sumber gambar: kitadankota.wordpress.com Oleh: Ali Munir SF Pagi beranjak bersama sinar matahari berwarna kekuning-kuningan di ufuk timur yang agak condong ke utara. Daun-daun muda masih terdiam tanpa buliran embun, dihibur oleh suara burung-burung kecil. Memang burung yang tersisa di kampungku hanyalah burung-burung sisa perburuan tangan manusia. Sedangkan burung-burung besar sudah punah tanpa nyanyian indahnya di setiap lambaian angin dini hari. Tapi cericit burung kecil itu masih memberi harapan pada hati setiap penggemarnya, orang yang setia berteman dengan alam. Satu-satunya piaraanku yang masih utuh adalah seekor sapi betina yang genit, sapi pemberian ayahku. Sudah lama ini sapiku tak berbunyi lagi. Entah apa yang sedang terjadi dengannya. Setiap pagi kulihat dia hanya diam, sesekali geleng-geleng seperti kebingungan. Kuberi dia makan rumput kering dari hasil penjumputan kemarin sore dan minuman dari sisa air cucian dapur, memang biasa begitu. Dia pun makan dengan pel...
Menuju Transformasi Pendidikan