Langsung ke konten utama

Pernik Media Online dan Media Sosial


Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, KOMINFO RI menyelenggarakan diskusi Editors Meeting pada Kamis, 18/08/2016. Diskusi tersebut diadakan di Ballroom Harper Mangkubumi Hotel, Yogyakarta pada pukul 12.00 WIB.  Tema yang diusung yaitu "Untuk Publik Demi Republik". Peserta diskusi terdiri dari Pimred Media cetak, online, dan elektronik, Kepala Biro Media Nasional,  Project Directur Stasiun Radio,  dan Pers Mahasiswa dari berbagai kampus.

Diskusi tersebut dimoderatori oleh Brita Laura dari Metro TV. Konsep yang dipakai berbeda dari biasanya. Secara umum diskusi diisi oleh pemateri lalu berakhir dengan tanya jawab. Namun kali ini diskusi lebih hidup dengan kebebasan berpendapat untuk peserta. Prinsipnya, siapapun bisa menjadi narasumber.

Berbagai silang pendapat pun terjadi antara peserta maupun narasumber. Salah satu paparan datang dari salah satu narasumber bernama Lukman, "Kini, orang-orang lebih cepat tahu dari sosial media daripada TV/radio/media cetak," paparnya.

Senada dengan Lukman, Sawitra, aktivis pers Mahasiswa UPN, mengatakan bahwa media sosial juga dijadikan pilihan mahasiswa untuk mencari informasi. "Mahasiswa lebih suka yang ringkas (online -red), harusnya yang mendalam," paparnya.

Keberadaan media online inilah, oleh beberapa peserta yang hadir, menjadi sorotan. Daniel, perwakilan dari salah satu stasiun radio swasta mengatakan, media terdiri dari unsur sara,  saru, sinis, dan sesat. "Unsur tersebut sudah menjadi konten tetap Media masa kini," papar Daniel. 

Masih soal berjubelnya informasi di media online dan media sosial yang tidak terkontrol, bahwa yang membedakan adalah pada regulasinya.

"Kebebasan yang kebablasan. Media sosial tidak terikat oleh UU jurnalistik (tidak seperti portal berita online -red). Kecepatan dalam menyampaikan informasi pun bersaing dengan media lain," papar jurnalis asal Solo.

Diskusi ditutup dengan penyampaian solusi yang bisa dilakukan bersama agar media tetap menjadi pembela Republik melalui publik. KOMINFO memaparkan ide solutions yaitu, "Media mainstream (baik cetak maupun online -red) dan Media Sosial seharusnya bisa bersahabat."


Reporter             : Ine Wulandari
Editor                  : Ali Munir S.
Sumber Gambar : www.vemale.com/..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

karikatur

puisi- Di Gubuk Itu

Di Gubuk itu Oleh : Lembaran Hitam* Di gubuk itu Aku melihatmu Duduk menatap sebuah buku dalam genggaman Jika ku lihat, Sangat sederhana sekali gubuk itu berdinding bilik yang di anyam berlapis karpet merah terbentang Dengan lampu-lampu hiasan tergantung Tapi aku tidak melihat dari bentuk Ataupun hiasan Aku melihat dari kesungguhan pikiran Aku melihat dari coretan yang kau tuliskan Dan aku melihat dari gagasan yang kau sampaikan Di gubuk itu, Pejuang visi dan misi mengotak-atik lampiran Manjadi penentu yang berpatokan Buku merah kau jadikan pelajaran Cerminan tanggung jawabmu di akhir jabatan Di gubuk itu Kau rumuskan rancangan kegiatan Menuliskannya dalam sebuah buku sederhana tapi menentukan Tidak bisa disepelekan Juga tak bisa diabaikan Sekali lagi Di gubuk itu . . . *) Penulis adalah mahasiswa PBA 2012 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta