
Mereka begitu garang
Menerkam mengejar bayang
Menaklukkan pembodohan
Demi perjuangan yang sejati
Tak perlu kau tangisi
Tak perlu kau kasihi
Mereka tlah berteguh hati
Meraih setitik embun di esok pagi
Demi mimpi di tangkai pelangi
Tak perlu kau tangisi
Tak usah kau kasihi
Ini hanyalah legenda anak negeri
Dipinta pun kau tak peduli
Di bawah terik matahari
Mereka begitu garang
Menerkam mengejar bayang
Menaklukkan pembodohan
Demi perjuangan yang sejati
Tak perlu kau tangisi
Tak perlu kau kasihi
Mereka tlah berteguh hati
Meraih setitik embun di esok pagi
Yogyakarta, 2014
Arah yang Hilang
Di sini, di kota yang permai ini
Sejenak malam menepi
Tak tahu arah terbitnya matahari
Tak tereka apa yang kan terjadi
Sabit rembulan menghibur
Duduk bersimbah di pangkuan
Mencoba menghapus air mata
Sedikit Redup bercampur haru
Di sini, di kota yang permai ini
Sejenak malam menepi
Tak tahu arah terbitnya matahari
Tak tereka apa yang kan terjadi
Sabit rembulan menghibur
Duduk bersimbah di pangkuan
Mencoba menghapus air mata
Sedikit Redup bercampur haru
Yogyakarta, 2014
Sumber gambar: pendosalugu.blogspot.com
Sumber gambar: pendosalugu.blogspot.com

Ini, puisi yang kutunggu-tunggu, Al. Terus berkarya!!!!
BalasHapusPenuh makna....
BalasHapusTinggal karyamu, ine. Tk tunggu!!!
Hapuskirain yang komen orang lain ,,,,
BalasHapusloh, kan memang orang lain toh pris. haha
BalasHapus