Judul
Buku : Zaman Gendheng
Penulis : Agus Nur Cahyo
Penerbit : IRCiSoD
Cetakan : I, Januari 2016
Tebal : 212 halaman
ISNB : 978-602-391-082-3
Peresensi : Imron Mustofa, mahasiswa tua
Silahkan
memilih kaya atau miskin. Urusan utama kehidupan ini bukanlah pada kaya atau
miskin, melainkan cara memperoleh kekayaan dan bagaimana seseorang bisa menjadi
miskin. (Cak Nun)
Manusia
dicipta dibekali dengan naluri dan akal budi. Naluri, dalam pengertian
psikologi, diartikan sebagai perbuatan atau reaksi majemuk dan tidak dipelajari
yang dipakai untuk mempertahankan hidup. Sementara akal budi, merupakan daya
pikir untuk memahami segala sesuatu, berpadu dengan perasaan untuk menimbang
baik dan buruk.
Tak
semua dorongan (naluri/insting) manusia bisa dituruti. Ada ukuran baik dan
buruknya. Sehingga, diperlukan kerja akal budi untuk mengontrol
dorongan-dorongan yang timbul. Jika tidak, maka tak ada bedanya manusia dengan
hewan, yang hanya memenuhi kebutuhan hidup, tanpa mengindahkan keberadaan
spesies lain di sekitarnya.
Sayangnya,
jika kita melihat masyarakat Indonesia, banyak orang yang gagal mengupayakan
keseimbangan antara naluri dan akal budi pada dirinya. Sebagai contoh, mantan
aktivis mahasiswa yang tiba-tiba terjerat korupsi saat menjadi pejabat
pemerintahan. Tentu korupsi terjadi karena ia tak mampu mengendalikan dorongan
nalurinya (atau sebagian juga memaknai dorongan nafsu) untuk memenuhi kebutuhan
pribadi secara berlebihan. Seolah-olah, hanya materi yang ia kejar dengan
mengabaikan tanggungjawab moralnya sebagai pejabat.
Begitu
banyak orang yang berlomba-lomba menumpuk harta, tapi kering akal budinya. Tak
menutup kemungkinan kita juga bagian dari peserta lomba tersebut. Namun, kita
tak perlu pesimistis dengan kondisi semacam ini. Selalu ada harapan, sekalipun
kecil.
Seolah-olah
harapan muncul, seiring munculnya Cak Nun di tengah-tengah masyarakat. Bak
oase di padang pasir, kehadirannya ditunggu-tunggu masyarakat, baik dari
golongan pejabat, rakyat biasa, tua dan muda. Ia membawa semangat keselarasan,
antara naluri dan akal budi.
Agus
Nur Cahyo, penulis buku Zaman Gendheng, juga salah satu pengagum Cak Nun. Ia,
dalam buku diceritakan, rutin mengikuti pengajian rutin bulanan (Maiyah Mocopat
Syafaat), di Kasihan Bantul, tempat Cak Nun dan Kiai Kanjeng tampil. Sehingga, lambat laun terbesit dalam
benaknya, untuk membukukan mutiara-mutiara hikmah yang tercecer.
Petuah-petuah Cak Nun, mampu
membangkitkan spirit positif bagi yang mendengarnya. Tentu petuah-petuah itu
lahir dari pandangan dan keilmuannya yang sangat mendalam. Dalam buku ini
bahkan digambarkan, bahwa petuah-petuah Cak Nun ibarat pelita yang mampu
menerangi apapun di sekitarnya. Sehingga membuat orang mampu melihat segala
persoalan secara jernih (halaman 8).
Salah satu petuahnya, cukup mewakili
semangatnya dalam menebar spirit keselarasan kepada masyarakat Indonesia:
Jangan sampai kebenaran di dalam dirimu kalah oleh kehendak dalam dirimu.
Sebab, manusia itu kalah oleh kehendaknya (halaman 181).
Kehendak dalam hal ini, tentu bisa dimaknai
sebagai naluri, belum tercampuri dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Ukuran
baik dan buruk sama sekali tak akan terbesit dalam diri manusia jika kehendak
telah menguasainya.
Selanjutnya, Cak Nun memperingatkan
kita agar jangan sampai kebenaran dikalahkan oleh kehendak. Kebenaran, yang
berarti melewati proses berpikir dengan akal budi. Jika kebenaran yang kita
yakini sampai terkalahkan kehendak, tentu tak ada bedanya kita dengan binatang:
hanya memikirkan urusan perut dan pusar ke bawah.
Membicarakan Cak Nun tak ada
habis-habisnya. Keilmuan yang dalam serta wawasan yang luas, membuat ia
dikagumi banyak orang. Ia merupakan manusia multisubyek. Digambarkan sebagai
budayawan, nyatanya ia spiritualis. Digambarkan sebagai Kiai, nyatanya ia bermain
musik dan bershalawat. Digambarkan sebagai musisi, nyatanya ia menulis sastra
dan puisi. Digambarkan sebagai sastrawan, nyatanya ia adalah pekerja sosial,
dan sebagainya, tiada habisnya.
Pernah suatu waktu saya mengikuti Ngaji
Bareng Cak Nun di salah satu kampus negeri di Yogyakarta. Di akhir acara, ia
menyampaikan kekecewaannya kepada teman seperjuangan yang bersama-sama
menumbangkan rezim Soeharto, yang ternyata berambisi menjadi Soeharto baru.
Sejenak saya berpikir: jangan-jangan
kejadian traumatik ini yang membuat Cak Nun memilih jalan hidup yang berbeda
dari teman-teman seperjuangan. Berbaur dengan masyarakat ternyata lebih
menggoda Cak Nun daripada terjun ke dunia politik praktis. Ia menyapa
masyarakat ditemani Kiai Kanjeng (grup musik), menghibur sekaligus menyampaikan
nilai-nilai kehidupan yang berharga. Menebar optimisme dan mencipta asa di
tengah-tengah carut-marutnya kehidupan ekonomi-sosial-politik Indonesia.
Maka wajar jika ia yang saat ini digemari
masyarakat dari berbagai kalangan. Dengan cerdas, Cak Nun mampu menyampaikan
hal sederhana dengan penjelasan filosofis yang njlimet, juga mampu
menyederhanakan persoalan yang rumit. Bumbu humor dalam petuah-petuahnya juga
yang membuat dirinya dielu-elukan, digemari kalangan tua dan muda.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak
hanya sibuk mengejar hal-hal yang bersifat duniawi. Karena tak bakal puas. Tapi
juga mengisi jiwa dengan ‘makanan’ bergizi, sebagai energi yang bisa menyelaraskan
antara dorongan naruliah dan akal budi. Maka tak berlebihan jika saya menyebut
Cak Nun sebagai penabur spirit keselarasan.

Komentar
Posting Komentar