Langsung ke konten utama

Kemerdekaan Menuntut Komitmen Besar dari Kita


Kemerdekaan tanpa cinta artinya kemerdekaan tanpa komitmen, kemerdekaan yang belum berarti apa-apa bagi kita. Kemerdekaan tanpa cinta seperti lahan yang belum ditanami.

Hal ini disampaikan Joko Pinurbo, saat melakukan orasi budaya dalam rangka memperingati kematian wartawan Udin 20 tahun lalu yang diadakan Aliansi Jurnalis Independent (AJI) dengan menggandeng beberapa aktivis, budayawan, pegiat seni dan pers mahasiswa di Tugu Pal Putih Yogyakarta, Selasa (16/08).

Ia mengutip puisinya Chairil Anwar yang berjudul Kangen untuk menggambarkan kondisi 71 tahun setelah kemerdekaan. "Kau tak mengerti betapa kesepiannya aku menghadapi kemerdekaan tanpa cinta," katanya.

Kemerdekaan tanpa cinta, menurutnya, seperti kemerdekaan tanpa komitmen. Tak lain, yang telah memberi komitmen pada kemerdekaan adalah martil-martil muda yang telah mati karena mereka berani hidup. Dan karena mereka berani hidup, maka berani mati.

"Udin adalah salah satu martil muda yang menjadi tauladan bagi kita. Menjadi icon perjuangan dan kebebasan berekspresi," paparnya.

Joko Pinurbo merasa prihatin, karena kemerdekaan Indonesia masih diwarnai ketidakadilan penguasa. Seperti yang menimpa jurnalis di Medan, Sumatra Utara, dipukuli oleh beberapa oknum TNI AU.

"Artinya, apa yang dialami Udin, sewaktu-waktu bisa terjadi pada siapa saja di waktu yang akan datang," imbuhnya.

Karenanya, kemerdekaan masih menuntut komitmen yang lebih besar dari kita. "Kita harus punya komitmen untuk berjuang supaya kekuasaan di negeri ini menampilkan wajah yang lebih manusiawi. Udin adalah ikon yang mampu berkomitmen mengisi kemerdekaan," ungkap Joko Pinurbo.

Udin adalah wartawan Bernas yang diduga dibunuh karena mengungkap kasus korupsi pemerintahan Bantul yang sampai sekarang belum jelas pelakunya. Ia dibunuh oleh orang tak dikenal di rumahnya pada tanggal 13 Agustus 1996. Dirawat di rumah sakit dan menghembuskan nafas terakhir pada pukul 16.58 WIB tanggal 16 Agustus 1996. Dikebumikan esok harinya.

71 tahun kemerdekaan Indonesia, oleh berbagai aktivis atau pihak yang peduli akan keadilan di Jogja, diisi dengan tuntutan penyelesaian kasus Udin, jurnalis-jurnalis yang dibunuh karena aktivitas jurnalistiknya, dan kasus-kasus penindasan yang menimpa rakyat kecil.


Reporter             : Imron Musthofa
Editor                 : Ali Munir S.


Sumber Gambar : Potret Acara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

karikatur

puisi- Di Gubuk Itu

Di Gubuk itu Oleh : Lembaran Hitam* Di gubuk itu Aku melihatmu Duduk menatap sebuah buku dalam genggaman Jika ku lihat, Sangat sederhana sekali gubuk itu berdinding bilik yang di anyam berlapis karpet merah terbentang Dengan lampu-lampu hiasan tergantung Tapi aku tidak melihat dari bentuk Ataupun hiasan Aku melihat dari kesungguhan pikiran Aku melihat dari coretan yang kau tuliskan Dan aku melihat dari gagasan yang kau sampaikan Di gubuk itu, Pejuang visi dan misi mengotak-atik lampiran Manjadi penentu yang berpatokan Buku merah kau jadikan pelajaran Cerminan tanggung jawabmu di akhir jabatan Di gubuk itu Kau rumuskan rancangan kegiatan Menuliskannya dalam sebuah buku sederhana tapi menentukan Tidak bisa disepelekan Juga tak bisa diabaikan Sekali lagi Di gubuk itu . . . *) Penulis adalah mahasiswa PBA 2012 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta