ANTARA AKU, KAU DAN GIGIL ITU
Semoga diammu-diamku ialah jalan menuju September yang dulu
Bukan diam yang menyebabkan rindu terhenti
Bukan diam yang sebenar-benarnya mati
2015
Membaca puisi di atas kita terbayang pada dua orang pria dan wanita yang sedang menikmati sepi masing-masing. Bagaimana tidak, pada judul kita sudah dihadapkan dengan kata “Aku”, “Kau” dan “Gigil” yang berarti bahwa si aku (penulis) dan si kau (kekasihnya) sedang menggigil, kedinginan karena sepi dari pasangan masing-masing. Dingin oleh kenangan, bayangan dan harapan untuk selalu berdua.
Kemudian kata itu dijelaskan pada baris pertama, penjelasan melalui do’a, //Semoga diammu-diamku ialah jalan menuju September yang dulu//, dalam diam oleh sepi kita adalah perantara untuk kembali pada ingatan tentang cerita September lalu, cerita kita berdua. Walaupun barangkali kita sudah putus, bahkan menutup muka masing-masing saat berpapasan. Diam adalah jalan dan penghibur kita dalam dingin yang menggigil.
Tidak cukup di sana, diamnya kita //Bukan diam yang menyebabkan rindu terhenti//, juga // Bukan diam yang sebenar-benarnya mati//. Karena apa yang pernah terpatri dalam hati kita tak kan pernah hilang dalam sepi masing-masing, melainkan dia adalah rindu yang terus hadir dalam gigil dan tidak akan pernah mati, kecuali kita benar-benar mati.
Lepas dari semua itu, penulis telah berhasil menyampaikan keadaan dan harapan dengan cara yang halus, cukup tegas menjelaskan diam dalam gigil kita yang sebenarnya.
Sekian dan salam sastra budaya!
Ali
Munir S., lahir pada tahun 1994 di
Sumenep Madura. Sekarang mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan Islam
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Buku antologi
puisinya berjudul “Jiwa yang Terlepas” diterbitkan oleh CV.
Ganding Pustaka. Penulis
bisa di hubungi lewat: HP. 082326129597. E-Mail:
alimunir707@gmail.com. FB. Ali Munir.

Komentar
Posting Komentar