Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

Senja Usia dalam Ingatan

Memaknai Waktu Andai waktu adalah peta pencarian jalan Maka seharusnya tangan tak meraba lebih jauh Angan tak lamban berpikir, apalagi merenung Sedang lorong-lorong begitu bisu membaca ingin Aku berdiri di tengah musim keputus-asaan Aku mencari tempat berteduh pada sekian benci dan dendam Barangkali waktu sedang memilin-milin kulitnya Agar kelak dia berbaring tenang tanpa hembusan nyawa Setelah itu, masihkah aku harus memaknai sekian ingatan dan perasaan Sementara huruf-huruf tak mampu mewakili imajinasi Hanya berakhir di ujung pisau, cukup selesai Sebab pada lelah segala hidup berakhir Maka jangan panggil aku seorang penyair Aku hanyalah seseorang yang diperbudak waktu Tak lebih dari segumpal jiplakan arwah Yang kelak akan musnah oleh angin dan hujan Tak akan ada lagi cinta bagi daun yang kering, malam yang dingin Andai waktu dapat diminta, maka jangan kembalikan masa kemarin Ambillah arwahku sebagai tumbal bagi panasnya jalan-jalan ...

Natas Kunjungi LPM Paradigma

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Natas Universitas Sanata Dharma melakukan kunjungan ke LPM Paradigma di kantornya, Student Center (SC) UIN Sunan Kalijaga, Jum'at (26/08). "Kami mau ngasih produk majalah," ujar Benediktus Fatabun atau akrab disapa Benfa. Ia menceritakan, salah satu laporan dalam majalah tersebut mengangkat isu sensitif tentang perlakuan diskriminatif yang menimpa orang-orang Papua. "Butuh dua tahun untuk melakukan reportase ini," ungkap laki-laki asal Papua itu. Reportase tersebut menjadi Laporan Utama dalam Majalah Natas Edisi Januari-Juni 2016. Ditulis Pimpinan Redaksinya, Pandu Wiyoga, mengungkap tentang kematian warga Papua di Jogja yang tak pernah diusut tuntas oleh aparat. Benfa juga menambahkan, bahwa pengalaman dirinya dalam liputan juga mengisi rubrik Catatan Seorang Jurnalis. "Kebetulan sesuai dengan yang diangkat. Tapi untuk laporan mendalamnya, akan kami garap di edisi selanjutnya," ujarnya. Jum...

Tawaran Konsep Full Day School

Wacana full day school yang akan diterapkan Mendikbud Muhadjir Efendi menuai banyak pro-kontra. Padahal, full day school bukan hal baru di Indonesia. Sebelumnya, Pemerintah Jawa Tengah sudah menerapkan full day school pada sekolah jenjang SMA/sederajat (belum semua). Sistem full day school juga banyak diterapkan pada sekolah-sekolah Islam yang mempunyai mata pelajaran ektra seperti mata pelajaran yayasan atau pengetahuan ke-Islaman. Penerapan ini menunjukan bahwa full day school sudah mempunyai sekolah percontohan. Fakta selama ini pun menunjukan bahwa belum ada berita miring terkait full day school di Indonesia, walaupun sistem ini mempunyai sisi positif dan negatif. Full day school mempunyai sisi positif. Dari sudut pandang siswa, full day school dinilai dapat mengurangi potensi kenakalan pelajar karena kegiatan anak mudah terpantau, sementara guru juga akan lebih mudah mengontrol perkembangan siswa. Bagi guru, seperti yang dikatakan oleh Dirjen Kemendikbud Sumarn...

Katakan: I'm Journalist!

Malam Minggu lalu (20/08) saya menghadiri acara Inagurasi OPAK 2016 di depan poliklinik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saya berada di antara kerumunan mahasiswa dengan bermacam ekstensi, ada yang sok keren, sok aktivis, dan sok-sok yang lain yang seakan-akan suasana dibuat waa sedemikian rupa layaknya sebuah demonstrasi; bedanya hanya demonstrasi diri. Bagaimana rasanya jika seorang jurnalis berada di antara kerumunan orang-orang seperti itu? Sebagai orang yang berjiwa kebenaran tentu akan goyah, bergetar seakan tidak memiliki tempat dalam suasana yang manipulatif dan hura-hura belaka. Akhir-akhir ini kita masih mendengar perbincangan tentang kasus terbunuhnya seorang wartawan Udin yang dibunuh karena sebuah berita yang dia luncurkan ke media massa. Tentu dari sana kita bisa merasakan bahwa seorang wartawan Udin (jurnalis) bersikap objektif dan netral terhadap sebuah fenomena tanpa memihak pada yang kuat sekalipun. Memang demikian tantangan seorang jurnalis, andai dia berjalan di ...

Mengembalikan Marwah Sekolah

Protes publik atas nasib yang dialami Sambudi, salah seorang guru di SMP Swasta di Sidoarjo, baru-baru ini meramaikan jagat sosial media dunia maya. Sambudi harus diajukan ke meja hijau oleh salah satu orangtua murid lantaran dituduh melakukan kekerasan—meski hanya mencubit—terhadap anak didiknya. Sambudi mencubit salah satu dari beberapa siswa yang ketahuan mangkir tidak melaksanakan kegiatan salat Dhuha. Padahal, kegiatan salat Dhuha itu merupakan kebijakan sekolah untuk menumbuhkan sikap bertaqwa kepada anak didiknya ( Media Indonesia, 28/6/2016 ). Kasus Sambudi barangkali satu dari sekian pelaporan orang tua murid atas tuduhan kriminalisasi yang dilakukan guru. Setahun lalu, kasus serupa juga dialami Nurmayati, Guru Biologi di salah satu SMP Negeri Bantaeng Sulawesi Selatan. Publikpun dibuat geram atas prilaku beberapa orang tua siswa itu. Berkembang asumsi bahwa selama dalam koridor mendidik, kekerasan boleh dilakukan oleh guru. Singkatnya, guru halal melaku...

Puisi-Puisi Anshori Ahmad Nasruddin

Di Sudut Jogjaku Mungkin kepakan sayap malaikat Yang terbentang di setiap langkah, telah berlalu Keelokannya terpatri di dasar bumi Tak berlaku pula bagiku Hening sesaat, roda waktu terus berputar Tak banyak ruang untuk menitipkan bayang Aku pun terbangun, membawakan seikat teratai Untuk kau tanam di setiap kelopak mata Bersama kemarau yang akan segera tiba Entah seperti apa ia akan hidup Biar cukup aku risalahkan di teras mimpi Ambarukmo, 14 September 2014 Seuntai Pagi Kau yang membangunkanku tadi malam Dengan sesungging keringat yang masih meleleh Dari telapak tanganmu Aku masih saja menggerutu, dengan sayap-sayap malaikat Yang menjadi nyanyian mimpiku Aku terhanyut di dekap waktu Yang terus menyuntingku Aku semakin terlelap Sedang kau terus berlari dengan langkahmu Sesekali meminta untuk kompromi Kau hanya menghela nafas sesaat O, malam yang masih memiliki segenggam rasa di ujung sana Biarkan aku pulan...

Membaca Puisi Himas Nur: Antara Aku, Kau dan Gigil itu

ANTARA AKU, KAU DAN GIGIL ITU Semoga diammu-diamku ialah jalan menuju September yang dulu Bukan diam yang menyebabkan rindu terhenti Bukan diam yang sebenar-benarnya mati 2015 Membaca puisi di atas kita terbayang pada dua orang pria dan wanita yang sedang menikmati sepi masing-masing. Bagaimana tidak, pada judul kita sudah dihadapkan dengan kata “Aku”, “Kau” dan “Gigil” yang berarti bahwa si aku (penulis) dan si kau (kekasihnya) sedang menggigil, kedinginan karena sepi dari pasangan masing-masing. Dingin oleh kenangan, bayangan dan harapan untuk selalu berdua. Kemudian kata itu dijelaskan pada baris pertama, penjelasan melalui do’a, // Semoga diammu-diamku ialah jalan menuju September yang dulu//, dalam diam oleh sepi kita adalah perantara untuk kembali pada ingatan tentang cerita September lalu, cerita kita berdua. Walaupun barangkali kita sudah putus, bahkan menutup muka masing-masing saat berpapasan. Diam adalah jalan dan penghibur kita dalam dingin yang menggigil. T...

Kemerdekaan Menuntut Komitmen Besar dari Kita

Kemerdekaan tanpa cinta artinya kemerdekaan tanpa komitmen, kemerdekaan yang belum berarti apa-apa bagi kita. Kemerdekaan tanpa cinta seperti lahan yang belum ditanami. Hal ini disampaikan Joko Pinurbo, saat melakukan orasi budaya dalam rangka memperingati kematian wartawan Udin 20 tahun lalu yang diadakan Aliansi Jurnalis Independent (AJI) dengan menggandeng beberapa aktivis, budayawan, pegiat seni dan pers mahasiswa di Tugu Pal Putih Yogyakarta, Selasa (16/08). Ia mengutip puisinya Chairil Anwar yang berjudul Kangen untuk menggambarkan kondisi 71 tahun setelah kemerdekaan. "Kau tak mengerti betapa kesepiannya aku menghadapi kemerdekaan tanpa cinta," katanya. Kemerdekaan tanpa cinta, menurutnya, seperti kemerdekaan tanpa komitmen. Tak lain, yang telah memberi komitmen pada kemerdekaan adalah martil-martil muda yang telah mati karena mereka berani hidup. Dan karena mereka berani hidup, maka berani mati. "Udin adalah salah satu martil muda yang menja...

Pernik Media Online dan Media Sosial

Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, KOMINFO RI menyelenggarakan diskusi Editors Meeting pada Kamis, 18/08/2016. Diskusi tersebut diadakan di Ballroom Harper Mangkubumi Hotel, Yogyakarta pada pukul 12.00 WIB.   Tema yang diusung yaitu "Untuk Publik Demi Republik". Peserta diskusi terdiri dari Pimred Media cetak, online, dan elektronik, Kepala Biro Media Nasional,   Project Directur Stasiun Radio,   dan Pers Mahasiswa dari berbagai kampus. Diskusi tersebut dimoderatori oleh Brita Laura dari Metro TV. Konsep yang dipakai berbeda dari biasanya. Secara umum diskusi diisi oleh pemateri lalu berakhir dengan tanya jawab. Namun kali ini diskusi lebih hidup dengan kebebasan berpendapat untuk peserta. Prinsipnya, siapapun bisa menjadi narasumber. Berbagai silang pendapat pun terjadi antara peserta maupun narasumber. Salah satu paparan datang dari salah satu narasumber bernama Lukman, "Kini, orang-orang lebih cepat tahu dari sosial media daripada TV/r...