Balkon ini adalah tempat bagi kenangan. Seperti halnya waktu itu. Ashar telah lama lewat, dan aku masih terpaku menatap ke barat, menggantungkan satu lagi kenangan di sana. Kadang ketika hal itu terjadi, ada sebuah sesal yang selalu menggantung di ujung lidah. Tentang sebuah pencarian tentang hakikat cinta. Ah sudahlah, aku sudah muak.
Ada sebuah waktu dimana bibirku bergetar, berusaha merinai sebuah kidung tentang kejora. Penuh peluh dan keluh, tapi tetap utuh. Sengak memang, tapi biarlah. Toh, tidak ada yang mendengar. Aku pun tak bermaksud merinai kidung ini untuk seseorang. Kidung ini adalah satu-satunya bukti bahwa aku masih berwujud manusia.
Sayang, ketika aku merinainya, bukan jawaban yang kuterima, melainkan kesunyian yang teramat dalam.
“Cantikkah
aku?” tanyaku pada hati.
“Cantik? Haha? Lihat wajahmu busuk!”
Yang dikatakannya memanglah benar. Siapa pula yang mau mengakuiku cantik, sedang hatiku sendiri tidak. Dengan wajah koreng dan borok di sana-sini dan juga bibir yang telah robek, pantaskah diriku disebut cantik? Disebut manusia pun tidak, kurasa.
Besok adalah hari terakhirku hidup. Buat apa juga aku hidup lama-lama. Tidak ada sama sekali yang mecintaiku. Orang tuaku? Hah, mereka malah memilih pergi. Setelah perceraian itu yang membuatku tahu bahwa aku adalah hasil hubungan Mama sebelum menikah, mereka pergi begitu saja. Katanya sih, Mama pergi kerja, tapi hingga sekarang wanita itu tak kembali.
Lihatlah! Balkon ini pun sudah berkarat, seperti halnya wajahku yang dipenuhi dengan kusta dan jerawat. Dimana-mana ada nanahnya.
Mentari di ujung barat sana kian redup. Rona senjanya kian sirna, menyisahkan bintang kejora. Senyumku sedikit merekah melihatnya. Meski pematang sawah yang nyaris menyalin utuh cakrawala orange, menawan, aku lebih suka menatap kejora. Entahlah, mungkin karena namaku juga Kejora.
Naas, binar bintang kejora, tak sebinar wajahku. Dia menarik banyak orang untuk melihatnya, sedangkan wajahku malah sebaliknya. Kejora selalu ditemani senja yang indah, dan aku hanya ditemani kesunyian. Benar-benar memilukan.
Karena
itulah, aku berniat untuk mati besok. Agar aku pun bisa menjadi kejora sejati
yang ditemani senja. Mati juga bisa menjadi jalan untuk bertemu dengannya –
satu-satunya cinta yang kumiliki.
“Besok
kita akan bertemu, sayang,” lirihku.
Tanganku merengkuh guling yang bergambar anak bayi. Hangat kurasa, meski ia tak bernapas. Ruangan yang hanya berkisar 3x3 ini sudah lengkap dengan peralatan balita, bahkan sudah ada tempat tidurnya di ujung, dan dengan itulah aku mati besok. Tadinya aku mau mati saat itu juga - ketika para preman itu mengambil kesucianku. Tapi ketika sebuah kabar tersempil di telingaku, bahwa ada kehidupan lain di rahim ini, aku mengurungkannya.
Dengan sabar kunanti ia datang. Pernak-pernik hiasan bayi sempurna menempel di dinding. Berpuluh mainan dan pakaian telah terususun rapi di lemari. Kini yang aku lakukan tinggal menunggunya keluar lalu mendengar tangisnya. Aku tak peduli jika ada yang bilang dia anak haram, yang terpenting aku menyayanginya sepenuh hati. Dan kelak ia akan menyangiku juga.
Setiap malam, kusempatkan untuk mengikuti kajian. Meski hujan kerap menghadang dan telinga pekak karena guntur, kupaksakan untuk hadir. Awalnya aku hadir demi makanan yang tersedia di sana, demi memperbaiki gizi agar bayi ini sehat. Namun ketika telingaku tersanjung akan sebuah untaian kata yang keluar dari bibir pendakwah, seketika itu hati ini tersadar. Bayi ini juga butuh gizi religi.
Mulai
saat itu, langkah kaki ini memiliki dua tujuan ketika datang ke pengajian.
Malang, kini tiada satu pun orang yang datang. Ustadz pun tak telihat batang
hidungnya.
“Apa
gara-gara hujan?”
“Ck .... sudah tak dapat kajian, kini
tak juga dapat makanan.”
Hujan kian lebat, menyisahkan semilirnya angin
yang kian membuat kantuk. Aku mendengus bosan.
“Mungkin perpustakaan bisa sedikit mengusir
kebosananku.
***
Sepertinya
waktu itu adalah waktu yang terindah. Dimana semuanya ku perjuangkan untuknya.
Tetapi sesaat setelah pulang dan menaruh buku dari perpus, ternyata Tuhan juga
mengambil kandunganku. Hujan membuat balkon rumah licin dan membuatnya keluar
dari rahim sebelum waktunya.
Aku
tak bisa menahan tangis. Semua gigiku beradu, meringis, menahan tangis. Sebisa
mungkin aku berdiri, tapi gagal. Beningnya air hujan berganti menjadi merah.
Segarnya bau debu berganti menjadi anyirnya darah.
“Tolong!”
Percuma. Derai air yang begitu deras berhasil meredam semua suara. Sebisa mungkin aku merangkak, meraih HP butut di meja.
Itulah kenangan yang selalu kuutarakan pada kejora. Kala aku terbangun, bayi itu telah hilang. Tuhan telah mengambilnya. Lantas untuk apa aku hidup? Satu-satunya harapan untuk membuat seseorang menyayangiku telah lenyap. Maka sebaiknya aku lenyap pula dari dunia ini.
Malam
kian membahana. Dendangan sholawat terdengar dari segala juru. Nampaknya malam
ini adalah malam Jum’at. Di malam ini, aku berencana untuk tak tidur. Besok
sudah saatnya. Tali gantung pun sudah terikat kuat di rumah ini. Oh ya,
alangkah baiknya jika kukembalikan buku itu. Buku yang kupinjam dari
perpustakaan masjid tempo hari.
Tak
berpikir panjang lagi, aku menuju ke masjid. Irama sholawat terdengar syahdu di
tengah heningnya malam. Merdunya suara ustadz kian membuat suasana menjadi
khidmat. Bisik-bisik suara serangga tersamarkan oleh gelak tawa anak-anak
remaja. Suaranya berasal dari masjid. Aneh. Biasanya orang tua yang menghadiri
pengajian.
“Sepertinya ada pengajian buat remaja,” gumamku.
Kala aku masuk ke halaman masjid, pandangan yang tak biasa terlihat. Serambi masjid dikerumuni oleh muda-mudi, ada juga beberapa orang tua. Sebuah pemandangan yang selama ini tak pernah kulihat. Rasa penasaran begitu saja merangsek dalam benakku.
“Ok lah, lagian besok aku akan mati. Hitung-hitung ini pengajianku yang terakhir. Lagian
kelihatannya ustadznya asyik.”
Seorang
pemuda memberikan selembar kertas sholawat beserta terjemahannya. Aku hanya
menoleh sekilas dan menerimanya. Seorang pemuda yang lain turut memberikan
sekotak snack dan minuman. Aih, sudah lama sekali aku tak mengharapkan makanan
seperti ini lagi.
Mataku
menyapu pandang, mencari posisi paling pas dan dekat dengan perpustakaan. Biar
nanti setelah pengajian, buku ini bisa langsung aku kembalikan.
***
Senja
kembali membasuh. Rona jingganya menyepuh seluruh bumi. Indah nian. Aku
termangu menatap kejora. Harusnya sekarang aku mengakhiri hidup. Namun entah
mengapa keinganan itu menghilang setelah mendengar pengajian semalam. Ternyata
masih ada yang mencintaiku. Seseorang yang diutus oleh-Nya.
Ketika
sayup-sayup sholawat mengiringi seruan dakwah itu, aku tak kuasa untuk menahan
tangis. Syair itu. Syair sholawat yang kupegang. Itulah syair bintang yang
paling indah. Sholawat Kawakib.
Selagi bintang masih bercahaya, semoga rahmat ta’dzim
Allah tercurah kepada Ahmad yang sebaik-baiknya pengendara unta.
Aku
tak tahu harus berbicara apa lagi. Setelah mendengar bahwa Nabi Muhammad selalu
mencintai umatnya. Bahkan ketika beliau wafat, beliau selalu dan selalu
menyebut umatnya. Dengan menahan sakit yang amat pedih, Nabi memohon agar semua
sakit sakarotul maut umatnya ditanggung oleh dirinya sendiri.
“Bagaimana
mungkin aku menjudge bahwa tak ada lagi yang mencintaiku?”
Malam
itu, aku tak hanya menangis mendengar kisah hebat itu. Bulu kudukku bergidik
ketika mendengar bahwa kelak di yaumul akhir tak akan ada yang peduli
dengan orang lain. Semuanya. Bahkan orang tua sekalipun akan menghiraukan
anaknya, mereka hanya mementingkan dirinya sendiri terlebih dahulu agar
selamat. Tapi tidak bagi Nabi.
Dengan
susah payahnya beliau berhujud di bawah arsy meminta kepada Sang Kholiq
agar umatnya diampuni dan dimasukkan ke surga. Lalu bagaimana mungkin aku tak
berterima kasih kepadanya? Beliau mati-matian membela Allah agar hidayah-Nya
sampai kepadaku. Maka aku pun harus meneruskannya. Mati bukanlah jawabannya.
Akhirnya kidung
pada penghujung hari ini berubah menjadi syair.

Komentar
Posting Komentar