Langsung ke konten utama

Perayaan Dies Natalis LPM Paradigma ke-26



Minggu 19 November 2017 LPM Paradigma mengadakan acara dies natalis ke-26 di AOA Cafe - sebuah kafe yang yang berlokasi di dekat Jalan Selokan Mataram, Nologaten, Yogyakarta. Acara yang mengusung tema "Mengukuhkan Etika Jurnalistik melalui Pers Mahasiswa" ini tidak hanya dihadiri pengurus dan anggota saja. Beberapa alumni seperti Supriyanto (Pemimpinan Redaksi LPM Paradigma 1999) dan Tafsiyah (Seketaris Umum LPM Paradigma 1999) juga menyempatkan diri untuk hadir.

Acara yang dilakukan dengan konsep lesehan ini terdiri dari beberapa sesi seperti: pembukaan, kalam ilahi, menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan, pengumuman lomba antologi cerpen, launcing  web, seminar "Etika Jurnalisik", potong tumpeng, dan diakhiri dengan do'a. Supriyanto yang kini aktif sebagai reporter Suara Merdeka memberikan wejangan kepada pengurus dan anggota baru LPM Paradigma pada sesi seminar. "Kalian itu 'pribumi', lahir setelah teknologi internet masuk Indonesia. Kalau kami ini kan hanya 'imigran'. Jadi kalian itu harus inovatif," tuturnya. Lebih lanjut Supriyanto mengatakan, "Sebagai insan pers mahasiswa kalian tidak boleh minder. Kalau masalah tulisan jelek, kalian bisa minta tolong pengurus atau alumni."


Shinta Melia, mahasiswi PGMI 2017 selaku sie acara memberikan pendapat tentang acara ini, "Sepi karena banyak undangan yang tidak datang. Tapi puas karena menurutku senior yang diatasku sudah datang dan panitianya alhamdulilah komitmen."(Dewi R, Shofa)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Garis Waktu

Judul               : Garis Waktu Jenis                : Kumpulan Cerita Penulis             : Fiersa Besari Penerbit           : Media Kita Cetakan           : VII, 2017 ISBN               : 978-979-794-525-1 Fiersa Besari merupakan sosok pemuda kelahiran Bandung yang akrab dipanggil "bung" dan ternyata lulusan Sastra Ingris tapi lebih suka mengaku lulusan sastra mesin. Bung ini dikenal sebagai Penulis, Penggiat Musik, Pengelana, dan Penangkap Jejak. Sekembalinya dari perjalanan mengelilingi Indonesia dalam rangka mencari jati diri, Bung mulai mengumpulkan tulisannya menjadi sebuah buku yang kemudian diberi judul "Gari...

Belajar Hingga Akhir Hayat

sumber gambar: membumikan-pendidikan.blogspot.com Oleh: Kodri Syahnaidi, Mahasiswa PBA 2015 “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat”. Demikianlah urgensi menuntut ilmu (belajar) yang dianjurkan Rasulullah. Belajar merupakan sebuah kebutuhan bagi setiap manusia.  Karena sebagai manifestasi rasa syukur terhadap anugerah akal pikiran yang hanya bisa digunakan melalui proses pembelajaran. Selain itu, belajar juga dapat mengasah kecerdasan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Belajar juga dapat meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) agar dapat mengelola alam sebagai khalifah (wakil Tuhan) di dunia. Proses pembelajaran pertama kali dilakukan oleh Allah dan Nabi Adam ketika diciptakan. Sampai hari ini proses pembelajaran masih berlangsung di berbagai belahan dunia. Proses pembelajaran sepatutnya berlangsung terus-menerus hingga akhir hayat. Secara formal, pendidikan itu dimulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi. Perguruan tinggi  merupakan t...