![]() |
| Gambar: Suasana diskusi di Ruang Teatrikal. |
Keterlibatan perempuan
di ruang publik, terlebih dalam ranah politik masih sangat minim. Hal ini
dikarenakan antusiasme perempuan masih sangat rendah dalam bidang politik.
Ironisnya, stigma negatif terhadap politik telah menjadi mindset masyarakat terlebih bagi perempuan.
Pernyataan tersebut
diungkapkan oleh Ari Indah Hayati, dalam diskusi Beranda Perempuan yang bertema
Perempuan, Politik dan Gerakan Anti-Korupsi yang didukung oleh Yayasan Satu
Nama, AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Yogyakarta dan LPM Paradigma UIN Sunan
Kalijaga, Senin (14/03) .
Menurut aktivis
perkumpulan Narasita ini, sungguh ironis, mengingat UU tentang peran perempuan
di ruang publik sudah diatur jelas. Bahkan dalam parlemen perempuan sudah
diberi ruang 30%. Kenyataannya masih sangat minim partisipasi perempuan di
parlemen. “Sebenarnya afirmasinya terletak pada parpol itu sendiri. Mereka akan
melengkapi kuota 30% itu, pas mau diverifikasi KPU saat hendak pemilu. Alhasil
hasilnya jadi-jadian,” tuturnya.
Ari juga mengeluhkan
minimnya pendidikan politik untuk perempuan. Hal ini berdampak pada partisipasi
perempuan di politik. Ia juga mengkritik media yang kurang mengkonstruk opini
tentang keterwakilan perempuan.
Addi Mawahibbun Idhom,
seorang Jurnalis Tempo juga mengamini pernyataan Ari di atas. Budaya patriarki
memang masih kentara di tengah-tengah masyarakat. Ia menyatakan, ketika dulu
Angelina Sondakh tersangkut korupsi, media terus saja menyorotnya. Terlebih
pada yang bersifat sensual dan menjual. Waktu itu, Angelina Sondakh mulai
berjilbab saat tersangkut kasus korupsi. “Padahal kan, nggak ada hubungannya antara korupsi dengan memakai jilbab,“
terangnya.
Pria yang mengaku
alumnus UIN Sunan Kalijaga ini menjelaskan, selain faktor di atas, media yang
berperan sebagai pembentuk opini publik justru oportunis. Sekarang ini
merupakan era kapitalis, media pun mulai berpihak terhadap bisnis dan politik
pemilik media. Sehingga berita yang dihasilkan buruk bahkan mengeksploitasi
perempuan.
Diskusi yang berlangsung
di Teatrikal Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) ini cukup menarik.
Meski peserta yang hadir tidak lebih dari tiga puluh orang. Peserta terlihat
cukup antusias.
“Apa pentingnya
perempuan terlibat dalam politik, sedang laki-laki lebih pantas bergelut di
dunia itu?” tanya Ine salah seorang peserta yang hadir.
“Sebenarnya ada hal
dasar yang harus dipahami baik oleh laki-laki maupun perempuan. Jadi, gender
itu perbedaan peran. Kodrat perempuan bukan hanya menjadi ibu rumah tangga.
Meskipun ada beberapa peran yang memang tidak bisa digantikan. Sebab
keterbatasan perempuan itu sendiri. Tapi, politik bagi perempuan itu harus,”
tegas Ari.
Perempuan yang pernah
menjabat menjadi dewan tersebut juga menerangkan mengapa perempuan harus terjun
berpolitik, sebab tidak akan mungkin kebutuhan mereka terakomodir jika semua
yang duduk dibangku parlemen adalah laki-laki.
“Contoh kecil adalah
meja ini (sambil menunjuk meja di depannya), mengapa bagian depannya tertutup.
Laki-laki tidak akan pernah berpikir sampai jauh ini. Walaupun terlihat
sepele,” lanjutnya.
Ungkapan senada juga
diungkapkan Imron dari Lembaga Pers Mahasiswa Paradigma UIN Sunan Kalijaga.
Perempuan juga mempunyai hak yang sama dengan laki-laki dalam berbagai aspek.
Namun realitasnya terbalik. Ia menyatakan, dalam berbagai organisasi atau pun
gerakan hampir semua yang memegang peran strategis adalah laki-laki. Mahasiswa
perempuan masih menganggap dirinya lebih rendah dari laki-laki. “Bahkan pernah
terjadi aksi beberapa waktu yang lalu di UIN. Tujuannya untuk memperjuangkan
hak perempuan, tapi kok yang aksi malah laki-laki
semua,” jelasnya. [Aan]

Terpaksa bilang 'jooosss'
BalasHapus. hhaha