Langsung ke konten utama

Program PLP KKN Integratif: Hubungan Mesra antara Paradigma Lulus Cepat, Ketidaksiapan Sistem, dan Lima Mei


Yogyakarta,LPM Paradigma - Simpang siur pelaksanaan PLP KKN Integratif Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga tahun 2020 sudah terdengar sejak dikeluarkannya himbauan sosial distancing oleh pemerintah diikuti dengan pemberlakuan hari libur bagi civitas akademika. Tepat pada 25/04/2020 pegawai Laboratorium Pendidik FITK berinisial NH membuat grup whatsapp dengan nama “Calon PLP KKN Covid 5 Mei”.


Antusiasme mahasiswa terkait pelaksanaan PLP KKN dibuktikan dengan jumlah anggota yang tiga kali melebihi prakiraan pegawai laboratorium, ujar NH melalui grup tersebut.

Menanggapi antusiasme mahasiswa, kami mencoba melakukan wawancara terhadap SJ yang merupakan mahasiswi angkatan 2017, “Dilema, aneh. Saya berfikir mungkin tuntutan untuk mempercepat kelulusan saya, tapi setelah dipikir-pikir ini kok tidak masuk akal karena mempersulit mahasiswa dan membingungkan. Bahkan sistem juga belum jelas. Ketika ditelaah lebih lanjut, didraftnya bahkan belum tertulis latar belakang PLP KKN 5 mei. Terus dijadwal aslinya kan bulan juli, dengan adanya pandemi ini seharusnya semua kegiatan diundur atau ditunda kok ini malah dimajuin. Inikan menimbulkan permasalahan dan kegelisahan. Kenapa dimajuin, kan mahasiswa pada bingung jadinya” ujarnya yang diwawancarai pada Senin 27/4/2020.

Mengetahui keluh kesah mahasiswa kami memutuskan untuk mewawancarai WD 1 Bidang Akademik, beliau mengungkapkan bahwa usulan program PLP KKN Integratif dengan dua model yaitu regular dan non-reguler telah disepakati bersama. Keputusan telah disepakati, lalu bagaimana dengan kondisi dilapangan ? Kami merangkumnya menjadi empat poin yang harus kita telaah bersama:

Poin pertama, penyebaran formulir yang mencantumkan pilihan upload proposal tidak dibarengi dengan penyuluhan bagaimana format pembuatan proposal KKN, diketahui formulir dibuat pada tanggal 22/04/2020 dan mengalami perbaruan pada hari berikutnya, sedang pemberitahuan format proposal baru diberikan pada tanggal 27/04/2020. Kesalahan teknis bisa terjadi namun ketika sudah diadakannya rapat baik dengan birokrat dan laboratorium seyogyanya menjadikan keputusan yang diambil lebih rasional.

Poin kedua, pengisian estimasi biaya PLP KKN Integratif dalam format proposal. Mengetahui biaya yang dikeluarkan setiap kelompok pada saat melakukan pengabdian membuat pertanyaan baru bagaimana nasib mahasiswa yang mengambil jenis KKN Individu ? Perlu diketahui bahwa UIN Sunan Kalijaga membawa lekat nama kampus rakyat, lalu apakah slogan ini hanya milik mahasiswa aktivis ? Tentu tidak, sebab Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan: Seorang yang terpelajar seharusnya sudah adil sejak dalam pikiran.

Point ketiga adalah ketidakterbukaan pihak laboratorium dalam merespon kebingungan mahasiswa. Kemunculan yang mendadak, membuat banyak mahasiswa bertanya-tanya karena memang ini kebijakan baru. Bukan hanya mahasiswa, beberapa dosen yang berperan sebagai pembimbing belum mendapatkan informasi terkait pelaksanaan program tersebut. sehingga telihat bahwa pihak laboratorium belum matang dalam mempersiapkan program.

Poin keempat adalah ada apa dengan Lima Mei ? Diungkapkan secara online, Ibu Umi Baroroh menyatakan bahwa tidak ada alasan yang baku terkait pemilihan tanggal lima Mei sebagai batas akhir pengumpulan formulir pendaftaran PLP KKN. Dilihat dari sudut pandang kalender akademik seharusnya program ini dilaksanakan pada semester antara, namun wajar bila banyak mahasiswa yang menyatakan adanya percepatan program. Saat diwawancarai sendiri Ibu Umi menegaskan bahwa tidak ada percepatan program, adanya pengadaan program. Menurut kalian gimana ?

Pada 25/04/20 melalui Grup Whatsapp Ketua Kelompok PPL Micro, Ibu Umi Baroroh selaku memberikan pernyataan, “Kalau sikon masih pandemi Covi 19 maka untuk PLP KKN Integratif regular ditiadakan, Non-Reg itu jalan keluar, bukan paksaan, diadakan karena sikon darurat bencana dll”. Pernyatan beliau seputar KKN Non-Reguler sangat berbanding terbalik ketika kami melakukan wawancara melaui Whatssapp, beliau mengunkapkan bahwa pelaksanaan program ini telah sesuai dengan kalender akademik, faktanya kalender akademik hari ini adalah mahasiswa angkatan 2017 masih melaksanakan kegiatan pembelajaran dan akan mengadakan UAS setelah Hari Raya Idul Fitri, lantas yang dimaksud sesuai itu seperti apa ? (AL)




Komentar

  1. Kritik yang bagus. Tentunya Semua orang punya alasan untung tindakan yang diambilnya. Cobalah beri kami berita yang lebih menenangkan lagi

    BalasHapus
  2. Kritikan yang luar biasa tertuju pada fakultas tarbiyah. Nampak kebijakan belum paten dari para penentu kebijakan terkait pelaksanaan PLP KkN integratif, yang kemudian menyebabkan ketipakpastian para calon peserta.
    Ditengah pandemi seperti ini sudah barang tentu pengambilan kebijakan yang tepat dan cepat di butuhkan,. Entah itu dipercepat atau diundur tentunya sudah melalui berbagai pertimbangan.
    Harapan saya, semoga pandemi segera berakhir dan dapat berjalan normal,.. Bila kemungkinan buruk terjadi, maka pihak fakultas harus sigap dan tepat dlm memberi kebijakan sehingga tidak menimbulkan tanda tanya bagi para calon PLP KKN integratif. Sosialisasi yang cepat terkait perubahan kebijakan harus tersebar secara menyeluruh, supaya tidak menimbulkan multitafsir dikalangan mahasiswa.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Garis Waktu

Judul               : Garis Waktu Jenis                : Kumpulan Cerita Penulis             : Fiersa Besari Penerbit           : Media Kita Cetakan           : VII, 2017 ISBN               : 978-979-794-525-1 Fiersa Besari merupakan sosok pemuda kelahiran Bandung yang akrab dipanggil "bung" dan ternyata lulusan Sastra Ingris tapi lebih suka mengaku lulusan sastra mesin. Bung ini dikenal sebagai Penulis, Penggiat Musik, Pengelana, dan Penangkap Jejak. Sekembalinya dari perjalanan mengelilingi Indonesia dalam rangka mencari jati diri, Bung mulai mengumpulkan tulisannya menjadi sebuah buku yang kemudian diberi judul "Gari...

Belajar Hingga Akhir Hayat

sumber gambar: membumikan-pendidikan.blogspot.com Oleh: Kodri Syahnaidi, Mahasiswa PBA 2015 “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat”. Demikianlah urgensi menuntut ilmu (belajar) yang dianjurkan Rasulullah. Belajar merupakan sebuah kebutuhan bagi setiap manusia.  Karena sebagai manifestasi rasa syukur terhadap anugerah akal pikiran yang hanya bisa digunakan melalui proses pembelajaran. Selain itu, belajar juga dapat mengasah kecerdasan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Belajar juga dapat meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) agar dapat mengelola alam sebagai khalifah (wakil Tuhan) di dunia. Proses pembelajaran pertama kali dilakukan oleh Allah dan Nabi Adam ketika diciptakan. Sampai hari ini proses pembelajaran masih berlangsung di berbagai belahan dunia. Proses pembelajaran sepatutnya berlangsung terus-menerus hingga akhir hayat. Secara formal, pendidikan itu dimulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi. Perguruan tinggi  merupakan t...