Memaknai Waktu Andai waktu adalah peta pencarian jalan Maka seharusnya tangan tak meraba lebih jauh Angan tak lamban berpikir, apalagi merenung Sedang lorong-lorong begitu bisu membaca ingin Aku berdiri di tengah musim keputus-asaan Aku mencari tempat berteduh pada sekian benci dan dendam Barangkali waktu sedang memilin-milin kulitnya Agar kelak dia berbaring tenang tanpa hembusan nyawa Setelah itu, masihkah aku harus memaknai sekian ingatan dan perasaan Sementara huruf-huruf tak mampu mewakili imajinasi Hanya berakhir di ujung pisau, cukup selesai Sebab pada lelah segala hidup berakhir Maka jangan panggil aku seorang penyair Aku hanyalah seseorang yang diperbudak waktu Tak lebih dari segumpal jiplakan arwah Yang kelak akan musnah oleh angin dan hujan Tak akan ada lagi cinta bagi daun yang kering, malam yang dingin Andai waktu dapat diminta, maka jangan kembalikan masa kemarin Ambillah arwahku sebagai tumbal bagi panasnya jalan-jalan ...
Menuju Transformasi Pendidikan